Jejak Islam di Dunia: Ada Makam Wali di Budapest

1
1062

BincangSyariah.Com – Tinggal di Budapest, Hungaria, merupakan hal yang tak pernah terfikir sebelumnya. Sekadar mendengar namanya saja terasa asing. Apalagi seluk-beluk negara maupun kotanya, tak ada bayangan sama sekali. Namun, takdir telah mengantarkan saya untuk mengalami perjumpaan dengan salah satu negara di kawasan Eropa Tengah ini.

Bermula dari tuntutan dari pimpinan kampus (dimana saya mengajar) yang mewajibkan seluruh dosen muda untuk mengambil studi ke luar negeri, maka saya dan beberapa teman lainnya terpaksa memeras tenaga dan mengais biaya untuk memenuhinya. Jala aplikasi ke beberapa perguruan tinggi kita tebar, baik di Amerika maupun di Eropa. Tak semuanya berkabar. Terdapat beberapa perguruan tinggi yang pada akhirnya menerima, meski mereka tak menyediakan beasiswa.

Untuk saya, pengajar dengan penghasilan pas-pasan, beasiswa adalah keharusan. Dari beberapa kampus yang mau menerima, satu di antaranya adalah Central European University yang berlokasi di Budapest, Hungaria. Pilihan terhadap kampus ini tak serta merta, melainkan penuh dengan reka. Hal yang utama adalah pilihan jurusannya. Terdapat satu jurusan spesifik yang sesuai dengan mata kuliah yang saya ampu, yaitu perbandingan hukum tata negara atau comparative constitutional law.

Selain itu, di antara sekian kampus yang menerima, kampus inilah satu-satunya yang memberikan beasiswa secara penuh. Akhirnya, berangkatlah saya ke sana meski perasaan sedih juga melanda karena harus terpisah dengan keluarga (beasiswa tak menanggung keluarga). Namun, di sisi lain, terdapat kewajiban yang harus ditunaikan, tak bisa ditunda.

Gambaran Umum Hungaria dan Budapest

Sebelum berangkat, saya melakukan riset kecil-kecilan tentang bagaimana kondisi di sana. Berdasarkan riset tersebut, saya mengetahui bahwa negara ini berada di kawasan Eropa Tengah yang menjadi pembatas antara kawasan Eropa Barat dan Eropa Timur. Dulunya, Hungaria adalah bagian dari Kekaisaran Austro-Hungaria yang cakupan wilayahnya meliputi negara yang sekarang bernama Austria dan Hungaria. Jika ditarik lebih jauh lagi, Hungaria pernah berada dalam wilayah kekhilafahan Usmani selama kurang lebih 150 tahun. Beberapa situs warisan dari masa tersebut juga masih terawat dengan baik.

Memasuki era modern, terdapat fakta yang menarik yaitu peraih penghargaan Nobel dari negara ini ternyata sangat banyak. Hal ini merupakan hal yang mengejutkan mengingat jumlah penduduknya yang hanya 9,7 Juta orang (penduduk Jakarta 9,6 Juta). Namun, bagi saya tak mengherankan, di berbagai fasilitas publik baik taman, trem, kereta, dan bus saya melihat banyak orang membaca dengan giatnya. Dilihat dari jumlah penganut keagamaan, sebagian besar penduduknya penganut Kristen (dengan berbagai denominasi semisal Katolik Roma, Katolik Yunani, Kristen Ortodoks, dsb). Islam, hanya memiliki 0,06 % dari populasi. Secara postur, orang Hungaria tak jauh berbeda dengan orang Indonesia.

Ibu kota dari Hungaria adalah Budapest. Kota yang sangat indah, menurut saya. Pada tahun 2016, Kota ini juga pernah dijadikan lokasi salah satu film Indonesia yaitu Surga Yang Tak Dirindukan 2. Kota ini adalah kota turis yang sangat multikultur. Kita bisa dengan mudah menjumpai berbagai orang dengan bahasa yang beragam.

Bahasa yang digunakan di Hungaria sendiri adalah bahasa Hungaria yang disebut sebagai bahasa Magyar (mojor). Percayalah, sangat susah untuk mempelajarinya. Namun, untuk golden words (semacam maaf, terimakasih, selamat….) saya harus mempelajarinya. Bahasa Magyar sangatlah unik karena sangat berbeda dengan rumpun bahasa negara-negara yang mengelilinginya. Mempelajarinya, merupakan tantangan dan kesenangan tersendiri.

