Jejak Islam di Dunia: Tunisia dan Masyarakat Arab Bergaya Eropa

0
313

BincangSyariah.Com – Tunisia, sebuah negara di wilayah Afrika Utara yang sering disebut dalam kitab-kitab sejarah sebagai salah satu dari Negara ­Maghrib Al-‘Arabi (Maroko, Al-Jazair dan Tunisia).

Pada masa-masa kerajaan Chartage dan Romawi abad ke 2 SM, lebih dikenal dengan istilah Ifrikiah bukan Tunisia. Perubahan nama dari Ifrikiah ke Tunisia sekaligus alasan nama itu muncul bisa dibaca di antaranya pada kitab Kitab al-Mu’nis fi Akhbari Ifrikiyyah Wa Tunis karya Abi Abdillah al-Syaikh Muhammad bin Abi al-Qasim al-Qayrawani. Masyarakat Tunis juga sangat bangga menyebut negaranya dengan julukan Al-Khodro’/ Tunis El-Khodro’ (Tunis yang hijau).

Negara-negara Maghrib al-Arabi memang memiliki ciri khas tersendiri dibanding negara-negara Arab lainnya. Jika biasanya negara-negara Arab identik dengan udara yang panas dan padang pasir, maka tidak demikian dengan wilayah Maghrib Al-‘Arabi, khususnya Tunisia. Selain memiliki empat musim, kita masih bisa menyaksikan disetiap sudut jalan, bahkan di rumah-rumah, tanaman hias atau pepohonan buah tumbuh subur sebagaimana di Indonesia.

Selain itu, dalam segi budaya berpakaian pun masyarakat Tunisia tak jauh berbeda dengan di Indonesia. Misal, bagi bagi perempuan, tidak ada kewajiban mengenakan hijab atau mungkin terkesan aib bagi perempuan yang tidak mengenakan hijab layaknya di negara-negara Arab lainnya, perempuan bebas menentukan pilihan pakaiannya dan bebas bekerja di manapun. Sekelas Universitas Zaitunah sebagai universitas satu-satunya di Tunisia yang fokus terhadap ilmu-ilmu ke Islamanpun juga tak mewajibkan mahasiswinya untuk mengenakan hijab. Oleh sebab itu sebenarnya tak butuh waktu lama bagi warga Indonesia yang tinggal di Tunis untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Saya sendiri memilih Tunisia sebagai pelabuhan selanjutnya setelah menamatkan strata satu di UIN Sunan Kalijaga semenjak mengkaji pemikiran Mohammad Thalbi dalam mata kuliah tafsir kontemporer. Mohammad Thalbi terkenal sebagai pemikir Tunis yang sangat produktif, salah satu pemikirannya adalah mengenai tafsir maqashidi yang kami kaji saat itu. Ada pula Syekh Muhammad Thahir Ibn ‘Asyur dengan magnum opusnya kitab Tafsir Tahrir wa al-Tanwir, selain mufassir beliau juga dikenal sebagai salah satu pencetus ide maqashid al-syari’ah.

Dan saat S1 dulu wilayah Maghrib ‘Arabi memang terkenal menghasilkan para pemikir-pemikir yang progresif dibanding negara Arab lainnya. Selain itu faktor empat musim yang dimiliki Tunisia juga menjadi salah satu faktor pendukung. Dan Alhamdulillah, pada Desember 2017 lalu nama saya tercantum sebagai salah satu Mahasiswa Magister jurusan Ulum al-Qur’an, Hadis Wa al-Sirah di Universitas tertua di Dunia, Universitas Zaitunah. Saya berangkat pada Oktober 2018, harapannya agar bisa kecipratan berkah intelektual maupun spiritual dari para ilmuwan-ilmuwan hebat itu.

Baca Juga :  Menengok Perayaan Maulid Nabi di Tunisia

Diawal kedatangan tantangan terbesar yang harus dihadapi adalah bahasa, selain gaya bicara bahasa Arab orang Tunis lebih cepat di banding Arab lainnya, mereka juga lebih senang menggunakan darijah (bahasa Arab Amiyah) dan bahasa Perancis. Singkatnya, pada tahun ini, untuk pertama kalinya  saya merasakan merantau dan suasana Ramadhan di luar Negeri.

