K.H. Ahmad Sanusi: Ulama Sunda Ahli Tafsir dan Pendapatnya Soal NKRI

1
2250

BincangSyariah.Com – Salah satu organisasi Islam yang pertama kali berkembang di Jawa Barat adalah Sarikat Islam(SI), yang berdiri pada 10 November 1912 di Surakarta. Bahkan di tahun 1913, organisasi ini telah berhasil menyebar luas di wilayah Jawa Barat diantaranya Bogor, Sukabumi, Bandung, Cimahi, Indramayu, dan Cirebon. Hingga satu tahun setelahnya, SI mulai menyebar ke daerah Tasikmalaya, Garut, Majalaya,Majalengka, Kuningan,Jatibarang, Ciamis dan Karangampel.

Salah satu Kyai Sunda yang memiliki peran aktif dalam organisasi ini adalah Ahmad Sanusi. Posisisnya di SI tidak mengulurkan waktu yang lama karena Sanusi berkiprah di pesantren peninggalan ayahnya yaitu Syamsul Ulum Sukabumi.  Di tengah masyarakat ia lebih dikenal sebagai ajengan yang ahli dalam ilmu agama. Padahal beliau pernah menjabat sebagai anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan). Bagaimana kiprahnya K.H. Ahmad Sanusi sebagai seorang ajengan yang sekaligus terpilih sebagai anggota BPUPKI?

Jaringan Guru dan Kiprah Organisasi K.H. Ahmad Sanusi

Ahmad Sanusi, salah satu ajengan kyai Sunda lahir  pada 3 Muharram 1306 H/18 September 1888M di desa Cantayan,Cikembar, Sukabumi,Jawa Barat. ia dilahirkan dari keluarga yang agamis. Ayahnya bernama Abdurrahim, dikenal sebagai ajengan pendiri pesantren Syamsyul Ulum. Semasa hidupnya, beliau mendirikan organisasi al-Ittihadijatoel Islamijjah (AII) sekarang dikenal sebagai PUI. Menurut Jajang A. Rohmana, ia mendapatkan ilmu agama di beberapa pesantren daerah Sunda diantaranya pesantren Sukamantri yang diasuh oleh ajengan Muhamad Siddik  Sukabumi, Pesantren Ciajag Cianjur,dan pesantren Gudang Tasikmalaya yang diasuh oleh ajengan Sija’I, pesantren Kresek Blubur Limbangan Garut selama tujuh bulan.

Maman Abdurrahman dalam bukunya Perjuangan Ahmad Sanusi Sukabumi mengungkapkan bahwa ia memiliki koneksi sanad keilmuan dengan Syaikh Khalil Bangkalan. Syaikh Khalil merupakan murid dari Syaikh Nawawi al-Bantani. Selama empat tahun lamanya sekitar tahun 1909-1914, ia banyak berguru ke beberapa ulama Nusantara disana diantaranya Syaikh Muhammad Garut Mukhtar, Syaih Salih Bafadil, Syaikh Sa’id Jamani, dan Syaikh Abdullah Zawawi. Syaikh Garut dan Syaikh Bafadil keduanya adalah guru tarekat Qadariyyah Naqsabandiyyah. Menurut Asep Shalahuddin dalam bukunya Sufisme Sunda Hubungan Islam dan Budaya dalam Masyarakat Sunda, Sanusi pernah mengatakan bahwa ia belajar hadis  kepada Syaikh Mahfud. Salah satu karyanya yang terkenal adalah Bughyat al-Rhagibin.

Disamping ia belajar di Mekah, ia aktif dalam melakukan komunikasi dengan para peuka ulama antar negara. Ia sangat peduli akan pentingnya persaudaraan antar umat dan mementingkan persatuan antar umat. Di Mekkah ia bertemu dengan K.H. Abdul Halim (1887-1962) ulama terkemuka di organisasi PUI. Halim pun aktif dalam organisasi SI yang saat itu menjadi organisasi pertama di Indonesia pada abad ke 20. Sanusi pun mulai diajak untuk berkontribusi di Sarikat Islam dan menjadikannya lebih kritis terhadap pembangunan negara. Kiprahnya dalam organisasi SI menimbulkan ketidaksukaan akibat kebijakannya dalam SI.

Baca Juga :  Sekali Lagi, Soal Islam Nusantara: Wilayah Barus Sebagai Titik Nol Islam Nusantara

Untuk merespon komentar masyarakat teresebut, Sanusi pun menulis sebuah buku yang berjudul Nahrat al-Dhurgam. Kitab tersebut menjelaskan tentang pembentukan Sarekat Islam dan kebijakan dalil al-Quran dan Hadis sebagai sumber bahwa SI pun harus menjalankan ajaran Islam yang mengikuti syariat. Selesai menimba ilmu di Mekkah, ia pun masih menjadi tokoh terpenting di organisasi SI di wilayah Sukabumi. Namun, posisinya di SI tidaklah lama, karena posisinya saat itu sebagai pengasuh pesantren dan ingin mengembangkan pembelajaran yang ia dapatkan di Mekkah tepatnya di Syamsyul Ulum.

