K.H. Abdul Karim Lirboyo: Ahli Ilmu yang Menyembunyikan Kealimannya

0
145

BincangSyariah.Com – Dalam buku 3 Tokoh Lirboyo (2011) yang disusun oleh Tim Sejarah Pesantren Lirboyo disebutkan bahwa pada tahun 1856, lahir seorang anak bernama Manab. Manab adalah panggilan Kecil bagi KH. Abdul Karim Lirboyo. Ia adalah putra dari pasangan Abdur Rohim dan Salamah. Manab merupakan putra ketiga dari empat bersaudara. Kakak pertamanya bernama Aliman, yang kedua Mu’min dan adiknya bernama Armiyah.

Sang ayah adalah seorang petani dengan sepetak sawah.  Untuk menambah biaya hidup sang ayah juga berdagang. Dengan modal seadanya, ia memulai perjuangannya di Pasar Muntilan yang jaraknya 10 km dari arah tenggara Magelang.  Ketika jerih payah Abdur Rohim mulai tampak hasilnya, takdir berkata lain, ia dipanggil Allah untuk menghadap-Nya.

Perjalanan Intlektual KH. Abdul Karim

Setelah mendapat restu orang tuanya, tahun 1870, Manab muda ditemani sang Kakak pergi ke Jawa Timur dengan berjalan ratusan kilo. Sampailah ia di sebuah Dusun di Gurah Kediri. Namanya Babadan. Disinilah ia mulai belajar ilmu-ilmu dasar seperti amaliah sehari-hari kepada seorang Kiai.

Setelah dirasa cukup, ia melanjutkan perjalanannya ke sebuah pesantren di Cempoko, 20 km sebelah selatan Nganjuk. Tidak kurang dari 6 tahun lamanya ia belajar di pesantren ini. Kemudian ia dan kakaknya pindah lagi ke Pesantren Trayang, Bangsri, Kertosono. Di pondok inilah ia belajar Al-Qur’an dan mendalaminya.

Selanjutnya Manab dan Kakaknya disebuah pesantren yang terkenal dengan ilmu sharaf-nya di Sono, Sidoarjo. Di pesantren ini ia menghabiskan waktu hampir 7 tahun lamanya.  Karena ketekunannya dan penguasaan Manab atas kitab-kitab dasar nahwu-sharaf membuat tekadnya untuk mempelajarai kitab yang lebih tinggi, seperti al-fiyah ibnu malik.

Tak puas dengan apa yang diperolehnya, ia pun meninggalkan pulau Jawa. Ia belajar kepada Kiai Kholil Bangkalan yang ‘alim ‘allamah, hampir setiap cabang ilmu beliau kuasai baik itu fiqh, tafsir, hadis, atau pun tasawuf. (Baca: Nasihat Pendiri Pondok Pesantren Lirboyo Mengenai Ilmu dan Adab)

Baca Juga :  Nasihat Pendiri Pondok Pesantren Lirboyo Mengenai Ilmu dan Adab

Menjadi santri Kiai Kholil tidaklah mudah, ujian lahiriah dan bathiniah harus Manab telan. Tidak jarang selama mondok di Kiai Kholil, Manab harus makan sisa kerak nasi teman-temannya. Tapi itu semua tak pernah ia keluhkan. Dalam hal pakaian pun Manab hanya memiliki satu-satunya baju yang ia pakai.

Hari berganti hari, tidak terasa sudah hampir 23 tahun lamanya Manab belajar di pulau garam tersebut. Kesungguhannya dalam menuntut ilmu telah membuat ia menguasai berbagai macam bidang ilmu. Dinilai sudah cukup mumpuni, Mbah Kholil berkata kepada Manab, “Nab, baliya….ilmuku wes entek”perintah Kiai Kholil kepada Manab.

Karena tidak merasa puas, Kiai Manab belajar kepada Kiai Hasyim Asy’ari yang ahli dalam bidang hadits. Setelah kurang lebih 5 tahun, Kiai Manab dijodohkan oleh Kiai Hasyim dengan Nyai Khodijah putri Kiai Sholeh Banjarmlati Kediri. Pernikahan itu terlaksana pada tanggal 8 Shofar 1328 H / 1908 M.

Kiai Manab Membawakan Koper Santri

Suatu ketika, kejadian mencengangkan adalah ketika datang seorang santri baru. Saat santri baru itu turun dari kendarannya dan kebetulan Mbah Manab sedang berada dijalan. Karena penampilan beliau yang tidak seperti Kiai, santri baru tersebut meminta beliau untuk membawakan kopernya ke kamar. Kiai Abdul Karim pun merasa tidak keberatan.

Santri lain melihat kejadian ini kaget bukan main. Ketika adzan tiba, santri baru itu pun ikut jemaah. Ia kaget ketika melihat orang yang telah membawakan kopernya barusan menjadi imam. Konon, karena tak kuat menanggung malu, akhirnya santri tersebut keluar.

Wafatnya Kiai Abdul Karim

Kiai Abdul Karim wafat pada bulan suci Romadhon bertepatan dengan tanggal 21 Ramadhan 1374 H pada hari Senin sekitar pukul 13.30.

Baca Juga :  K.H. Marzuqi Dahlan; Berbekal Kemauan Keras Menjadi Ulama Berwawasan Luas

Banyak hal yang kita dapat ambil pelajaran dari beliau terutama kegigihannya dalam menuntut ilmu. Tidak hanya itu, beliau juga ahli riyadhah atau mengolah jiwa (tirakat). Semoga kita semua dapat mengikuti jejak langkahnya. Teruntuk para guru-guru kita semua, wabil-khusus Kiai Abdul Karim Lirboyo al-Fatihah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here