Memang ada tantangan tersendiri saat menjalani ibadah puasa di negeri ini, salah satunya dengan durasi puasa yang lebih lama daripada di Indonesia. Di Tunis, waktu subuh pukul 03.26 dan waktu maghrib 19.15, jadi sekitar 16-17 jam. Ditambah di setiap masjid, melaksanakan sholat tarawih dengan target khataman (satu malam satu juz) menambah sensasi tersendiri. Tapi jangan heran juga, jika di saat waktu tarawih kafe-kafe lebih penuh daripada di masjid-masjid. Husnudzon saja mungkin mereka lebih memilih sholat tarawih lebih malam sepulang dari kafe sekaligus qiyamul lail.

Kuliner berbuka puasa di salah satu Pasar di Tunisia
Kuliner berbuka puasa di salah satu Pasar di Tunisia

Ada hal yang istimewa juga bagi mahasiswa saat berbuka puasa khusus di bulan Ramadhan, kita bisa menukarkan tiket dengan harga yang sangat murah di kantin kampus untuk mendapatkan sebuah porsi makan yang lengkap, dari makanan pembuka, inti dan penutup. Contoh dengan menukarkan dua tiket seharga dua ribu rupiah, anda sudah bisa mendapatkan kurma, syurbah (soup) dan brik untuk makanan pembuka. Kemudian ada kuskusi (sejenis nasi dari gandum), 2 potong daging ayam dan sayur-sayuran untuk menu inti serta 2 buah yoghurt untuk dessert. Anda juga masih bisa menukarkan tiket lagi untuk sahur agar mendapatkan sebuah plastik yang berisi dua buah yoghurt, roti, dan selai.

Namun, lebih dari sekadar membahas tentang adat dan iklim di Tunisia, yang menarik adalah mengenai pemikiran-pemikiran Islam yang sering muncul seolah menggugah pemikiran yang sudah lama mapan. Memang progresifitas pemikiran Islam di Tunisia (untuk tidak mengatakan liberal sebagaimana dilontarkan sebagian orang),  sudah dikenal sejak munculnya pertama kali larangan poligami.

Baca Juga :  Tiga Kebodohan yang Tidak Bisa Diobati

Siapa yang berpoligami akan dihukum penjara. Merambah ke hal lain, khusus untuk Ramadhan misalnya, muncul fatwa oleh Presiden pertama Tunisia akan kebolehan tidak berpuasa bagi para pekerja. Dan baru-baru ini juga muncul pemikiran akan bolehnya tidak berpuasa bagi para pelajar. Pastinya, fatwa atau pemikiran itu mengundang pro dan kontra. Namun bagi para pengkaji ke Islaman ini merupakan hal yang menarik dan tantangan tersendiri, paling tidak muncul pertanyaan yang mendalam, apa dasar dalam ber istinbath hukum sehingga menghasilkan pemikiran tersebut.

Hemat saya pribadi, Tunis adalah salah satu negara Arab yang tidak ngarab. Karena meski Islam hampir 100% dan bahasa resmi adalah Arab, namun tradisi budaya banyak berkiblat ke Eropa khususnya Perancis. Mungkin ini juga salah satu dampak yang ditinggalkan dari bekas jajahan Perancis yang sudah mengakar menjadi sebuah tradisi di masyarakat. Akulturasi tak hanya terjadi dalam hal tradisi, namun juga dalam pemikiran dan keilmuan.

Ala kulli hal, disetiap wilayah dan negara memiliki karakteristik dan tantangannya masing-masing, khususnya bagi kita dalam menjalankan ibadah puasa. Semoga Allah menerima amal ibadah kita.

Selama Bulan Ramadan 2019, BincangSyariah.Com menayangkan tulisan tentang  Jejak Islam di Dunia



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here