K.H. Hasyim Muzadi: Ulama Organisatoris, Promotor Islam Moderat

0
168

BincangSyariah.Com – Tanggal 16 Maret 2017, dua tahun lalu, K.H. Hasyim Muzadi, salah seorang ulama besar Indonesia tutup usia di umurnya 72 tahun. Tahun ini, adalah tepat dua tahun hari wafatnya salah satu tokoh bangsa ini. Saat wafat, beliau memiliki jabatan di Pemerintahan yaitu salah seorang Dewan Pertimbangan Presiden di Era Pemerintahan Presiden Joko Widodo.

K.H. Hasyim Muzadi dilahirkan di Bangilan, Tuban, Jawa Timur, 8 Agustus 1944. Ia adalah putra dari pasangan H. Muzadi dan Hj. Rumyati. Ia adalah adik dari K.H. Abdul Muchit Muzadi, sesepuh, sejarawan organisasi Nahdatul Ulama, serta murid langsung pendiri NU Hadhratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Kyai Muchit adalah kyai yang seringkali terus menjelaskan apa sebenarnya khittah perjuangan Nahdatul Ulama. Dalam sebuah biografi Kyai Muchit, disana bahkan dijelaskan bahwa ialah yang mendorong sang adik, Hasyim, untuk bergabung di Nahdatul Ulama sejak masih belia.

Pendidikannya sejak belia dihabiskan di Madrasah Ibtidaiyah, kemudian sempat masuk Sekolah Dasar dan satu tahun di SMP. Ia tidak melanjutkan pendidikan SMP, melainkan pindah ke Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo, Jawa Timur mulai dari tahun 1956-1962. Setelah dari Gontor, ia sempat mesantren di beberapa Pesantren lain yaitu Pesantren Senori, Tuban, Jawa Timur dan Pesantren Lasem, Jawa Tengah. Kemudian beliau melanjutkan pendidikan di tingkat Universitas di IAIN Malang, Jawa Timur di tahun 1969. Di tahun 2006, beliau menerima anugerah Doktor Honoris Causa dari IAIN Sunan Ampel Surabaya di bidang Peradaban Islam

Berorganisasi dari Akar Ramput

Bisa dikatakan, karir organisasi Kyai Hasyim – khususnya di Nahdatul Ulama – benar-benar mulai dari bawah sekali. Meskipun data yang dilansir viva.co.id, beliau bergabung di NU ketika menjadi Ketua Ranting NU Bululawang Malang; kemudian menjadi Ketua Anak Cabang Ansor Bulu Lawang (1965); Ketua Cabang PMII Malang (1966); Ketua Cabang GP Ansor alang (1967-1971); Wakil Ketua PCNU Malang (1971-1973); hingga Ketua PCNU Malang (1973-1977).

Baca Juga :  "Futuhat Al-Asrariyah" dan Polemik "Wahdatul Wujud" di Palembang 

Di periode 70-an – 80-an, beliau juga aktif di Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Mulai menjadi ketua DPC PPP Malang (1973-1977) hingga menjadi Anggota DPRD baik Tingkat II (Kabupaten Malang) dan Tingkat I (Provinsi Jawa Timur) perwakilan PPP.

Di tahun 80an hingga pasca reformasi, tangga perkhidmatan di NU juga terus menanjak. Mulai dari Ketua PW GP Ansor Jawa Timur; Ketua PP GP Ansor (1985-1987); Sekretaris PWNU Jawa Timur (1987-1988); Ketua PWNU Jawa Timur (1988-1992); hingga di tahun 1999 menjadi Ketua Umum PBNU selama dua periode (1999-2010) untuk menggantikan Gus Dur yang terpilih sebagai Presiden Indonesia ke-4.

Di tahun 2004, ia sempat digandeng oleh Megawati Soekarnoputri untuk maju bersama dalam Pemilihan Umum sebagai Presiden-Wakil Presiden. Namun, duet Mega-Hasyim ini kalah dengan kemenangan SBY-Kalla. Di tahun 2014, ia ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo sebagai Dewan Pertimbangan Presiden sampai wafatnya di tahun 2017.

