Jejak Islam di Dunia: Puasa di Kerala, Pintu Masuk Awal Islam di India

0
425

BincangSyariah.Com – Kerala adalah salah satu negara bagian yang berada di Pantai Barat India. Seperti kita ketahui, agama Hindu adalah agama mayoritas di India. Namun, jumlah umat muslim disini bukan berarti sedikit. Secara khusus, di tempat saya tinggal, Kerala, jumlah umat muslim berjumlah 25 % dari jumlah seluruh penduduk.

Di India, masyarakat yang memeluk agama Hindu adalah mayoritas. Islam adalah agama terbesar kedua di negara yang penduduknya telah mencapai 1,3 miliar Jiwa per 2017 ini. Penganut agama Islam menempati angka sekitar 15 % lebih yang setara dengan 160 juta jiwa (survei tahun 2009). Karena itu, meski kami minoritas di dalam negara, tapi kami juga negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak kedua setelah Indonesia yang telah mencapai lebih dari 200 juta jiwa.

Kerala, Pintu Masuk Islam di India

Sejarah masuknya Islam ke India memang sudah sangat panjang. Masyarakat Kerala meyakini bahwa Islam telah masuk ke wilayah Kerala, wilayah pantai barat India ini sejak zaman sahabat Nabi Saw.. Salah satu tabi’in yang masyhur, Malik bin Dinar diyakini telah tiba kesini atas undangan dari raja Chera dan mendirikan Masjid pertama di India, namanya adalah Masjid Cheraman. Masjid ini strukturnya mirip dengan kuil agama Budha meski sekarang telah sedikit direnovasi sehingga tidak lagi dalam bentuk aslinya.

Cheraman
Maket Masjid Cheraman Jum’a, masjid pertama yang berada di India

Ada beberapa versi terkait kedatangan raja Chera ke Mekkah dan memeluk Islam. Diantara adalah ketika sang raja bermimpi tentang bulan terbelah, peristiwa mukjizat Nabi Muhammad yang disebutkan di dalam Al-Qur’an. Ia kemudian bertanya kepada ahli nujumnya di mana peristiwa itu terjadi. Namun mereka tidak ada yang mengetahuinya. Sampai suatu ketika, sudah banyak pedagang Arab singgah berdagang di Pelabuhan Malabar. Mereka berkesempatan bertemu dengan raja dan berdialog tentang Nabi Muhammad. Singkat cerita, raja tertarik dan akhirnya ikut bersama para pedagang itu. Raja pun kemudian masuk Islam dengan bersujud di bawah kaki Nabi.

Baca Juga :  Renungan Peristiwa Christchurch: Relasi Muslim di Barat dan Ideologi Supremasi

Tapi narasi tersebut cukup aneh jika digabungkan dengan kembalinya raja dengan Malik bin Dinar yang bukan sahabat, tapi tabi’in. Kalau benar, tentu jarak antara kedatangan raja sampai ia kembali ke Kerala lama sekali. Dalam riwayat lain, Sang Raja wafat di tanah Arab dan memberikan wasiat kepada para penguasa di Kerala agar memperlakukan Malik bin Dinar dan rombongan masyarakat arab dengan baik dan membiarkan mereka membangun masjid.

Syekh Abu Bakar bin Ahmed, Pemimpin Jamia Markaz dan Mufti India

Kebanyakan umat muslim di Kerala bermazhab Syafi’i. Ini menarik karena masyarakat India yang beragama Islam umumnya bermazhab Hanafi. Namun, kebanyakan yang mereka yang bermazhab Hanafi tinggal di wilayah utara, dekat dengan New Delhi. Sementara, tempat kami tinggal, di Kerala, merupakan wilayah garis pantai barat India. Secara historis, wilayah ini memiliki persinggungan dengan dengan pelayaran orang-orang wilayah Hadramaut. Karena itu juga, ada banyak masyarakat Arab yang masih keturunan ‘Alawiyyin. Sampai saat ini, saya masih belajar di « Jamia Markaz », sebuah lembaga pendidikan keagamaan mulai tingkat dasar hingga tingkat universitas dibawah pimpinan Syekh Abu Bakar Ahmed. Beliau adalah ulama besar, memiliki banyak pengikut di India, dan mendapatkan gelar sebagai Mufti India.

Saya merasa senang sekali ketika diminta oleh redaksi bincangsyariah.com, untuk menjelaskan tentang beberapa tradisi khas menyambut dan yang terjadi selama bulan Ramadan di India. Namun, saya hanya bisa menjelaskannya kultur yang ada di kota Kerala, tempat saya tinggal. Perkenalan saya dengan redaksi bincangsyariah ketika saya sedang melakukan safari dakwah ke Indonesia bersama dua orang teman. Itu adalah aktivitas yang biasa ditawarkan kepada para mahasiswa senior di Jamia Markaz, berdakwah ke berbagai macam negara.

Kami ditampung di Majlis al-Fachriyyah pimpinan al-Habib Jindan bin Salim di wilayah Tangerang, sebelum diutus ke wilayah-wilayah di Indonesia. Satu orang teman ke Medan, yang satu ke Kalimantan, dan saya di Papua Barat. Sebelum ke Indonesia, kami mendapatkan kontak dari rekanan kuliah teman kami yang sedang belajar di Qatar. Rekanannya adalah orang Indonesia, ia yang memberitahu kami ada lembaga di bidang penelitian dan pelatihan hadis bernama el-Bukhari Institute. Jadilah kami kemudian bertemu dan silaturahmi masih terjalin sampai saat ini.

