Jejak Islam di Dunia: Ketika Qatar Memanjakan Masyarakatnya untuk Ibadah

0
681

BincangSyariah.Com – Alhamdulillah senang sekali saya mendapatkan kesempatan berbagi cerita dan pengalaman tentang bagaimana potret umat Muslim menjalankan ibadah puasa di negara Qatar, tentu dari perspektif saya yang mungkin akan berbeda di mata yang lain. Saya adalah mahasiwa Indonesia yang sudah hampir dua tahun kuliah dan tinggal di Qatar.

Qatar adalah sebuah negara kecil di Teluk Persia, luasnya hanya 11.571 km, atau kira-kira dua kali lebih besar dari pulau Bali. Penduduknya hanya sekitar 2,6 juta jiwa, jauh di bawah jumlah penduduk DKI Jakarta yang sudah mencapai lebih dari 10 juta jiwa.

Negara ini berbatasan langsung dengan Saudi Arabia di bagian baratnya, sehingga masyarakat Qatar cukup menempuh 19 jam perjalanan darat jika ingin melaksanakan umrah ataupun haji. Namun saat ini perbatasan kedua negara ini sudah tidak bisa dilalui seperti dulu baik dari jalur darat, laut, dan udara sejak tahun 2017 ketika beberapa negara tetangga termasuk Saudi Arabia memilih untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar.

Sebagai negara kecil dengan penghasilan besar, Qatar berhasil menjadi negara maju dan berhasil membangun fasilitas dan infrasturktur yang memanjakan penduduknya. Baru-baru ini Qatar juga dinobatkan sebagai negara dengan indeks kriminal terendah di dunia. Sebuah prestasi besar untuk sebuah negara Islam karena bisa mengalahkan puluhan negara maju di belahan Eropa dan Amerika di era modern ini.

Bagi saya, Qatar adalah negara yang sangat menarik dari banyak sisi. Kehidupan masyarakatnya yang sangat heterogen membuat Qatar berjuang keras untuk mempertahankan jati dirinya, dan dalam banyak hal Qatar berhasil untuk itu.

Meriam Menyambut Ramadan

Meriam yang ditembakkan oleh Tentara Nasional Qatar, sebagai pertanda masuknya bulan Ramadan

Beberapa tradisi masyarakat Qatar terkait Ramadan yang masih terlestarikan hingga kini antara lain masih dibunyikannya meriam oleh tentara Qatar di beberapa tempat strategis sebagai penanda waktu berbuka puasa. Ada pula tradisi Garangao di mana anak-anak kecil Qatar di malam kelima belas malam terakhir Ramadan akan memakai pakaian tradisional mereka, pergi ke rumah-rumah tetangga mereka untuk mengumpulkan permen, manisan, dan kacang.

Baca Juga :  Hakikat Simbol Salib Menurut Imam Ibnu Arabi

Kalimat dari saya untuk menggambarkan potret Islam di negara Qatar adalah “the synergy of Islam and good governance”, atau singkatnya tentang bagaimana sebuah negara bisa mengelola dengan sangat baik semua sumber daya alam dan manusianya demi kesejahteran rakyat tanpa terlepas dari nilai-nilai Islam dalam praktik pelaksanaan kebijakannya.

Di hari ke-15 bulan Ramadan, anak-anak di Qatar menggunakan baju tradisional berkeliling ke rumah-rumah penduduk

Salah satu contoh potret Islam yang menarik di Qatar adalah bagaimana pemerintah di sini bisa mengelola dengan baik hampir semua masjid yang ada. Hampir semua masjid di sini adalah aset milik negara sehingga semua pembiayaan dan pengelolaannya diatur oleh pemerintah. Imam dan muazin digaji setingkat pegawai negeri, diberikan rumah dan pendidikan gratis bagi anak-anaknya. Dengan begitu, mereka bisa fokus menjalankan tugasnya. Gaji muazin di sini sekitar 14 juta rupiah perbulan, belum lagi jika ada jamaah dermawan yang kadang tidak tanggung-tanggung jika memberikan uang dapur untuk mereka.

Buka Puasa dan Sahur Gratis sampai Vallet Parking Masjid

Saat Ramadan tiba, hampir semua masjid di sini menyediakan menu berbuka puasa dan sahur secara gratis untuk jamaahnya. Salah satu masjid yang sering saya datangi untuk berbuka puasa adalah masjid Education City yang juga masih satu bangunan dengan Universitas Hamad bin Khalifa tempat saya kuliah.

Masjid ini menyiapkan satu tenda semi permanen berukuran super besar yang bisa menampung lebih dari seribu jamaah khusus untuk berbuka puasa dan bersantap sahur. Sejak pukul 5 sore, masyarakat sudah mulai berkumpul dan secara tertib mengantre untuk mendapatkan jatah satu boks menu berbuka puasa yang dibagikan oleh para voulenteer yang terdiri dari air mineral, jus, susu, kurma, apel, manisan, nasi dan lauknya.

Suasana berbuka puasa di salah satu masjid di Qatar

Tarawih di masjid ini juga terbilang tarawih yang paling nyaman dan top dalam memanjakan jamaahnya. Bagaimana tidak, jamaah yang datang ke masjid dengan mobil bisa memanfaatkan fasilitas vallet parking, dan disediakan tempat khusus penitipan anak semacam day care selama salat tarawih berlangsung agar para orang tua bisa khusyuk salat berjamaah.

Baca Juga :  Jejak Islam di Dunia: Puasa di Kerala, Pintu Masuk Awal Islam di India

Memasuki masjid, jamaah akan disambut dengan wangi khas bukhur yang membuat nyaman dan rileks dalam salat. Salat di masjid ini dipimpin oleh imam-imam pilihan yang sudah terseleksi oleh pemerintah yang sudah pasti baik dan merdu bacaannya. Tidak hanya satu imam melainkan dua imam dalam dalam satu kali tarawih, imam pertama memimpin salat Isya dan empat rakaat tarawih pertama dan imam ke dua memimpin empat rakaat sisanya beserta witir. Di sela-sela empat rakaat tarawih para petugas kebersihan sudah siap siaga berkeliling shaf salat mengambil botol air mineral yang sudah kosong dari para jamaah agar tidak mengganggu salat berikutnya.

Selepas Tarawih, festival makanan tradisional dan internasional juga sudah menunggu di samping masjid bersebelahan dengan taman bermain anak-anak. Di sini mereka biasanya bercengkerama dengan keluarga sambil menikmati kudapan ringan sebelum pulang ke rumah.

Daftar Online untuk I’tikaf

Satu hal lagi menarik dari manajemen masjid ini, para jamaah yang ingin melaksanakan i’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadan nanti harus mendaftarkan diri dari jauh-jauh hari melalui situs online masjid yang disediakan oleh panitia. Hal ini agar panitia bisa mengontrol jumlah jamaah dan fasilitas yang diberikan bisa menjamin kenyamanan maksimal jamah dalam beribadah i’tikaf nanti.

Dengan fasilitas ibadah sebaik dan senyaman ini, wajar jika salah seorang teman kami berkelakar “Orang Qatar rugi sekali jika tak masuk surga, mau sedekah uang banyak, mau ibadah kurang nyaman apalagi.”

Selama Bulan Ramadan 2019, BincangSyariah.Com menayangkan tulisan tentang  Jejak Islam di Dunia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here