Jejak Islam di Dunia: Kenangan Komunitas Muslim Indonesia di Washington D.C

0
99

BincangSyariah.Com – Beberapa dekade terakhir umat Muslim negeri Paman Sam semakin giat memperkenalkan pada khalayak luas makna Ramadan juga nilai-nilai keislaman universal yang terkandung di dalamnya. Meski pemeluk Islam hanya berkisar 3,3 juta dari total 320 juta populasi, kaum Muslim di Amerika mempunyai tradisi khusus yang hanya terjadi di bulan Ramadan.

Beberapa bulan terakhir kemarin kami tinggal di sekitar area Washington DC, Amerika Serikat tepatnya di kota Silver Spring yang berada kurang lebih 5 kilometer arah utara ibukota Amerika. Di jantung kota Silver Spring terdapat komunitas Muslim Indonesia terbesar di kawasan DMV (DC, Maryland, Virginia) yang bernama IMAAM (Indonesian Muslim Association in America). Komunitas Muslim yang telah berdiri sejak awal tahun 1990-an ini bergerak di bidang dakwah, edukasi, amal dan lain sebagainya. Sejak awal berdirinya, IMAAM belum memiliki lokasi khusus untuk melaksanakan pengajian atau majlis keilmuan lainnya.

Akhirnya dengan izin Allah Swt, pada September 2014 komunitas ini resmi membeli sebuah gereja yang selanjutnya disulap menjadi sebuah masjid cantik. Diresmikan langsung oleh presiden SBY saat itu, IMAAM Center menjadi satu-satunya pusat keislaman terbesar khususnya bagi masyarakat Indonesia di kawasan DMV. Sebagai pusat kegiatan dakwah dan event keislaman lainnya, IMAAM Center diproyeksikan menjadi salah satu pioneer perkembangan Islam di kawasan ibukota Amerika Serikat.

Meski umat Muslim Amerika tahun ini harus menjalani 16 jam puasa setiap harinya, hal itu tidak mengurangi kegembiraan mereka dalam menyambut Ramadan. Menurut Imam Mohamed Bashar Arafat dari Muslim Community Center (MCC) yang berpusat di Baltimore, Maryland, Ramadan menjadi bulan yang sangat penting di mana para Muslim dapat lebih sering berkumpul dalam kehangatan silaturahmi. Kita akan melihat indahnya kebersamaan kaum Muslim dari berbagai latar belakang tradisi dan kewarganegaraan yang berbeda. Menurut imam yang berasal dari Damaskus, Syria ini Ramadan menjadi momen paling tepat di mana para muslim Amerika berkesempatan membangun dialog dengan lingkungan setempat. Bahkan di berbagai masjid, mereka mengundang tetangga dan kolega sekitar untuk sekedar iftar bersama sembari berdialog santai meluruskan hal-hal negatif yang media barat ocehkan tentang Islam.

Baca Juga :  Pernah Bilang Alquran Racun, Joram Van Klaveren kini Mualaf

Festival Ramadan

Beberapa tahun belakangan, dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan IMAAM Center kerap mengadakan festival bazar yang biasa disebut Tarhib Ramadan. Acara yang diadakan setahun sekali ini berisi ceramah dan diskusi agama yang dipimpin oleh ustaz Fahmi Zubair, Lc., kontes busana Muslim dari anak-anak hingga remaja, serta acara intinya yaitu bazar mulai dari makanan khas Indonesia sampai busana dan pernak-pernik asli tanah air.

Tidak sedikit dari para hadirin yang begitu antusias mengikuti serunya aktivitas di komunitas Indonesia yang dipimpin oleh Dr. Amang Sukasih. Festival yang diadakan di aula serbaguna masjid IMAAM Center pada Sabtu, 14 Mei tahun lalu mengundang minat umat Muslim maupun non-muslim untuk ikut berpartisipasi atau bahkan hanya sekedar mencicipi kuliner tanah air di negara adidaya ini. Di momen Festival Ramadan pula kaum Muslimin berkesempatan memperkenalkan pada warga setempat tentang Ramadan dan nilai-nilai apa saja yang terkandung di dalamnya. Dengan adanya acara semacam ini diharapkan masyarakat non-muslim di sekitar komunitas dapat memahami arti Islam sebenarnya yang ternyata berbeda dari apa yang selalu diembuskan oleh media.

