Jumud

0
199

BincangSyariah.Com – Sikap tertutup dan “jumud”, statis, mandeg dan enggan mengapresiasi pikiran baru yang baik dan bermanfaat (ashlah) bagi manusia dan kemanusiaan hanya karena dan demi mempertahankan tradisi tidak saja akan melahirkan masyarakat yang kontraproduktif dan semakin tertinggal, malahan bisa menciptakan depresi sosial yang semakin menumpuk dan menyimpan magma emosi yang bisa meledak sewaktu-waktu.

Imam Syihab al-Din al-Qarafi (w.1285 M), ahli hukum besar dalam mazhab Maliki, dalam bukunya yang terkenal, al-Furuq, menyampaikan pandangannya yang sangat kritis:

         فَمَهْمَا تَجَدَّدَ فِى الْعُرْفِ اِعْتَبِرْهُ، وَمَهْمَا سَقَطَتْ أَسْقِطْهُ، وَلَا تَجْمُدْ عَلَى الْمَسْطُورِ فِى الْكُتُبِ طُولَ عُمْرِكَ، بَلْ اِذَا جَاءَكَ رَجُلٌ مِنْ غَيْرِ إِقْلِيِمِكَ يَسْتَفْتِيكَ لَا تُجْرِهِ عَلَى عُرْفِ بَلَدِكَ وَاسْأَلهُ عَنْ عُرْفِ بَلَدِهِ وَأَفْتِهِ بِهِ دُونَ عُرْفِ بَلَدِكَ وَالمْقُرَّرِ فِى كُتُبِكَ. فَهَذَا هُوَ الْحَقُّ الْوَاضِحُ، وَالجْمُودُ عَلَى الْمَنْقُولَاتِ أَبَداً ضَلَالٌ فِى الدِّينِ وَجَهْلٌ بِمَقَاصِدِ عُلَمَاءِ الْمُسْلِمِينَ وَالسَّلَفِ الْمَاضِينَ. ( الفروق، ج. 1، ص 176-177(.

Manakala tradisi telah terbarui, ambillah; jika ia digugurkan (dibatalkan), guguranlah (batalkan). Janganlah kamu bersikap kaku terhadap sumber-sumber tertulis dalam buku-bukumu sepanjang hidupmu. Jika ada seseorang datang kepadamu dari negeri lain dengan maksud meminta fatwa kepadamu, janganlah kamu sampaikan fatwa berdasarkan tradisi negerimu. Bertanyalah lebih dulu tentang tradisinya, dan berikanlah fatwa berdasarkan tradisinya, bukan tradisimu dan bukan pula menurut yang ada di buku-bukumu. Ini adalah cara yang benar dan jelas. Bersikap jumud terhadap nukilan-nukilan selamanya adalah kesesatan dalam agama dan kebodohan akan ulama kaum muslimin dan para salaf terdahulu. (al-Qarafi, al-Furuq, I/176-177).

Pikiran, pandangan, dan gagasan para ulama, cendekiawan, ilmuan dan lain-lain sesungguhnya adalah refleksi terhadap apa yang mereka alami dan hadapi dalam ruang dan waktu mereka masing-masing. Dengan seluruh pengetahuan yang dimiliki, mereka ingin memberikan pandangan dan solusi yang terbaik bagi masyarakatnya saat itu. Tak terlintas dalam pikiran mereka solusi itu untuk masyarakat lain pada zaman yang lain. Boleh jadi, andaikata mereka hidup lagi di zaman ini, mereka akan menyampaikan jawaban yang berbeda.

Baca Juga :  Hari Asyura, Bulan Muharam dan Lebaran Anak Yatim, Adakah Dalilnya?

Ibnu Qayyim al-Jauziyah, tokoh besar dalam mazhab Hambali menyampaikan pernyataan yang sangat menarik:

تَغَيُّرُ اْلاَحْكَامِ بِتَغيُّرِ اْلاَحْوَالِ وَاْلأَزْمَانِ وَاْلأَمْكِنَةِ وَالْعَوَائِدِ وَالنِّيَّاتِ.

Perubahan hukum terjadi karena perubahan situasi sosial, zaman yang berganti, ruang atau tempat yang berbeda, tradisi dan motif yang berbeda.

Sayang, cara pandang dan gagasan seperti ini tidak atau belum  bisa diterima semua orang. Konservatisme masih kokoh. Masih banyak orang yang mengklaim diri paling benar. Lalu menuduh pandangan baru itu sebagai salah, sesat, bidah, kafir, liberal, sekuler dan sebagainya. Betapa jauh sekali bedanya ia dengan para ulama besar tersebut.

Para kiai di pesantren punya sikap yang menarik sekaligus bijaksana:

الْمُحَافَظَةُ عَلَى الْقَدِيمِ الصَّالَحِ وَالْأَخْذُ بِالْجَدِيدِ اْلأَصْلَحِ

Menjaga pandangan lama yang [masih] baik dan mengapresiasi yang baru yang lebih baik.[]

[Tulisan ini disadur dari buku Lawaamii’ al-Hikmah ‘Pendar-pendar Kebijaksanaan’]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here