Jihad: Antara Salah Paham dan Paham Salah

0
998

BincangSyariah.Com –  Aksi teror kelompok jihadis secara sporadis terus menyerang simbol-simbol kelembagaan suatu negara atau rakyat sipil. Mereka mengobarkan “jihad global” baik di Barat maupun di dunia Islam. Aksi-aksi mereka seolah sulit diduga dan karenanya tak gampang ditumpas. Mereka menyerang atau melawan siapapun yang dianggap tidak seideologi atau menghalangi jalan mereka dalam memperjuangkan ideologinya.

Dalam aksinya, secara khas mereka menggunakan bahasa agama; jihad! Tampaknya yang mereka cari bukan sekedar kemenangan melainkan juga kematian suci, menjadi ‘pengantin’ dan ‘bidadari’ surga. Karena terkait dengan hasrat atas kematian itu, muncul pertanyaan, apakah gagasan jihad yang ada dalam kitab-kitab yang membahas konsep jihad menjadi referensi yang mendorong orang menjadi radikal dan bahkan siap mati? Bagaimana kitab-kitab yang memuat konsep jihad itu menarasikan pemahaman tentang jihad yang bisa mendorong gerakan radikal atau jihadi? Apakah konsep-konsep itu mengalami perubahan? Dan ketika diimplementasikan menjadi gerakan radikal, apakah makna jihad juga berubah dalam penafsirannya?

 

Titik Berangkat Telaah

Dilihat secara bahasa, “jihâd” yang bersumber dari kata “mujâhadah” mengandung arti “berperang demi menegakkan agama Tuhan” (al-muqâtalah li iqâmati al-dîn). Dalam kajian sejarah Islam, perintah jihad dalam arti perang (qitâl) berkembang setelah Nabi Muhammad Saw. hijrah ke Madinah. Sebelum itu konsep jihad mengandung makna yang lebih lunak bahkan cenderung mengandung arti menjaga sikap untuk menahan diri. Dalam makna itu, para pengikut Nabi Saw. diminta untuk tawakal, sabar, dan berserah diri dalam menerima perlakuan buruk dari orang-orang kafir. Sementara dalam makna yang lebih esoterik, jihad dimaknai sebaga cara untuk menahan hawa nafsu dan untuk bersikap zuhud atau teguh dalam memegang iman.

Sepanjang perkembangan politik dunia Islam di era kolonial dan pascakolonial, konsep jihad mengalami perubahan dan metamorfosis. Sebagai sebuah konsep, jihad tidak statis. Belakangan, konsep itu mengalami kristalisasi ke dalam makna yang lebih sempit dan terbatas.

Umumnya konsep ini mengandung makna mempertahankan diri dari serangan musuh. Secara konsep keagamaan, jihad juga mengalami perkembangan. Ajaran jihad tak terbatas pada domain fiqh al-siyâsah (fikih politik) melainkan masuk ke dalam rumpun ilmu fiqh al-‘ibâdah (fikih ibadah).

Dalam kerangka fikih, Syaikh Muhammad ibn Qasim (w. 928 H), dalam kitabnya Fath al-Qarîb menjelaskan bahwa hukum jihad adalah fardhu kifâyah (mengikat kepada sebagian yang dianggap sanggup melakukannya). Dalam kitab itu ditekankan apabila “musuh” masuk dan menyerang negara Muslim, jihad menjadi fardhu ‘ayn (wajib mutlak dan mengikat kepada seluruh umat Muslim).

Baca Juga :  Hukum Tabarrukan dengan Kasidah Burdah Karya Imam al-Busiri

Dalam konteks ini, jihad dimaksudkan untuk “melindungi” dan “menjaga” umat Muslim dari serangan musuh-musuhnya. Sasaran jihad kepada mereka yang nyata-nyata menyerang dan memerangi umat Muslim (kâfir harbîy). Sebaliknya, jihad tidak diarahkan kepada mereka yang memilih berdamai dan hidup rukun bersama umat Muslim, semisal kafir dzimmîy (pribumi), kâfir musta`man (turis), atau pun kâfir mu’âhad (negara yang telah menjalin hubungan diplomatik).

Dalam konteks keindonesiaan, jihad dalam arti berperang pernah dikumandangkan Nahdlatul Ulama (NU) dalam bentuk “Resolusi Jihad” ketika melawan pasukan tentara Belanda pada 10 November 1945 di Surabaya. Para ulama, kiai, santri, dan masyarakat diseru untuk berjihad membela Tanah Air.

