Jejak Islam di Dunia: Muslim di Rusia dan Hikayat Sahabat Nabi Mengislamkan Raja Bolghar

0
317

BincangSyariah.Com – Selama abad ke-19, puluhan ribu orang Kristen Ortodoks di Tatarstan mengajukan petisi kepada Tsar agar diakui secara hukum sebagai muslim. Tentu mereka sudah tahu resikonya; kemungkinan penangkapan, penjara, deportasi sampai pengasingan. Mereka ini, para orang Kristen Ortodoks yang kemudian akrab dikenal dengan istilah Kräshens. Muslim Tatar juga menyebut mereka Kerashen (bentuk jamaknya; kerashennar) untuk mengekspresikan betapa mereka (muslim) tidak menyukai para Kräshens ini.

Selain itu, muslim Tatar juga mengistilahkan mereka dengan sebutan Makruh (sebuah kata dari Bahasa Arab yang berarti tidak disukai atau dibenci). Para Kräshens yang Makruh ini adalah kripto-muslim yang menyerah pada tekanan pemerintah Rusia untuk kembali ke agama Kristen. Itulah mengapa mereka dinamakan Kräshens (meski istilah ini juga bermakna seseorang yang telah dibaptis).

Pada dasarnya, sejarawan mencatat bahwa masyarakat Tatar (aslinya) adalah orang-orang Islam. Adapun mereka yang dipaksa murtad dan menjadi Kräshens di abad enam belas dan delapan belas adalah orang-orang Islam yang murtad dengan tidak tulus. Mereka yang murtad pada abad enam belas digelari panggilan Starokreshchenye (orang-orang insaf) sedangkan mereka yang murtad di abad delapan belas disebut Novokreshchenye (mualaf baru).

Para Kräshens ini akan kembali memeluk agama Islam jika mereka melihat suatu kesempatan yang tepat. Di dalam bukunya, Becoming Muslim in Imperial Russia, Nilufer menceritakan bagaimana orang-orang ini mengajukan petisi kepada pemerintah Tsar Rusia agar mereka diakui sebagai muslim. Meski gelar Kräshens  sudah mereka sandang, mereka menyatakan diri bukan sebagai orang Kristen dan justru mengamalkan ajaran-ajaran Islam. Petisi itu bagaimanapun menunjukkan para Kräshens yang berani (pada akhirnya) untuk diakui hak-haknya dengan menjalankan iman sesuai yang mereka yakini.

Starokreshchenye atau orang-orang insaf ini juga dikenal sebagai pemeluk agama Kristen lama (old-converts). Kebanyakan dari mereka tinggal di sepanjang sungai dan rute perdagangan Timur Sungai Volga di Kazan, Mamadysh dan Laishevo. Kesemua distrik itu masuk ke Provinsi Kazan. Adapun para mualaf baru (Novokreshchenye) tinggal di bagian selatan Sungai Volga dan Sungai Kama di Provinsi Kazan. Beberapa populasi mualaf baru ini aslinya adalah orang Mishar. Mishar, merupakan salah satu muslim Turki, di mana kelak membentuk grup Nasionalis Tatar pada kondisi Rusia kontemporer.

Baca Juga :  Belajar dari Gus Dur

Leluhur para Mishar ini pernah bergabung dalam elit bangsawan di bawah komando Ivan the Terrible (Ivan IV Vasilyevich) pada awal abad 15 (sekitar tahun 1552) yang ingin menaklukkan Kazan. Peristiwa ini kemudian dikenang oleh Muslim Kazan dengan mendirikan Masjid Kul Sharif yang melambangkan Islam di Rusia juga memperingati Imam Kul Sharif yang telah berjuang mempertahankan Kazan dari pasukan Ivan IV Vasilyevich.

Akan tetapi, meskipun para Kräshens ini aslinya adalah muslim, keputusan mereka memeluk agama Kristen sebab tekanan Tsar menunjukkan mereka tidak begitu teguh dalam meyakini Islam. Dalam hal ekonomi, mereka juga tidak punya ikatan kuat dengan komunitas iman mereka. Ketika orang-orang ini memeluk Kristen Ortodoks, mereka mendapatkan pengucilan. Dengan demikian beberapa dari mereka yang tidak tahan biasanya pergi dari desa-desa mereka. Selebihnya, yang tidak punya nyali atau kesempatan untuk pergi tidak punya pilihan selain tetap tinggal. Sementara mereka tidak bisa pergi ke masjid-masjid di desa karena dilarang oleh gereja dan sanak keluarga, para Kräshens ini akhirnya belajar agama pada Mullah yang mereka baptis sendiri.

