Ji Tasbani: Sebutan Orang Madura Bagi Haji Tidak Mabrur

0
349

BincangSyariah.Com – Orang Madura memahami perjalanan haji sebagai rangkaian perjalanan penyucian diri. Mendapatkan kesempatan bisa berhaji bagi orang Madura dianggap sebagai sebuah keistimewaan karena mereka meyakini hanya yang diundang oleh Allah-lah yang bisa melaksanakan ibadah haji.

Sekembalinya mereka dari perjalanan penyucian itu, mereka merasa seolah dilahirkan kembali, suci bersih laksana bayi yang baru lahir. Dengan pemahaman seperti inilah mereka kemudian tergerak untuk mengganti nama mereka. Tentu dengan nama yang lebih islami dan kerab-araban, sambil mencari alternatif nama yang mirip bunyinya dengan nama mereka yang lama. Semisal dulu ia memiliki nama Misdin, maka kini ia mengganti nama menjadi Misbahuddin (penerang agama)

Pada kelanjutan kehidupannya, disitulah titik letak persoalan. Bila dalam kelanjutan kehidupannya ia menjadi pribadi yang lebih baik, meninggalkan semua kemaksiatan yang dulu pernah ia lakukan dan memperbanyak kebaikan, maka inilah yang disebut sebagai haji mabrur. Haji yang mendapatkan kebaikan pasca perjalanan haji. Sebaliknya, jika ternyata pasca perjalanan haji, ia tidak mengalami perubahan hidup, artinya tetap maksiat dan tetap tidak tergerak untuk memperbanyak kebaikan, maka orang Madura akan menjulukinya sebagai “Ji Tasbani”

Ji Tasbani merupakan kependekan dari kata dalam bahasa Madura yakni Haji attas ajji, bebe banni (Haji yang hanya atasnya saja yang haji, tetapi bawahnya bukan). Ji Tasbani ini merujuk pada orang-orang yang sepulang dari ibadah haji, ia kemudian berhak memakai peci putih sebagai petanda bahwa ia sudah melaksanakan ibadah haji. Itulah yang dimaksud dengan atasnya (kepalanya) sudah hajji. Namun karena hatinya, yang ada dibawah kepala belum berubah atau belum dihajikan, maka dianggap bahwa bawahnya bukan haji.

Meski saat ini Ji Tasbani sudah tidak mungkin lagi menjadi alat kontrol perilaku bagi seseorang yang sudah naik haji, tetapi setidaknya panggilan Ji Tasbani yang diberikan oleh masyarakat tetap memberikan efek yang tidak mengenakkan. Panggilan tersebut menjadi indikasi bahwa tidaklah mudah menjadi seorang haji sejati. Sebagaimana dipahami oleh masyarakat Madura, bahwa jika seseorang sudah berniat naik haji, maka ia sudah harus haji sejak dari saat keluar rumah.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here