Menjadi Muslim di Budapest

Secara umum, tak ada hambatan yang berarti bagi saya yang muslim tinggal di Budapest. Kampus menyediakan asrama bagi para mahasiswanya. Di asrama tersebut kita diberikan pilihan untuk memilih satu kamar untuk satu orang atau untuk berdua. Saya memilih yang sekamar untuk satu orang. Pertimbangan utama saya pada waktu itu adalah masalah privasi. Harapannya, dengan adanya kamar sendiri kegiatan kita menjadi lebih terfokus.

Baca Juga :  Kisah Hoax pada Zaman Nabi

Selain itu, saya tidak ingin keberadaan saya (dengan kultur yang berbeda) mengganggu mahasiswa lainnya. Meskipun, sebagai santri, pengalaman untuk tidur dan tinggal dengan berbagai karakter yang berbeda merupakan hal yang biasa. Masalah kebersihan, otoritas kampus sangat menjaga. Asrama tidak menyediakan tempat beribadah untuk mahasiswa. Kita bisa melakukannya di kamar dengan leluasa.

Di kampus, terdapat satu ruangan khusus yang dijadikan sebagai tempat beribadah. Kampus menyebutnya, common praying room. Jangan bayangkan tempatnya luas laksana masjid, melainkan kamar dengan luas sekitar 5 x 6 meteran. Di dalamnya terdapat berbagai perlengkapan ibadah, mulai dari sajadah, tasbih, Al-Quran, Injil, Rosario, Lilin, dsb. Memang, tempat tersebut dimaksudkan sebagai tempat beribadah bagi semua keyakinan.

Tidak ada fasilitas tempat berwudu secara tersendiri. Toilet yang ada, hampir semua berbasis kertas. Artinya, kegiatan buang air kecil atau air besar akan diakhiri dengan mengusap kertas tisu sebagai mekanisme istinja’ nya. Terus terang, saya tidak biasa melakukannya. Sebagai upaya antisipasi, kemana-mana saya selalu membawa air minum dalam botol kemasan.

Pernah suatu saat, petugas kebersihan toilet memandangi saya dengan wajah aneh dan sedikit marah karena saya menaikkan kaki saya ke wastafel. Mungkin, dipikirnya saya tidak beradab sama sekali. Setelah kejadian itu, untuk kebutuhan kesempurnaan wudu, saya tak menaikkan kaki saya namun cukup mengusapkan air ke bagian kaki yang disyariatkan.

Di Budapest, sepengetahuan saya, terdapat dua masjid. Masjid pertama yaitu Budapest Mecset terletak di Fehérvári út 41. Masjid ini cukup besar. Dari kampus CEU, kita tinggal mengambil satu kali trem untuk menuju ke sana. Saya biasanya menunaikan salat Jumat di sini. Khutbah Jumat dilakukan dalam bahasa Arab. Namun, beberapa instruksi pasca dan pra salat Jumat diberikan dalam bahasa Inggris. Beberapa pengurus dan relawan masjid juga dapat memandu dalam bahasa Inggris dengan ramah dan baik.

Masjid kedua adalah Masjid Dar Al-Salam yang berlokasi di Bartók Béla út 29. Jika diukur dari kampus CEU, masjid ini relatif lebih dekat. Masjid ini tidak begitu luas jika dibandingkan Masjid Budapest. Sekitar 70 sampai dengan 80-an orang bisa tertampung disini. Saya pribadi, lebih menyukai salat Jumat di Budapest Mecset.

Meskipun sama-sama berbahasa Arab, namun materi khotbah serta  pembawaan khatib di masjid ini lebih damai dan tenang. Di sisi lain, khatib pada masjid yang satu membawakan materi khutbah dengan tegang dan suara meninggi. Di masjid ini, pembukaan khutbahnya selalu di awali dengan bacaan:

وشَرّ الأمور محدثاتها، وكل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة، وكلّ ضلالة في النار

Makanan Halal

Tidak susah mencari makanan halal di Budapest, bagi yang mau. Terdapat beberapa toko yang menjual daging baik ayam, kambing maupun sapi halal. Jika ingin mencari sayuran, terdapat pasar Asia yang cukup besar di bilangan Vámház krt.5.  Bagi mahasiswa seperti saya, pasar ini adalah surga. Hal ini dikarenakan barang-barang yang saya butuhkan baik beras maupun bumbu, semuanya tersedia dengan harga yang sangat terjangkau. Saya juga kebetulan memiliki langganan toko di pasar tersebut yang merupakan milik dari warga Hungaria muslim keturunan Afghanistan. Mengetahui saya beragama Islam, semua barang yang saya beli diberikan potongan harga yang cukup banyak. The power of assalamualaikum, pikir saya.