Non-muslim Ikut Berpuasa

Sebagian besar lembaga pendidikan di Amerika Serikat baik sekolah menengah atas (high school) maupun universitas (college) pada umumnya memiliki badan kemahasiswaan yang memfokuskan diri pada pelayanan keagamaan. Salah satu program kemahasiswaan yang dimiliki oleh para pelajar Muslim di tingkat akademisi ialah Muslim Student Association (MSA). Setiap universitas bergengsi baik negeri maupun swasta dapat dipastikan terdapat MSA dalam struktur kampus. Sebab tak dapat dipungkiri persentase pelajar Muslim di tiap institusi akademis semakin meningkat setiap tahunnya. Para pelajar Muslim mempunyai peran yang besar dalam menyebarkan pemahaman murni Islam di saat banyak isu miring diembuskan media, dan insan intelektual adalah salah satu sasarannya.

Baca Juga :  Jejak Islam di Dunia: Ketika Berbuka Puasa di Sisi Jalan Sudan

Tidak ada bedanya dari komunitas Islam lainnya, para pelajar atau mahasiswa Muslim pun menggunakan momen Ramadan untuk membuka dialog antar agama dengan sebayanya. Ketika banyak kawan non-muslim mempertanyakan kenapa ia tidak makan dan minum sepanjang siang, maka saat itulah pelajar Muslim dapat memperkenalkan Ramadan pada mereka.

Bahkan di Mission High School San Francisco, California ada beberapa guru yang ternyata penasaran apa itu puasa dan pada akhirnya mencoba berpuasa. Kendati merasa payah saat pertama kali menjalaninya, mereka merasakan kenikmatan tiada tara ketika waktu berbuka puasa. Namun karena mereka tidak menjalaninya karena iman pada Allah, maka mereka setidaknya hanya mendapatkan satu dari dua kebahagiaan yang dijanjikan Nabi saw dalam sebuah hadis riwayat al-Bukhori dan Muslim; “Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Namun lain cerita di komunitas Muslim Indonesia; tradisi mengajak iftar para pemuka agama rutin dilaksanakan tiap tahunnya di aula masjid IMAAM Center. Dengan mengundang para imam, pendeta, rabi (pemuka Yahudi) dan pemuka agama lain merupakan agenda tahunan yang selalu dilaksanakan secara hikmat, terbuka dan penuh kekeluargaan.

Salah satu upaya kaum Muslimin dalam “membersihkan” nama Islam yaitu dengan membangun komunikasi lintas agama dan pemikiran. Dengan begitu orang-orang sinis yang awalnya anti-Islam, perlahan mengetahui esensi murni agama yang lahir 1400-an tahun silam dan akhirnya menghormati kaum Muslim sebagaimana mestinya dalam kehidupan masyarakat majemuk.

Ramadan untuk Semua

Datangnya Ramadan ternyata bukan hanya dirasakan manfaatnya oleh kalangan Muslimin Amerika saja, namun juga para pemeluk agama lain. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam ayat yang menyertai kewajiban berpuasa, “syahru romadhona-lladzi unzila fiihi-l-qur-aanu huda-llinnaasi”; dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa keagungan bulan suci Ramadan tidak hanya berlaku bagi kaum Muslimin, melainkan juga bagi seluruh umat manusia bahkan seluruh alam.

Baca Juga :  Membicarakan Sejarah Rasm Usmani

Selama Bulan Ramadan 2019, BincangSyariah.Com menayangkan tulisan tentang  Jejak Islam di Dunia

Tulisan ini sudah pernah dipublikasikan di majalahnabawi.com dengan judul Mengintip Tradisi Ramadan di Negeri Paman Sam



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here