Baca Juga :  Mengenal Ragam Paham Syiah

Tradisi Masyarakat Kerala Menyambut Ramadan

Ada beberapa tradisi menyambut bulan suci ramadan yang menurut kami ternyata mirip dengan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Menjelang ramadan, orang-orang mengumandangkan takbir keliling lingkungan, sebagai pertanda bahwa mereka akan segera memasuki bulan Ramadan. Kami biasa menyebutnya ramadan rallies.

Di Kerala, biasanya menjelang Ramadan masyarakat secara bersama-sama ramai-ramai membersihkan masjid dan rumahnya. Bahkan di kampus tempat saya belajar, Jami’a Markaz, tiga hari sebelum masuk bulan Ramadan dilakukan bersih-bersih total kampus dan kegiatan perkuliahan diliburkan.

Orang Hindu Ikut Berpuasa dan Budaya Buka Bersama

Tetangga masyarakat muslim yang beragama Hindu, sering juga ikut berpuasa bersama umat muslim. Dalam tradisi Hindu sendiri, mereka sebenarnya memiliki juga ajaran untuk berpuasa. Karena itu, ikut menjalankan puasa bersama dengan umat Muslim bagi mereka bukanlah sesuatu yang aneh dan tidak terbiasa. Sebagian dari mereka melihat puasa baik untuk kesehatan.

Bahkan, selama Ramadan mereka juga ikut berkontribusi memberikan santapan berbuka ifthar dan mengantarkannya ke tetangga-tetangga yang Muslim. Jadi, perlu saya catat disini bahwa budaya buka berpuasa bersama (ifthar sessions) juga kuat disini. Dari sudut pandang saya pribadi, keluarga kami bahkan biasa mengadakan kegiatan buka puasa bersama selama tiga puluh hari penuh. Kami mengundang para tetangga, pemuka agama, dan siapa saja yang mau membatalkan puasanya di hari tersebut. Kegiatannya sederhana, duduk, berdoa bersama, kemudian menikmati jamuan yang dihidangkan.

Terkadang diadakan juga acara berbuka puasa bersama kelompok masyarakat, ada juga berbuka puasa di rumah tokoh, seperti ketika kami berbuka dengan pemimpin lembaga pendidikan kami, Syekh Abu Bakar Ahmed, di rumah beliau.

Tradisi Berbuka Puasa Bersama di Kerala

Kembali ke sesi berbuka puasa dengan masyarakat Hindu, orang Hindu juga menyediakan makanan untuk mereka berbuka. Layaknya orang Islam. Keluarga muslim – seperti keluarga saya – juga menerima jamuan dari tetangga yang beragama Hindu. Saya melihat ini sebagai tradisi yang bagus sekali. Meskipun, orang tua saya (ayah dan ibu) punya pandangan bahwa mereka enggan membatalkan puasa dengan makanan antaran dari tetangga yang Hindu. “Kurang barokah”, kata beliau.

Baca Juga :  Rahasia Dibalik Harakat Kasrah pada kata al-'Ilmu (العلم)

Di tempat-tempat kerja semisal di kantor, biasanya juga ada pengaturan jam kerja karena berada di bulan suci Ramadan. Ada juga pengurangan waktu bekerja selama bulan Ramadan yang berlaku bukan hanya kepada umat muslim, tapi seluruh warga negara yang bekerja.

Toleransi begitu baik sebenarnya disini. Meskipun, belakangan mulai terjadi pergesekan kembali antara umat Hindu dan Islam dan hemat kami Pemerintah India saat ini semestinya tidak justru membiarkan atau malah memberi ruang sehingga konflik tersebut terjadi.

Tradisi Ceramah Setelah Tarawih

Di Kerala, saya lihat yang ada kemiripannya dengan tradisi di Indonesia adalah budaya berceramah setelah tarawih. Kami biasa mengundang seorang pemuka agama untuk berceramah. Ada yang berceramah singkat sekitar 15 menit sampai 1 jam. Ada juga yang lama hingga 3 jam. Setelah berceramah, kami juga ada tradisi memberi amplop kepada sang Dai sebagai ucapan terimakasih.

Demikian beberapa catatan saya mengenai sejumlah kultur yang semarak terjadi di bulan Ramadan, yang berkembang di Kerala. Saya rasa, ada banyak budaya yang juga lebih baik banyak terjadi di Indonesia dan tidak saya temukan di Kerala. Misalnya, sebelum shalat zhuhur saat saya berada di Majelis al-Fachriyah, para santri mendendangkan sejumlah shalawat atau puji-pujian sebelum masuk waktu zhuhur. Di lain tempat, saat saya berkunjung ke wilayah Papua Barat, ketika masuk waktu shalat (misalnya saat shalat zhuhur) saya mendengar suara dari masjid memanggil orang-orang untuk melaksanakan shalat zhuhur.

Selama Bulan Ramadan 2019, BincangSyariah.Com menayangkan tulisan tentang  Jejak Islam di Dunia



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here