Jejak Islam di Dunia: Semarak Puasa di Singapura

0
126

BincangSyariah.Com – Dari segi penyambutan dan praktik ibadah, berpuasa di Singapura tidaklah jauh berbeda dengan Indonesia. Walaupun Islam termasuk agama minoritas di Singapura, namun kegembiraan perayaan bulan suci ini nampak terlihat dari ornamen-ornamen “Hari Raya” yang bisa di temukan di pusat kota serta bazar-bazar yang menyediakan aneka makanan halal. Bisa dibilang bahwa bulan Ramadhan tidak hanya dirayakan oleh masyarakat Muslim, tapi juga oleh masyarakat non-Muslim yang juga memadati bazar.

Di salah satu Bazar Ramadhan di daerah Bugis, bahkan terdapat penjelasan terkait apa itu bulan Ramadhan dan apa saja yang dilakukan oleh seorang Muslim selama Ramadhan. Hal ini tentu menjadi bagian penting bagi konteks masyarakat Singapura yang multi-agama dan multi-etnis, sebagai salah satu upaya untuk berbagi pengetahuan terkait budaya dan agama untuk menghindari adanya salah paham antar etnis dan agama.

Sama halnya seperti masyarakat muslim Indonesia, muslim Singapura pun seringkali berbuka puasa di masjid, biasanya disediakan nasi briyani, dan melaksanakan tarawih selepas isya. Disini, umumnya tidak ada kultur kultum (kuliah tujuh menit) antara shalat tarawih dengan witir, hal yang juga sering ditemui di masjid-masjid Indonesia ketika bulan ramadhan.

Diantara alasannya adalah karena shalat tarawih berakhir cukup malam, sekitar pukul 9.30 malam waktu Singapura, dan orang-orang harus bekerja keesokan harinya. Pemerintah Singapura pun menyediakan bus untuk para jamaah tarawih yang tinggal cukup jauh dari lokasi masjid. Selain itu, di beberapa masjid juga terdapat program qiyamul lail dari awal hingga akhir Ramadhan dan diakhiri dengan santap sahur bersama.

Contoh layanan delivery food yang tersebar di media sosial

Bagi mahasiswa seperti saya, tantangan berpuasa di Singapura adalah tidak adanya warung makan yang buka di waktu sahur, seperti di Indonesia. Solusinya biasanya adalah dengan memasak sendiri atau membeli makanan saat malam hari. Namun, di Singapura saat ini juga sedang berkembang bisnis yang menyediakan jasa delivery food saat waktu sahur, walaupun jangkauan tempatnya masih terbatas di beberapa daerah saja. Contohnya, kedai makan “Nasi Sambal Goreng Power Woodlands” hanya melayani delivery food untuk beberapa daerah Utara Singapura, yakni Woodlands, Yishun dan Sembawang. Untuk makanan halal, Singapura bisa dibilang menawarkan banyak beragam makanan halal hampir di setiap penjuru daerahnya. Setidaknya di setiap hawker center akan terdapat satu stall makanan yang memiliki setifikat halal atau Muslim owned (pemilik kedai Muslim).

Baca Juga :  Bagaimana Cara Mengqadha' Puasa Tahun Lalu yang Belum Diqadha'?

Berdasarkan penjelasan Ahmad Helmi Mohammad Hasbi, salah satu ustadz yang aktif bekerja di Religious Rehabilitation Group, di Singapura ada tujuh puluh buah masjid. Dan, setiap masjid mengadakan beberapa pengajian sebelum Ramadhan. Tema-temanya berkisar pada amalan-amalan apa saja yang baik untuk diamalkan selama bulan Ramadhan.

Masjid juga menjadi lebih meriah, dan Ramadan menjadi waktu tersibuk bagi para pengurus masjid. Sepanjang malam terdapat berbagai macam aktifitas, selain tarawih tentu saja, ada jamuan buka puasa (ifthar) gratis yang disediakan bagi orang yang berbuka puasa.

Tempat untuk menikmati Ifthar gratis di Masjid Sultan, Singapura

Iftar sangat disukai bukan saja oleh masyarakat Singapura, tapi juga oleh masyarakat muslim yang bukan asal Singapura. Contohnya adalah pekerja luar negeri yang berasal dari Bangladesh dan India. Mereka umumnya perantauan dan tidak membawa keluarga. Sehingga bila masjid mengadakan ifthar, mereka merasakan rasa kekeluargaan yang ada di masjid. Mereka mendapatkan iftar secara gratis dan dapat menghidupkan suasana Ramadhan tanpa ada keterbatasan. Sehingga, Ramadhan di Singapura bisa disambut dengan baik seperti masyarakat-masyarakat muslim di belahan dunia lain.

Dalam amatan sosok yang akrab disebut Ustadz Ahmad Helmi, Ramadan di Singapura dari segi kesemarakan lebih semarak dibanding di Mesir, tempat dimana ia pernah kuliah. Di Singapura, ramadan disambut dengan meriah dan di hari raya idul fitri disambut dengan lebih meriah lagi. Jadi di Singapura, kemeriahan idul fitri bisa berhari-hari, sedangkan di Mesir hanya meriah di hari pertama saja.

Ramadhan di Singapura itu sama saja seperti negeri-negeri lain. Namun, hal unik dari Singapura yang merupakan negara sekular dan duduk bersama dengan komunitas lain yang bukan beragama Islam, Ramadhan itu rasanya disambut juga oleh komunitas-komunitas lain seperti komunitas Cina, India dan sebagainya. Karena kita mengamalkan kehidupan pluralistik, yakni kehidupan kebersamaan dengan masyarakat lain. Sehingga, Ramadhan tidak hanya disambut oleh komunitas Muslim tapi komunitas bukan Muslim pun sama menyambutnya. Sebagian dari masyarakat non-muslim ada juga yang ikut berpuasa, untuk merasakan bagaimana masyarakat muslim berpuasa.

Baca Juga :  Ibnu Saba, Sosok Nyata atau Imajiner? (Bagian II)
Busana yang dipakai masyarakat muslim Singapura saat hari raya

Sama seperti halnya muslim di Indonesia, Hari Raya merupakan ajang untuk bersilaturahnmi dengan mengunjung sanak saudara. Karena jarak antar rumah yang dekat, biasanya satu hari ada yang bisa mengunjungi tiga sampai empat rumah. Alasan di balik perayaan Hari Raya yang satu bulan adalah karena di Singapura tidak ada cuti khusus lebaran seperti di Indonesia. Jadi biasanya mereka mengunjungi sanak saudara saat weekend, Sabtu dan Minggu. Fashion lebaran di Singapura pun cukup unik. Mereka biasanya menggunakan warna-warna cerah saat mengunjungi sanak saudara seperti merah, hijau, biru dan kuning.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here