Jubah Kesombongan

0
1365

BincangSyariah.Com –Pada suatu hari seorang yang berpakaian sebagai Sufi berjalan-jalan; ia melihat seekor anjing di jalan; ia pun memukulnya dengan tongkat. Si Anjing, sambil melolon kesakitan, berlari menuju Abu Said, Sang Ulama. Anjing itupun menjatuhkan dirinya dekat kaki Sang Ulama sambil memegang moncongnya yang terluka; ia mohon keadilan karena
telah diperlakukan secara kejam oleh sufi itu.

Abu Said mempertemukan keduanya. Kepada Sufi dikatakannya, “O Saudara yang seenaknya, kenapa kau perlakukan binatang dungu ini sekasar itu! Lihat akibat perbuatanmu!”

Sang Sufi menjawab, ” Itu sama sekali bukan salahku, tapi salahnya Saya tidak memukulnya tanpa alasan, saya memukulnya
karena ia mengotori jubahku.”

Tetapi Si Anjing tetap menyampaikan keluhannya. Temudian Sang Bijaksana berbicara kepada Anjing, “Dari pada
menunggu Ganti Rugi Akhirat, baiklah saya berikan ganti rugi bagi rasa sakitmu itu.”

Si Anjing berkata, “Sang Agung dan Bijaksana! Ketika saya melihat orang ini berpakaian sebagai Sufi, saya berfikir
bahwa ia tak akan menyakiti saya. Seandainya saya melihat orang yang berpakaian biasa saja, tentunya akan saya berikan keleluasaan padanya untuk lewat. Kesalahan utama saya adalah menganggap bahwa pakaian orang suci itu menandakan keselamatan. Apabila Tuan ingin menghukumnya, rampaslah pakaian Sufinya itu. Campakkan dia dari pakaian Kaum Terpilih Pencari Kebenaran …” [ * ]

Ketika seseorang rajin sholat lima waktu, rajin membaca al-Quran bahkan hafal di luar kepala, rajin puasa baik puasa wajib maupun sunnah, rajin sholat tahajud, rajin ikut pengajian, ikut sebuah thoreqot bibirnya selalu berdzikir menyebut nama Allah.

Akan tetapi di dalam dirinya ada sifat merasa paling suci, merasa paling benar. Orang lain yang tidak sama dengannya dianggap rendah dan tersessat. Beragama yang paling benar hanya seperti kelompok mereka. Berarti selama ini orang itu beribadah bukan menyembah kepada Allah melainkan menyembah hawanafsunya sendiri.

Baca Juga :  Ibrahim bin Adham Enggan Jawab Salam Lelaki Tua Berjubah

Selama ini ibadahnya hanya masih sebatas kulit dan asesoris belum menembus hati dan Jiwa. Sehingga jiwanya merasa paling ahli ibadah orang lain dianggap hina. Sehingga hawanafsu menguasai dirinya dan menyatakan dirinyalah orang yang paling benar dan suci, yang mempunyai kavling Surga, merasa paling benar dan paling suci.

Begitu juga dengan orang-orang yang merasa paling sunnah dan syar’i karena memakai jubah, surban, cadar, sehingga menganggap dirinya memakai baju yang Islami dan merasa paling bertaqwa. Sedangkan mereka menganggap orang lain dengan pandangan rendah dan sinis.. Maka yang dipakai mereka itu adalah baju hawanafsu yang penuh kesombongan dan berbangga diri.

Memakai surban putih itu agar apa yang ada di dalam pikirannya putih juga yaitu pikiran yang positif dan penuh kebaikan. Begitu juga dengan memakai jubah yang putih, agar akhlak kita menjadi baik dan terpuji kepada orang lain. Bukan untuk gaya-gayaan dan asesoris kebanggaan dan kesombongan.

“… Maka janganlah kamu mengatakan dirimu Suci. Dialah (Allah) yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa.” (QS. an-Najm: 32)

[ * ] K I S A H – K I S A H S U F I, Kumpulan kisah nasehat para guru sufi selama seribu tahun yang lampau oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono) Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here