K.H. Habib Utsman Alaydrus: Kyai Barokah Perintis Universitas NU di Bandung

0
253

BincangSyariah.Com – Bagi masyarakat Jawa Barat, khususnya wilayah Bandung, K.H. Habib Utsman Alaydrus adalah salah satu berpengaruh dalam bidang pendidikan dan sosial. Dalam bidang pendidikan, beliau mendirikan Yayasan Lembaga Pendidikan Assalam Bandung yang terdiri atas jenjang kanak-kanak sampai menengah atas. Ia juga merintis Universitas Nahdlatul Ulama (UNNU) yang kelak menjadi cikal bakal berdirinya Universitas Islam Nusantara (UNINUS).  Beliau juga terpilih sebagai Dewan Anggota Kurator di Universitas Islam Bandung (UNISBA) pada periode 1962-1985.

Dalam bidang sosial kemasyarakatan, beliau adalah Rais Syuriah Nahdatul Ulama (NU) Bandung periode 1950-1955 dan Rais Syuriah PWNU Jawa Barat periode 1960-1970. Selesai periode jabatannya, ia mulai fokus dalam membangun yayasan Assalam dan menjadi salah satu ulama rujukan bagi masyarakat Bandung. Masyarakat Bandung menyebutnya sebagai Kyai Barokah. Lantas apa yang melatarbelakangi sebutan tersebut?

Habib Utsman Alaydrus

Nama lengkapnya adalah Habib Utsman bin Husain bin Utsman bin Abdurrahman Alaydrus.  Beliau lahir di Bandung pada 1 Ramadhan 1329 H/1911 M. Meskipun seorang sayyid, itu tidak menghalangi beliau untuk belajar kepada ulama-ulama di masanya dari kalangan non-sayyid. Semasa hidupnya, beliau pernah belajar di pesantren Guntur, Cianjur, yang diasuh oleh KH.Ahmad Syatibi. Pesantren lama ini telah mencetak beberapa generasi Ulama yang cukup populer di Indonesia, salah satunya K.H. Ahmad Sanusi Sukabumi.

Keseharian Utsman saat nyantri di Cianjur, ia disegani oleh beberapa kawan dan gurunya karena Utsman adalah seorang habib. Namun, perilaku Utsman menghormati sang guru. Sebelum subuh, hobinya ialah mengisi air bak untuk wudhu dan mandi Kyai Syatibi. Menurut Wahyu Afif dalam tulisannya yang berjudul Manaqib Habib Utsman Al-Aydrus:Tokoh NU Jawa Barat, berdasarkan wawancara dengan putra Habib Utsman, Syarif Muhammad Alaydrus, sang ayah telah mengkhatamkan al-Quran lebih dari enam ribu kali. Dalam satu hari, minimal mengkhatamkan dua kali, dan khusus di bulan Ramadhan sebanyak enam puluh kali.

Baca Juga :  Shalat Berjamaah Empat Mazhab di Mekkah Tempo Dulu

Selain itu, ia selalu santun terhadap anak-anak yatim dan dhuafa. Menurut Syarif, dimulai dari tahun 1952, Utsman aktif melakukan kegiatan dan acara-acara penting bersama puluhan anak yatim. Ia menyekolahkan dan membiayai kebutuhan mereka di pesantren atau sekolah. Setiap harinya, ia rajin mengundang para anak yatim berkumpul di depan rumahnya kemudian ia mengusap dan mencium mereka. Tak hanya itu, Utsman sering mengajak para anak yatim untuk menemui para guru dan ulama dan meminta doa dari mereka.

Habib Utsman kjuga gemar menulis beberapa kitab berbahasa Sunda seputar ibadah. Selain itu, banyak tulisannya yang rutin diterbitkan di beberapa buletin. Semua tulisannya ia kumpulkan menjadi sebuah buku yang berjudul Panggilan Selamat, karya lainnya yaitu Sumber Peradaban, al-Muslih, dan Tutungkusan.

Menurut Wahyu, penghasilannya ia khususkan untuk para anak yatim dengan rutin mengadakan pengajian bulanan bersama anak yatim piatu dan dhuafa di pesantren Assalam. Sampai saat ini, Assalam Bandung telah berkembang dengan pesat dengan berbagai aktivitasnya dari mulai Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai sekolah formal kejuruan. Assalam pun memiliki panti yatim piatu, jamaah perempuan bernama WPWA (Wadah Pendidikan Wanita Assalam), dan lain-lain. Menurut informasi yang didapatkan oleh Wahyu, ia membina pengajian majlis para muslimat di 200 masjid seputar Bandung.

Beliau dikenal sebagai tokoh di kalngan Nahdatul Ulama dan menjalin persahabatan dengan ulama di masanya seperti K.H. Idham Chalid, H.Subhan ZE, K.H. Anwar Musaddad, K.H. Saifuddin Zuhri, K.H. Burhan, K.H. Moch. Dachlan, dan K.H. Mahbub Djunaidi. ia pun menjalin hubungan dekat dengan para tokoh pesantren diantaranya H.Abdullah Tubagus Falak Pagentongan, KH.Abdurrahman Banten, dan KH.Tubagus Bakri (Mama Sempur).

Baca Juga :  Mengenal Sosok Guru Sekumpul, Haul Beliau ke-14 Dilaksanakan Mulai Hari Ini

Shalawat Nariyah Penyembuh Kanker

Saat acara haul ke 32 Habib Utsman pada 29 Maret 2016 yang dilaksanakan di Sasak Gantung, Bandung, Syarif Muhammad Alaydrus, putra Utsman, menceritakan kisah seorang anak berumur delapan tahun yang terkena kanker dan ia divonis tidak akan bisa bertahan hidup lebih dari dua bulan. Usaha ibunya cukup kuat dengan membawa anak tersebut ke beberapa negara diantaranya Singapura dan Jerman.

Kemudian, setelah mencoba melakukan pengobatan di Indonesia dan luar negari, salah satu dokter kepresidenan bernama dr. Misbah mencoba untuk melakukan tindakan medis sambil mengusahakan pergi bersilaturahmi ke para Ulama di Jakarta. Setelah mencari dan berkunjung ke beberapa rekomendasi, ibunya menemui K.H. Syafi’I Hadzami.

K.H. Syafii Hadzami adalah ulama besar NU di Jakarta. Kyai Syafii bukan tak kuasa saat itu, melainkan ia memiliki firasat bahwa Habib Utsman Alaydrus Bandung mampu mengobati pasien tersebut. Setelah sang ibu bertemu Habib Utsman, Habib Utsman membacakan shalawat Nariyah sebanyak 4444 kali di ruangan khusus dan memberikan satu gelas air yang relah dibacakan shalawat untuk diminum dan dipercikan pada kepala anak yang terkena kanker otak itu. Seminggu setelah itu, sang anak kembali didiagnosa di rumah sakit dan membandingkan rontgen sebelumnya. Dengan izin Allah melalui keberkahan Habib Utsman, anak tersebut positif sembuh. Menurut Habib Syarief, anak tersebut adalah salah seorang dosen Universitas Indonesia yang meninggal dunia pada usia 25 tahun.

Makam Habib Utsman dapat ditemukan di daerah Taman Pemakaman Assalam dekat pasar induk Caringin Bandung. Pemakaman komplek tersebut banyak dari kalangan para Habaib dan Ulama serta murid-murid Habib Utsman, diantaranya H.Mahbub Djunaidi sebagai tokoh NU sekaligus ketua umum pertama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Baca Juga :  Tafsir Surah Yusuf 58-62; Nabi Yusuf Bertemu Kembali dengan Keluarganya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here