Sanusi kembali ke tanah air dan ikut meneruskan perjuangan ayahnya di pesantren Syamsul Ulum. Lembaga ini telah dirintis oleh ayahnya sejak 15 April 1933. Tentunya, setelah Sanusi menimba ilmu di Mekkah, ia mencoba memberikan metode baru berupa halaqah dan bandungan (kajian kelompok). Hal ini dilakukan Sanusi untuk menjadikan para santrinya lebih kritis dan pandai berdiskusi.

Disamping terkenal sebagai lembaga kitab kuning, pesantren ini sangat menekankan Riyadhah al-Nafs berupa dzikir. Menurut Asep Saefullah dalam bukunya Tradisi Produksi Naskah Keagaman di Jawa Barat menjelaskan bahwa sebelum kegiatan belajar dimulai, ajengan memulai untuk melakukan zikir bersama dengan para santrinya. Berdasarkan wawancara penulis dengan salah satu santri Syamsul Ulum, Sanusi mendirikan pesantren kedua yang terletak di kampung Genteng, Babakan Sirna, Sukabumi. Secara metode, pesantrennya hampir sama dengan yang dibangun ayahnya.

Menjadi Anggota BPUPKI dan Pandangannya tentang Negara

Pada 28 Mei 1945, BPUPKI telah diresmikan oleh para Pemerintah Jepang yang bertempat di Gedung Cuo Sangi In yang sekarang resmi menjad Gedung Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Selain itu, peresmian ini dilanjutkan dengan acara pengibaran bendera Indonesia dan pelatikan para pengurus yang akan menajabat sebagai anggota dalam BPUPKI. Dalam buku Riwayat Perjuangan K.H. Ahmad Sanusi yang ditulis oleh Miftahul Falah menjelaskan bahwa Sanusi bukanlah anggota Chuo Sang In (anggota Badan Persiapan Urusan Kemerdekaan RI) namun ia sebagai Fuku Syucokan Bogor. Hal itu tidak menjadi masalah bagi Pemerintah Militer Jepang, mereka tetap mengangkatnya sebagai anggota badan tersebut.

Baca Juga :  Teladan Sifat Nabi untuk Perbaiki Moral Bangsa

Tentunya, keberadaan Sanusi bukan sebatas mendengarkan dan memberikan ide-idenya untuk negara Indonesia. Selama persidangan BPUPKI berlangsung, ia berani berdebat dengan para kelompok nasionalis. Ia berani untuk memberikan usul dan gambaran mengenai bentuk negara Indonesia merdeka yang ideal. Hingga semua pengetahuan yang telah ia lontarkan pun terungkap dalam persidangan BPUPKI tanggal 10 Juni 1945.

Pada tanggal tersebut, BPUPKI meggelar sidang dan topik yang diangkat adalah soal bentuk negara. Terjadi pertikaian antar kelompok dalam menginginkan negara Indonesia mengangkat sebuah kerajaan atau republik. Di tengah hasil persidangan, Sanusi mengutarakan pandangannya mengenai bentuk negara yang dapat disimpulkan sebagai berikut:

“Bentuk kerajaan memang sangat diterima oleh agama Islam ia pun dipuji oleh agama Islam. Tentunya, kita harus mengetahui terlebih dahulu bagaimana syarat dan ketentuan untuk mejadi seorang raja.(Sanusi mengutip ayat al-Quran dalam surat al-An’am) yang menjelaskan bahwa membangun negara dengan kerajaan sangatlah berat. Apabila seseorang menjadi raja ia sudah menjadi wakil mutlak daripada Tuhan. Saya setuju bahwa negar Indonesia mengangkat seoranb Imam untuk menjadi pemimpin. Karena untuk mengangkat seorang raja, perkataan tersebut dikhawatirkan menjadi Maswa yang artinya kelebihan atau akan membawa suatu akibat yang mendatangkan kelemahan dan perpecahan.”

Sidang BPUPKI kembali hadir  pada tanggal 11 Juli 1945. Kali ini merumuskan undang-undang dasar, pembelaan tanah air, dan ekonomi keuangan. Sanusi kembali melontarkan pendapatnya tentang kekuasaan di Indonesia harus dalam bentuk Imamat. Dalam sidang ini, pendapat Sanusi diterima oleh Radjiman Wediodiningrat meski dimasukan sebagai pilihan yang ketiga. Menurut Falah, Mohammad Yamin pun sangat keberatan jika Imamat sebagai salah satu bentuk negara yang dikenal masyarakat. Sanusi menegaskan kembali bahwa yang ia maksud adalah republik dan ia menolak kerajaan. Secara implisit, ia mengajak para anggota BPUPKI untuk meninggalkan bentuk kerajaan bagi negara Indonesia. Wallohu A’lam.

1 KOMENTAR

  1. […] Nama lengkapnya adalah Habib Utsman bin Husain bin Utsman bin Abdurrahman Alaydrus.  Beliau lahir di Bandung pada 1 Ramadhan 1329 H/1911 M. Meskipun seorang sayyid, itu tidak menghalangi beliau untuk belajar kepada ulama-ulama di masanya dari kalangan non-sayyid. Semasa hidupnya, beliau pernah belajar di pesantren Guntur, Cianjur, yang diasuh oleh KH.Ahmad Syatibi. Pesantren lama ini telah mencetak beberapa generasi Ulama yang cukup populer di Indonesia, salah satunya K.H. Ahmad Sanusi Sukabumi. […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here