Dalam sejarah pembentukan negara Indonesia, konsep jihad yang terkait dengan bentuk negara muncul bersama lahirnya Darul Islam/Negara Islam Indonesia (DI/NII) di Jawa Barat (7 Agustus 1949 – 1962), atau Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Sulawesi Selatan (7 Agustus 1953 – 1965) dan DI/TII Aceh ( 20 September 1953 – 1962).

Dilihat dari sisi ini, harus diakui konsep jihad dan elemen-elemennya seperti baiat, hijrah, dan jihad pernah terkandung dan lahir dalam politik kebangsaan Indonesia. Adalah benar, seluruh gagasan upaya mendirikan negara Islam baik di Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Aceh telah digagalkan semasa Orde Lama dan semakin luluh-lantak di masa Orde Baru ketika negara melancarkan politik “penyeragaman” ideologi melalui konsep “Asas Tunggal Pancasila”.

Namun itu tak berarti mimpi dan gagasan berdirinya negara Islam melalui proyek-proyek jihad mati total. Ini terbukti dari lahirnya gerakan NII KW 9 meskipun sejumlah analis menganggapnya sebagai gerakan palsu ciptaan intelijen Indonesia. Bagaimanapun, kenyataan ini tak dapat ditolak bahwa mimpi-mimpi untuk mendirikan negara Islam melalui konsep jihad tak pernah benar-benar mati hingga saat ini.

Para analis melihat adanya perubahan dan pergeseran tentang gagasan jihad dalam dekade belakangan ini. Gagasannya terpecah antara melanjutkan mimpi untuk mendirikan Negara Islam Indonesia sebagai gagasan lokal sebagaimana terwujud dalam gerakan DI/NII- DI/TII, dengan gagasan menjadi bagian dari kekhalifahan semesta yang dibawa oleh HTI. Sembari terus mengamati ke arah mana gerakan jihad ini akan dibawa, fakta ini sekali lagi menunjukkan bahwa jihad dengan cara-cara radikal terus hidup di bumi Nusantara ini.

 

Metamorfosis Konsep Jihad

Dalam Islam, dengan merujuk pada hadits-hadits Nabi Saw., jihad dalam makna peperangan/memerangi “musuh Islam” digolongkan sebagai  jihad kecil (al-jihâd al-ashghar). Sebab jihad besar (al-jihâd al-akbar) artinya “memerangi hawa nafsu” (mujâhadah al-nafs). Seringkali dikisahkan bagaimana Nabi Saw. memaknai kata jihad ini. Misalnya, diriwayatkan, ketika kembali dari medan pertempuran, beliau berkata kepada sahabat-sahabatnya, “Raja’nâ min al-jihâd al-ashghar ilâ al-jihâd al-akbar,” (Kita baru saja kembali dari “jihad kecil” menuju “jihad besar”, yakni memerangi hawa nafsu).

Baca Juga :  Bahagia dengan Kelahiran Nabi, Abu Lahab Diringankan Siksanya

Menurut Syaikh Abu Bakr ibn Syatha (w. 1892 M) dalam kitabnya I’ânah al-Thâlibîn, jihad (berperang) hanyalah sarana (wasîlah) untuk mencapai tujuan (maqâshid), yaitu memberikan hidayah/petunjuk atau dakwah. Manakala tujuan tersebut bisa tercapai tanpa melalui perang, itu dianggap jauh lebih baik. Syaikh Zainuddin al-Malibari (w. 1579 M) dalam kitabnya Fath al-Mu’în, telah mengelaborasi makna jihad bukan hanya perang melainkan dakwah.

Menurutnya, “daf’ dharar al-ma’shûmîn min al-muslimîn wa al-dzimmîyyîn wa musta’man al-jâ’i” (mencukupi kebutuhan rakyat miskin, baik muslim, dzimmîy, atau musta’man) termasuk kategori jihad. Makna lebih luasnya adalah dengan memberikan jaminan sandang pangan, kesehatan, dan pendidikan. Inilah yang disebut oleh Syaikh Zainuddin al-Malibari sebagai spirit dan makna jihad yang sesungguhnya yaitu jihad yang tidak didasarkan pada kebencian, permusuhan, dan bukan untuk menghancurkan kemanusiaan.