Kyai dengan Langkah-Langkah Internasional

Bisa dikatakan, Kyai Hasyim adalah diantara sosok yang mendorong agar Nahdatul Ulama terus percaya diri untuk tampil dan berperan di kancah internasional.

Di tahun 2004, bersama Menteri Luar Negeri masa itu, Hassan Wirajuda, ia mendirikan International Conference of Islamic Scholars, sebuah organisasi yang mewadahi dialog dan pertemuan lintas agama, sebagai upaya untuk rekonsiliasi relasi Islam dan masyarakat Barat pasca Serangan 11 September.

Ketika Amerika mengumandangkan perang terhadap Afganistan pasca serangan 11 September, ia menolak sjakan-ajakan untuk berjihad ke Afganistan. Menurutnya, kejadian di Afganistan bukanlah sebuah tragedi keagamaan, tapi ia adalah permasalahan kemanusiaan. Mendorong untuk mengembangkan masyarakat muslim dan Islam agar terus berkembang dan damai adalah bagian dari jihad.

Baca Juga :  Mengenal Syekh Mahfudz Al-Tarmasi: Ulama Pacitan yang Mengajar Di Masjid Al-Haram

Menurut pengakuan Khofifah Indar Parawansa, ketua Muslimat NU dan Gubernur Jawa Timur saat ini, sosok Kyai Hasyim sulit dicarikan gantinya di NU karena begitu lamanya beliau berorganisasi di NU sejak ditingkat paling bawah. Menurut Khofifah, “sehingga pemahaman tentang apa itu NU dan bagaimana format pergerakannya (beliau tahu betul), rasanya tidak mudah mencari gigus, tokoh dan pejuang sedalam dan seluas beliau”, seperti disampaikan pada acara Haul ke-1 Kyai Hasyim di Pesantren al-Hikam, Malang. Pesantren yang juga didirikannya di Depok, Jawa Barat (berdekatan dengan Universitas Indonesia).

Masih menurut Khofifah, Kyai Hasyim seringkali diminta menjadi juru damai dan dialog di setiap daerah-daerah konflik bahkan di wilayah di Internasional, mulai dari konflik di Thailand (Selatan); Moro (Filipina); bahkan Libanon.

Mempromosikan Islam Moderat, Menolak Liberalisme

Ia menolak gagasan liberalisme. Menurutnya yang tepat adalah Islam yang moderat, bukan liberal. Salah satu alasannya menolak gagasan Islam Liberal adalah kecenderungannya yang serba “membolehkan” segala sesuatu. Ia juga mengkritik sejumlah aktivis dan anak muda NU yang mulai terseret ke arus liberalisme. Meskipun demikian, ia menolak agar ada pelarangan gagasan liberal dengan tangan negara, namun ia mendorong munculnya forum-forum untuk mendiskusikan dan melakukan debat terkait dengan isu-isu liberalisme tersebut.

Dimakamkan di Pesantren

Di awal tahun 2017, Kyai Hasyim sempat sakit setelah kunjungan padat ke beberapa daerah di Indonesia dan kembali dari Australis. 6-17 Januari, beliau sempat dirawat di Rumah Sakit Lavalette, Malang namun akhirnya dibolehkan pulang karena dianggap sudah sehat.

Namun, 11 Maret 2017, beliau kembali dirujuk ke rumah sakit. Namun, beliau memilih pulang dua hari sesudahnya dan memilih dirawat di rumah. Beliau menghembuskan nafas terakhirnya di 16 Maret 2017, di Malang, Jawa Timur. Beliau kemudian dimakamkan di Pesantren al-Hikam, Depok, pada hari yang sama. Proses penguburan dipimpin langsung oleh Wakil Presiden Indonesia, Jusuf Kalla.

Baca Juga :  Mengingat Allah di Manapun Berada

Sebelum wafat, ia sempat berujar kepada para santrinya untuk menempelkan sebuah potongan kata-kata dari kitab al-Hikam Ibn ‘Athaillah As-Sakandari di salah satu dindingnya. Bunyinya adalah, “istirahatkanlah dirimu untuk mengatur apa yang sudah dalam ketetapan-Nya. Apa saja yang sudah diatur oleh selainmu, maka kamu jangan ikut mengaturnya untuk dirimu”.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here