Fenomena Kräshens ini sangat unik. Seperti yang pernah saya tulis dalam Kirgiztan, Dari Negeri Dongeng sampai Fenomena ‘Islam KTP’ Pasca Uni Soviet, beberapa orang Kräshens tidak hanya mengaku muslim yang memeluk Kristen Ortodoks namun juga melakukan Shamandyk. Pada beberapa hal dan kesempatan, mereka juga meyakini takhayul dan praktik-praktik pemujaan pada lokasi-lokasi suci. Keyakinan ini, akrab dikenal dengan istilah Shaman (atau Shamandyk di Kirgizstan). Sebuah praktik ritual magis yang tidak hanya meliputi nilai-nilai takhayul namun melibatkan ajaran-ajaran agama. Shaman tidak hanya berada di Asia Tengah dan Rusia namun juga berada di wilayah Asia Timur seperti Jepang.

Baca Juga :  Dari Perang Uhud, Kita Belajar Menyikapi Kekalahan

Kisah Putri Raja Bolghar yang Sembuh dari Lumpuh

Di distrik Mamadysh, Ivan the Terrible mengepung orang-orang Tatar dengan muncha bertekanan tinggi. Muncha, sebuah tempat untuk mandi uap yang tentu sangat panas ini dijadikan alat bagi Ivan untuk memaksa orang-orang Islam Tatar agar mau dibaptis sebagai Kristen Ortodoks. Padahal, berdasarkan sumber literatur, muncha ini memiliki sebuah cerita sejarah yang kuat relasinya dengan Islam.

Dahulu kala, ada seorang putri dari Raja Bolghar yang bernama Tuy Bika mengidap lumpuh. Tuy Bika secara ajaib sembuh dari lumpuhnya setelah dirawat dengan metode muncha oleh tiga sahabat Nabi Muhammad Saw. Karena tiga sahabat itu tiba pada musim salju, dedaunan pohon Birch (pohon Betula) yang dapat menyembuhkan sakit telah gugur. Ketiga sahabat nabi tersebut akhirnya menggunakan hadiah yang diberikan Nabi Muhammad Saw kepada mereka untuk menyembuhkan sang putri Tuy Bika.

Hadiah-hadiah itu rupanya terdiri dari sebuah tongkat, tempat tinta dan surban. Mereka menaruh tongkat ke dalam tempat tinta. Secara ajaib, tongkat itu tumbuh menjadi pohon Birch besar dan ketiga sahabat nabi pun membisikkan sesuatu kepada daun pohon dan dengan itu, ketiga sahabat nabi menyikat putri Raja sampai akhirnya sang putri sembuh dari lumpuhnya. Melihat putrinya yang sembuh, Raja Bolghar yang bernama Aydar pun merasa bersyukur dan memeluk Islam sebagai agamanya.

Cerita ini bukan sekedar cerita legenda. Pada masa itu di Rusia, Kristenisasi menekankan kisah-kisah tentang kematian, pemaksaan keyakinan dan kekosongan spiritualitas, namun sebaliknya narasi Islamisasi lebih menekankan pada penyucian diri dan kesuburan. Peristiwa dimasukannya tongkat ke dalam tempat tinta merupakan perlambang yang dilakukan ketiga sahabat nabi. Mereka bermaksud menghubungkan kembali kerajaan Bolghar saat itu ke masa ketika pertama kali pena menuliskan tentang firman Tuhan dan secara kontekstual melekatkan orang-orang Bolghar pada komunitas Nabi.

Baca Juga :  Kenapa Delapan Zulhijjah disebut Hari Tarwiyah?

Pohon Birch yang menjulang ke langit merupakan simbol yang mengingatkan pada dua pohon mitos dalam kosmologi Islam yaitu pohon kepastian (Syajarat al-yaqin) yang menampung cahaya Nabi Muhammad Saw dari tempat Allah menciptakan seluruh semesta, dan kedua, pohon kehidupan di Surga yang melambangkan kebaikan juga janji kebahagiaan abadi.

Sebab itulah mengapa pohon Birch banyak ditemumkan tumbuh di wilayah Volga-Ural dan khususnya di atas makam wanita. Berdasarkan yang ditulis Annemarie Schimmel dalam Deciphering the Signs of God (Albany,1994), “…merupakan hal lazim menanam pohon Birch pada makam perempuan. Orang-orang percaya bahwa dedaunan pohon Birch menyanyikan doa pada Tuhan dan memberikan kebaikan pada arwah yang sudah meninggal.”

Legenda ini kemudian menekankan betapa tanah Bolghar dahulu mengadopsi nilai-nilai Islam dengan meresapi pengetahuan-pengetahuan Nabi. Legenda ini juga mengklaim bahwa Putri Tuy Bika akhirnya menikahi salah satu sahabat nabi tersebut dan menjadi guru hukum keliling.

Wallahu-a’lam

Selama Bulan Ramadan 2019, BincangSyariah.Com menayangkan tulisan tentang  Jejak Islam di Dunia



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here