K.H. Abdul Halim Majalengka: Ulama Pejuang dan Reformis Pendidikan

2
1534

BincangSyariah.Com – K.H. Abdul Halim Majalengka, atau Ajengan Abdoel Halim adalah salah sosok ulama reformis berasal dari Majalengka, Jawa Barat pendiri Persyarikatan Ulama di awal abad ke-20. Beliau dilahirkan di tahun 1887 di keluarga ulama penghulu di desa Ciblerang, Majalengka, Jawa Barat. Ayahnya adalah seorang penghulu (pejabat administrasi keagamaan). Pelajaran keagamaan pertama dia lakukan di wilayah Majalengka dan Cirebon. Diantara guru-guru petamanya adalah K.H. Anwar di Ranji Wetan, K.H. Abdullah di Lontangjaya, K.H. Syuja’ di Bobos, Cirebon, K.H. Ahmad Saubari di Cilimus, Kuningan; dan K.H. Agus di Kenayangan, Pekalongan.

Beliau pergi haji di usia 21 tahun dan meneruskan belajar di Mekkah selama tiga tahun. Di sana, beliau belajar dengan dengan Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi dan Syaikh Ahmad Khayyat.

Di Mekkah, beliau bersahabat dengan sejumlah tokoh yang kemudian akan dikenal sebagai pahlawan nasional. Misalnya K.H. Wahab Chasbullah pendiri NU dan K.H. Man Mansur salah satu pimpinan Muhammadiyah.

Di era ini, beliau banyak bersinggungan dengan gagasan dan tulisan-tulisan yang ditulis oleh gerakan Islam Modernis seperti al-Afghani dan Abduh. Namun, itu tidak berpengaruh banyak terhadap K.H. Abdul Halim untuk persoalan akidah. Namun, ide-ide modernisme itu mempengaruhi K.H. Abdul Halim pada persoalan sistem pendidikan. Beliau misalnya menyaksikan di era itu pendirian Madrasah Shaulatiyah, sebagai madrasah pertama dengan bentuk klasikal, kurikulum, dan adanya sistem ujian. Ini perubahan besar dari era sebelumnya yang masih dalam sistem halaqah (membuat lingkaran). Kelak, saat kembali ke Majalengka K.H. Abdul Halim kemudian berkeinginan mendirikan model pendidikan berbasis kelas tersebut.

Saat kembali ke Majalengka di tahun 1911, beliau mendirikan persatuan pedagang muslim – karena mata pencahaiannya juga seorang pedagang – bernama Hayatul al-Qulub. Tujuannya untuk menguatkan pedagang pribumi dalam persaingan perdagangan dengan etnis Tionghoa. Setelah terjadi konflik dengan pedagang Tionghoa, persatuan ini dibubarkan Belanda di tahun 1915.

Baca Juga :  Peran Kyai dalam Akulturasi Jawa-Islam

Setelahnya, beliau lebih fokus kepada bidang pendidikan. Tahun 1916. Beliau dengan dukungan para penghulu dan orang terpandang saat itu, mendirikan madrasah (berbentuk sekolah) bernama Jam’iyyah I’anah al-Muta’allimiin (selanjutnya disebut: JIT). Persatuan yang dibubarkan tadi, ia rubah menjadi organisasi sosial pendidikan bernama Persyarikatan Ulama dan mengurus JIT bahkan sudah mendirikan sekolah guru di tahun 1923.

Di tahun ’32, Persyarikatan Ulama mengadopsi ide K.H. Abdul Halim untuk mendirikan institusi keagamaan model baru, sebuah pesantren dimana santri tidak hanya diajarkan materi keagamaan tapi juga kemampuan praktis seperti pertanian, berdagang, dan kerajinan tangan. Pesantren bernama “Santi Asrama” ini inspirasinya hadir dari ide-ide Rabindranath Tagore, seorang sastrawan dan pemikir pendidikan India, yang dikenal luas di kalangan nasionalis Indonesia saat itu. Ide pendirian pesantren Santi Asrama ini cukup sukses namun lama tidak berkembang, dan baru berjalan kembali dengan berdirinya sejumlah pesantren di tahun 1970-an.

Sebagai anggota aktif Sarekat Islam sejak 1918-1933, K.H. Abdul Halim sukses memimpin Persyarikatan Ulama. Persyarikatan Ulama di tahun 1930-an memiliki sejumlah panti asuhan dan bisnis sendiri seperti persawahan, percetakan, hingga usaha kain, yang sahamnya dipegang oleh para guru-guru. Di tahun 1930-1942, Persyarikatan Ulama menerbitkan sejumlah majalah dan brosur tentang materi-materi keislaman.

Saat pendudukan Jepang, K.H. Abdul Halim menjadi satu dari enam anggota Chuo Sang-In (Dewan Penasehat Jepang) yang menggantikan Volksraad milik Belanda. Persyarikatan Ulama, kemudian bergabung dengan Masyumi di tahun 1944. Pasca kemerdekaan, organisasinya bersatu dengan organisasi al-Ittihadiyatul Islamiyah (AII) yang didirikan K.H. Ahmad Sanusi, Sukabumi dan berubah nama menjadi Persatuan Umat Islam. Meski sebaran organisasi PUI hanya terbatas di wilayah Jawa Barat, namun keberadaannya masih diperhitungkan dengan berdirinya sejumlah sekolah yang menginduk ke organisasi tersebut.

Baca Juga :  Tempat Siti Khadijah Dimakamkam

Diterjemahkan dan diolah dari: Martin Van Bruinessen, Biographies of Southeast Asian Ulama.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here