Dalam gambaran sejarah peperangan Nabi Saw., terdapat nuansa bahwa membunuh lawan bukanlah tujuan peperangan. Sebab tujuan utamanya adalah menyeru ke jalan Allah atau untuk berdakwah. Delapan pertempuran yang dipimpin Nabi Saw., hanya satu orang musuh kaum kafir Quraisy, yaitu Ubay ibn Khalaf, yang mati di tangan beliau. Sejumlah hadis mengisahkan bahwa sebelum berangkat ke medan perang, Nabi Saw. senantiasa berpesan agar tentara umat Muslim tidak membunuh para rahib yang tengah beribadah di kuil-kuil mereka, tidak membunuh anak-anak, perempuan, orang-orang berusia lanjut, dan mereka yang tidak terlibat dalam perang (sipil). Nabi Saw. juga berpesan untuk melindungi pepohonan, sumber mata air dan binatang.

Metamorfosis gagasan jihad melalui peperangan dan penyerangan, pada kenyataannya terus berkembang bersama ekspansi Islam. Kepahlawanan dalam berjihad biasanya digambarkan secara timbal-balik ketika pasukan muslim melakukan ekspansi ke luar Jazirah Arab sampai ke Spanyol dan Asia Tengah, atau ketika para pahlawan muslim mempertahankan setiap jengkal wilayah yang dikuasai oleh Islam. Kepahlawanan tokoh-tokoh semisal Sultan Saladin atau Shalahuddin al-Ayubi yang dengan gagah berani mempertahankan Islam di Spanyol menjadi kisah-kisah heroik ketika menjelaskan konsep jihad dalam sejarah Islam.

Baca Juga :  Kisah Umar bin Khattab yang Kalah "Bersaing" Amalan dengan Abu Bakar

Kisah-kisah keajaiban mereka yang mati syahid di medan perang menjadi cerita-cerita kepahlawanan yang makin menonjol dibandingkan cerita kepahlawanan dalam bidang-bidang sosial dan pendidikan di dunia Islam. Demikian juga pahala yang akan diterima ketika mati dalam jihad dan menjadi syuhada.

Ini artinya, meskipun konsep jihad secara normatif seringkali dimaknai sebagai upaya melawan hawa nafsu, berbuat kebajikan, menolak kerusakan, memelihara sikap baik, namun secara paradoks penggambaran soal jihad senantiasa menunjuk pada tindakan yang sebaliknya. Penghormatan kepada jihad dalam arti peperangan dan pertempuran lebih  mendominasi gagasan-gagasan jihad, dan karenanya jalan serupa itu diidolakan, diagungkan dan dimuliakan.

Gagasan jihad tampaknya kemudian mengkristal dalam makna yang tunggal dan berkonotasi kekerasan. Pertandingan tak seimbang dalam perang-perang modern antara kelompok yang menggunakan bendera Islam ketika berhadapan dengan raksasa Rusia dan Amerika, melahirkan kaum gerilyawan yang secara pejoratif kemudian diberi stigma sebagai  kaum teroris. Pada kenyataannya, cara-cara mereka dalam melakukan perlawanan dengan menebarkan ketakutan atau teror melegitimasi lahirnya cara-cara teroris sebagai bagian yang legal dalam strategi berjihad.

Dalam konteks peperangan abadi antara Palestina melawan Israel, atau perang gerilya di Afganistan, serta peristiwa lainnya setelah itu, jihad selalu dikaitkan dengan aksi-aksi kekerasan yang dilakukan sekelompok teroris. Mereka kemudian dijuluki sebagai kelompok jihadis. Situasi ini telah mereduksi makna jihad yang seolah-olah hanya digunakan untuk membenci, memusuhi dan membunuh orang tanpa ampun.

Dalam kenyataan itu, jihad tampaknya telah dibajak menjadi metode untuk menyerang musuh dengan cara curang, pengecut dan tidak sportif. Antara lain, dengan menebar teror dengan bom atau menyerang aparat dan rakyat sipil. Jihad juga telah dikonotasikan sebagai jalan untuk memenuhi ambisi politik kaum radikal. Tetapi sebagai jalan legal dalam dunia politik, konsep jihad dengan makna kekerasan sebetulnya tidak populer. Terbukti dari munculnya reaksi negatif, kutukan dari umat Muslim di dunia pada setiap aksi teror atas nama jihad yang dilakukan kaum jihadis meskipun yang diserang “kaum kafir”. Karena itu, diperlukan telaah kritis dan menyeluruh bukan hanya tentang apa itu jihad dan bagaimana konsep itu mengalami metamorfosis, tetapi juga berguna untuk mencari solusi atas kesalahpahaman terkait jihad dan penyalahgunaannya.

 (Versi awal tulisan ini merupakan pengantar Lies Marcous-Natsir untuk buku Inspirasi Jihad Kaum Jihadis: Telaah Atas Kitab-Kitab Jihad, ed. Roland Gunawan & Lies Marcoes-Natsir (Jakarta: Rumah KitaB, 2017).

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here