Mulai saat itu, saya secara regular berbelanja kebutuhan sehari-hari di toko tersebut. Saya mengalami hal serupa ketika saya membeli kebab di salah satu warung kebab. Di warung tersebut terdapat gulungan kulit berpigura yang bertuliskan lafal surat Yasin. Saya mencoba membaca surat Yasin tersebut. Barokahnya, pemilik warung mendengarnya dan saya diberikan kebab yang melebihi porsi seharusnya. Untuk membalas perlakuan baik dari para saudara Muslim tersebut, saya merekomendasikan beberapa teman saya untuk berbelanja di toko maupun warung tersebut.

Baca Juga :  Benarkah Orang Taat Beragama Bisa Hidup Lebih Sehat?

Makanan halal ala chinese maupun Turki juga tersedia di beberapa spot termasuk di depan masjid Budapest. Terdapat logo halal yang ditempel pada kaca di beberapa warung tersebut.

Ramadan di Budapest

Memasuki bulan Ramadan di Budapest, tentu terdapat hal yang  berbeda. Setidaknya, perbedaan dapat dirasakan melalui durasi puasa dan suasananya. Rata-rata negara di Eropa memiliki masa puasa yang lebih panjang di bandingkan dengan Indonesia. Saya sendiri terbiasa sahur jam 2.30 pagi dan berbuka pukul 8 sampai dengan 8.30 malam. Tak ada acara buka bersama yang dilakukan secara rutin sebagaimana di Indonesia. Selain itu, saat sahur, jangan harap kita akan mendengarkan suara patrol atau lantunan suara merdu nan khas milik Syaikh  Mahmud Khalil Al-Husary menjelang imsak.

Sekali dua kali, beberapa mahasiswa muslim berinisiatif mengadakan berbuka (iftar) bersama. Mahasiswa ini berasal dari berbagai negara semisal Bosnia, Kyrgiztan, Uzbekistan, India, Bangladesh, Turki, Gambia, Nigeria, Tanzania, dan Mesir. Senang bisa mengenal mereka dengan berbagai latar belakang dan cara berislam yang beragam. Masjid-masjid di Budapest selama Ramadan menyediakan makanan-makanan ringan untuk hidangan pembuka.

Sepengalaman waktu di sana, tak ada yang menyediakan makanan berat. Bagi anak kost, makanan berat menjadi hal yang dirindukan. Untunglah, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Budapest mengadakan pula kegiatan berbuka bersama. Staff Kedutaan sangat memahami kebutuhan anak-anak mahasiswa ini dan menyisihkan sebagian makanan untuk bisa dibawa pulang. Masakan Indonesia, adalah hal mewah bagi kami.

Tak ada keistimewaan suasana pada bulan Ramadan, semua berjalan sebagaimana biasa. Warung makanan, klub malam, dan bar buka seperti biasanya termasuk di sekeliling gedung tempat dimana saya belajar. Tak ada kelompok yang memaksakan kehendaknya untuk menutup tempat-tempat tersebut selama Ramadan sebagaimana yang lazim kita temui di Indonesia.

Jejak Sufi di Budapest

Mengunjungi kuburan merupakan tradisi yang saya lakukan semenjak kecil sampai dengan hari ini. Selain mengunjungi kuburan keluarga, hidup di lingkungan tradisi Nahdlatul Ulama (NU) menjadikan saya karib dengan ritual kunjungan ke makam-makam para wali. Begitupun semasa di Budapest, saya bertekad akan menziarahi makam orang-orang suci dan yang terpelajar yang ada di sana.

Akhirnya, saya menemukan bahwa di Budapest terdapat makam seorang sufi bernama Gul Baba. Kedatangannya tercatat bersamaan dengan invasi Kekhalifahan Turki ke Hungaria pada abad ke 16 (sezaman dengan transisi dari Kerajaan Majapahit ke era Kerajaan Demak yang berarti sezaman pula dengan keberadaan Wali Songo). Nama Gul Baba jika ditransliterasi secara bebas berarti Bapak Mawar (Father of Rose). Hal ini dikarenakan Gul Baba dipercaya sebagai pihak yang memperkenalkan bunga ini ke bangsa Hungaria.

Saat Gul Baba wafat, Sultan Sulaiman (dalam literature barat sering disebut sebagai Suleiman the Magnificent yang wilayah pengaruhnya meliputi benua Asia, Afrika dan Eropa) sendiri turut mengangkat peti jenazahnya ke liang lahat. Gul Baba merupakan sosok yang multi-talenta dan  menjalani beberapa profesi mulai dari penyair, tentara, penulis, dan sekaligus filsuf.

