Jejak Islam di Dunia: Ramadan yang Hening di Jerman

0
320

BincangSyariah.Com – Satu hal yang sering diulang-ulang terkait puasa di negara minoritas Muslim wilayah Eropa adalah jangka waktu menahan yang dinamis. Jika Ramadan bertepatan dengan musim dingin, maka puasa akan lebih singkat mengikuti subuh yang lebih akhir dan maghrib yang lebih awal. Jika di musim panas, maka yang terjadi sebaliknya. Dinamika ekstrim bisa ditemui di negara-negara Scandinavia, wilayah layak huni paling utara di globe.

Namun demikian, barangkali belum banyak yang membahas tentang pengalaman beramadan yang sepi, Ramadan yang tenang, Ramadan yang tidak ada hiruk pikuk festivalisasi.

Ramadan di Indonesia adalah Ramadan yang semarak. Kita telah mengenal selorohan yang mulai terdengar klise, “Jika sudah liat iklat sirup marjan di TV, itu artinya Ramadan segera datang.”

Begitulah Indonesia. Di Indonesia, bukan hanya muslim-muslim serta masjid-masjid yang bersiap-siap untuk menyambut Ramadan. Produsen sirup, biro iklan, stasiun televisi, radio, dan media massa lainnya, penyanyi pop beserta label dan dapur rekaman mereka, event organizer konser dangdut rakyat, konten kreator, pengusaha transportasi, dan sebagainya, telah menyiapkan langkah menuju Ramadan. Hasilnya, Ramadan di Indonesia penuh hingar bingar.

Semua hal itu tidak kita kita temui jika beramadan di Eropa. Saya tidak menemuinya selama di Freiburg. Tidak ada iklan sirup marjan, tidak ada gelombang pasang selebriti hijrah, tidak ada produksi musik pop religi, dan seterusnya. Barangkali yang ada hanyalah iklan mudik bareng dari beberapa teman Indonesia.

Tidak ada keramaian sore ngabuburit, tidak ada pasar tumpah menu perbukaan. Yang ada hanya gelombang foto makanan-makanan khas Indonesia berseliweran di sosial media rekan-rekan sejawat di kampung halaman. Melihat itu semua, serasa ingin bilang, “Rasain, ngapain mau puasa di Eropa!

Baca Juga :  Menderita Maag Kronis, Bolehkah Tidak Berpuasa?

Ramadan, dengan demikian, menjadi Ramadan yang sepi, Ramadan yang rindu kampung halaman, makanan khas kampung, dan terutama keluarga.

Tapi ternyata, Ramadan yang demikian juga menjadi Ramadan yang tenang, Ramadan yang jauh dari hiruk pikuk, Ramadan yang sangat personal, dan Ramadan yang intim. Pernahkan Anda membayangkan semarak dan riuh Ramadan di Indonesia yang selalu kita hadapi itu di momen-momen tertentu akan menjadi Ramadan yang menjemukan? Kesemarakan itu sudah begitu banal, bukannya membuat Ramadan syahdu, justru menjadi berisik, gaduh, dan mengganggu.

Berpuasa Ramadan di Freiburg yang sepi, tenang, dan sangat personal, kemudian menjadi tombol refresh terhadap suasana Ramadan yang biasa saya hadapi. Ramadan yang demikian justru memberikan kesempatan yang lebih luas untuk perenungan, tanpa diganggu keriuhan-keriuhan luar.

Di luar konteks Ramadan, hal pertama yang akan segera dirindukan ketika hidup sebagai Muslim Indonesia di wilayah minoritas seperti di Jerman adalah suara azan. Begitu juga dengan suara-suara khas masjid Indonesia lainnya, seperti rekaman tilawah Al-Qur’an atau gema shalawatan, dan sebagainya.

Ada dua masjid di Freiburg, salah satu kota kecil nan sangat sejuk di ujung selatan Jerman. Yang satu lebih banyak dikelola oleh pendatang dari Arab, sehingga sering kita sebut masjid Arab, dan satu lagi oleh imigran Turki, dan kita sebut masjid Turki. Di kedua masjid ini, tidak ada speaker luar layaknya masjid-masjid di Indonesia. Kecuali jika kita rutin shalat lima waktu di masjid, maka kita tidak akan mendengarkan suara azan rutin.

Muslim Indonesia memang hidup dalam soundscape yang khas. Berpindah ke lingkungan lain menyajikan soundscape yang berbeda. Dari sana lah kerinduan akan suara-suara masjid tumbuh.

Baca Juga :  Ahmad bin Muhammad bin Shiddiq al-Ghumari: Ahli Hadis Abad 20 dari Maroko

Suatu ketika, beberapa teman dari Institute of Ethnology mengadakan buka bersama untuk para pengungsi Suriah. Sebagai catatan, Jerman adalah negara yang terbuka buat para pengungsi korban perang Suriah. Ada banyak pengungsi yang tinggal di Freiburg.

ramadan yang hening
Suasana buka puasa bersama dengan pengungsi Suriah di Freiburg, Jerman

Dalam momen itu, teman penyelenggara bertanya, apakah sebaiknya suara azan akan diputar sebagai penanda waktu buka masuk? Salah seorang teman Indonesia, Muammar Zayn, bersedia mengumandangkan azan. Waktu itu adalah Ramadan pertama dia di Freiburg. 3 bulan hidup di sana barangkali pengalaman pertamanya tidak lagi rutin mendengarkan azan, atau bahkan mengumandangkan azan. Ia begitu khusyu’ dan emosional waktu itu.

Secara umum, ibadah harian cenderung menjadi lebih individual selama di Jerman. Mungkin cerita dan pengalaman saya di atas bisa dipahami secara negatif oleh sebagian pembaca. Tapi yang saya rasakan justru semua itu adalah pengalaman positif. Istilah-istilah sepi, sendu, tenang, yang saya gambarkan di atas berkonotasi positif. Peribadatan yang individual yang sepi justru mengantarkan kita pada kondisi spiritual yang lebih kental. Saya rasa, semua kita perlu memiliki pengalaman hidup menjadi minoritas seperti itu.

Saya hendak menambahkan satu hal lagi sebelum menutup tulisan ini. Terkait satu jenis ibadah, Eropa menjanjikan akses yang jauh lebih mudah dan terbuka bagi Muslim dibandingkan dengan di Indonesia. Itulah ibadah haji. Di negara-negara Eropa, urusan untuk haji sesederhana untuk umrah dari Indonesia. Tidak ada antri belasan tahun.

Selama Bulan Ramadan 2019, BincangSyariah.Com menayangkan tulisan tentang  Jejak Islam di Dunia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here