Jejak Islam di Spanyol Selama Tujuh Abad

0
1077

BincangSyariah.Com – Andalusia adalah sebuah Semenanjung Iberia di Eropa yang menyimpan banyak jejak Islam dan saat ini merupakan wilayah otonomi Spanyol. Dahulu, negeri tersebut terdapat beberapa kerajaan Islam yang sempat berdiri dan memiliki peran dalam pengembangan ilmu dan pembangunan infrastruktur. Sebelum Islam berkuasa, Andalusia berada di bawah kekuasaan Yunani, lalu Romawi, kemudian Visigoth sampai akhirnya dikuasai oleh Islam.

Bermula dari kedatangan Abdurrahman ad-Dakhil salah satu keturunan Bani Umayyah ke negeri Andalusia saat ia melarikan diri dari Dinasti Abbasiyah pada tahun 750 Masehi. Karena pada saat itu Dinasti Umayyah tumbang di Damaskus, Dinasti Abbasiyah melakukan pemusnahan kepada keturunan Bani Umayyah dengan melakukan upaya pembunuhan. Saat Abdurrahman tiba di Andalusia, negeri tersebut dikuasai oleh Yusuf bin Abdurrahman al-Fihr seorang keturunan Bani Muzar. Lalu atas kerjasama antara Abdurrahman dengan suku Yaman yang saat itu sedang bertikai dengan Yusuf, Abdurrahman berhasil menguasai Andalusia. (Ini Alasan Peradaban Islam Maju di Spanyol)

Abdurrahman menjadi keturunan Bani Umayyah yang pertama kali berhasil melakukan ekspansi di Andalusia. Itulah sebabnya ia dijuluki ad-Dakhil yang berarti seseorang yang masuk. Sejak saat itulah Bani Umayyah membangun sebuah kekhalifahan hingga pernah mencapai masa kejayaannya. Khalifah pertama dari Bani Umayyah yang berkuasa di Andalusia adalah Abdurrahman III yang juga dikenal dengan julukan an-Nasir. Di tangan dialah Andalusia mengalami masa kejayaannya. Menyaingi Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Namun sesudah Hisyam II turun takhta, para penggantinya tak sanggup mempertahankan keadaan.

Kekuasaan Bani Umayyah di Andalusia pun berakhir pada tahun 1031 Masehi. Bani Umayyah berhasil menaklukan beberapa wilayah di sekitar Andalusia seperti Kordoba, Salamanca, Toledo, Valencia, Granada, Sevilla, Malaga, Jabal Tariq (Gibraltar) dan Ceuta. Setelah Bani Umayyah tak berkuasa, Andalusia terpecah menjadi beberapa negara di bawah pemerintahan Muluk at-Tawaif (raja golongan) yang berpusat di beberapa kota seperti kota Sevilla, Kordoba, dan Toledo. Pada masa pemerintahan seperti ini perkembangan ilmu pengetahuan masih terus berjalan meskipun situasi politik tidak stabil. Di saat yang bersamaan raja-raja Kristen mulai melirik Andalusia dan berencana untuk meruntuhkan kerajaan Islam di sana.

Baca Juga :  Cuplikan Haji Orang Indonesia Dulu dan Kini [1]: Jadi Buruh Perkebunan di Singapura

Tidak lama kemudian setelah Muluk at-Tawaif tidak lagi berkuasa, terdapat tiga dinasti Islam yang memimpin Andalusia berturut-turut. Ketiganya adalah Murabitun (1086-1143 M), Muwahhidun (1146-1235 M) dan Bani Ahmar (1248-1492 M). Di masa-masa inilah perlahan-lahan wilayah Islam jatuh ke tangan kerajaan Kristen. Hampir seluruh wilayah Islam berpindah ke mereka kecuali Granada meski pada akhirnya juga jatuh ke tangan Kristen. Bahkan pada saat itu umat Islam dihadapkan oleh dua pilihan untuk berpindah ke agama Kristen atau pergi dari Andalusia. Sehingga pada tahun 1609 di wilayah yang mulanya dikuasai Islam, akhirnya sama sekali tak ada lagi umat Islam.

Selama tujuh abad Islam berhasil menguasai Andalusia, ia melakukan banyak perubahan selain menyebarkan Islam yaitu, pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, pembangunan infrastruktur hingga meninggalkan jejak Islam di wilayah yang saat ini di bawah pemerintahan Spanyol. Jasa mereka tidak hanya berguna untuk wilayah timur, tetapi juga dunia. Kordoba misalnya, ia menjadi pusat pengembangan sains, teknologi, kesusastraan, kedokteran dan penyalinan teks-teks Yunani dan Latin. Di sana juga dibangun lembaga-lembaga pendidikan yang menjadi pusat pengembangan intelektual dan melahirkan para tokoh keilmuan di berbagai bidang.

Granada juga meninggalkan jejak Islam yang saat itu menjadi wilayah terakhir Islam berkuasa. Saat ini bangunan bersejarah berupa benteng Alhambra menjadi bukti tentang berdirinya Islam di Granada. Benteng Alhambra memiliki nilai seni yang tinggi dan dibangun pada masa Bani Ahmar berkuasa. Proses pembangunannya membutuhkan waktu hingga 100 tahun. Ia berada di wilayah dataran tinggi, di sebuah bukit kecil di Granada.

Selain melakukan pengembangan di bidang ilmu eksakta, Islam juga mengembangkan ilmu kesenian. Tidak hanya di Granda yang melakukan pembangunan gedung dan artsitekturnya bernilai seni tinggi, tetapi terdapat juga jejak Islam berupa menara Masjid Agung di Sevilla yang kini beralih fungsi menjadi katedral. Saat ini bangunan-bangunan yang bernilai seni tinggi di Eropa adalah peninggalan jejak Islam dan pengetahuan yang berkembang di masa Islam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here