Makamnya berada di daerah perbukitan di Jalan Masjid (Mecset utca) dan berada dalam suatu cungkup yang kokoh. Disekelilingnya terdapat taman dengan tanaman bunga yang bermacam-macam. Dalam cungkup, terdapat Nisan yang berbalut kain hijau dengan ornamen kalimat arab. Uniknya, di dalam makam tersebut juga terdapat buku-buku kecil semacam buku yasin tahlil sebagaimana ada pada makam wali-wali yang ada di Indonesia.

Pemerintah Hungaria menganggap bahwa kompleks pemakaman ini adalah bagian dari monumen nasional. Pada momen-momen tertentu banyak peziarah yang datang. Kebanyakan dari mereka berkebangsaan Turki. Namun, kadang-kadang saya juga menjumpai “peziarah” dari Negara-negara lainnya yang tidak beragama Islam. Keragaman pengunjung ini juga bisa saya lihat melalui daftar pengunjung yang ada pada buku tamu. Pada suatu waktu, saya melihat serombongan anak-anak Budapest dengan gurunya menziarahi makam Gul Baba dengan membawa beberapa ikat bunga mawar untuk diletakkkan di pusara dan patung Gul Baba. Hal ini menunjukkan betapa beliau disayangi oleh banyak pihak tanpa melihat latar belakang keyakinannya.

Baca Juga :  Hindari Tiga Hal Tidak Bermanfaat Ini di Malam Hari Raya

Pada tahun 2018 kemarin, pemerintah Hungaria dan Turki yang diwakili masing-masing oleh Perdana Menteri Viktor Orban dan Recep Tayyip Erdogan meresmikan pembukaan situs makam ini bagi publik setelah direnovasi beberapa tahun sebelumnya. Sebagai orang yang hobi ziarah makam (istilah populer belakangan, sarjana kuburan (sarkub)), hampir setiap Kamis saya mengunjungi makam tersebut untuk membaca Yasin dan Tahlil.

salah satu makam sufi terkenal di Budapest, sufi bernama Gul Baba.

Politik Identitas dan Pentingnya Saling Memahami

Tidak dapat disangkal, konflik yang terjadi di wilayah Arab dan sekitarnya telah menjadikan permasalahan baru di beberapa Negara di Eropa, termasuk Hungaria. Gelombang pengungsi yang sebagian besar berasal dari Syiria menjadikan wajah Kota Budapest berubah. Mereka tinggal dan bermukim di beberapa titik kota, terlebih stasiun dan terminal.

Hungaria, jelas bukan tujuan mereka dan hanya menjadi Negara transit sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke Negara Eropa lainnya. Penerapan kebijakan yang tak ramah terhadap imigran menjadikan tak semua imigran menerima perlakuan layak. Sentimen terhadap Islam yang kerapkali dihembuskan melalui media turut pula menjadikan sebagian kecil warga Hungaria menjadi terpengaruh. Suatu sata, saya dan dua teman perempuan (kebetulan yang satu berjilbab) bersantai di salah satu taman kota. Tiba-tiba, datang beberapa orang pemuda yang meneriaki kami dengan ucapan teroris. Namun, mereka tidak melakukan kekerasan fisik.

Di luar itu, kami tak pernah sama sekali mendapatkan perlakuan yang buruk. Sentimen Islamophobia juga muncul bersamaan dengan peristiwa penembakan wartawan Charlie Hebdoe di Perancis serta penembakan di salah satu Universitas di Kenya oleh kelompok Islam garis keras pada saat itu.

Saya sendiri, tidak pernah membicarakan permasalahan keyakinan dengan teman-teman lainnya. Bagi kami, hal itu merupakan urusan masing-masing pribadi. Teman-teman saya baru menyadari bahwa saya beragama Islam justru belakangan setelah mengetahui bahwa saya berpuasa Ramadhan. Salah satunya adalah Boldiszar dan Orhideja.

Boldiszar merupakan teman yang spesial bagi saya. Hal yang membuatnya istimewa adalah karena ia adalah penyandang tuna netra dan sangat pekerja keras. Jika di kelas dia menggunakan laptop khusus yang mengeluarkan suara ketika dipencet tombol-tombolnya. Dalam diskusi di kelas, ia selalu aktif. Kemana-mana, ia mengandalkan tongkatnya. Saya sering membantunya untuk mengambilkan dan membelikan makanan di kantin kampus. Teman lainnya,

Orhideja, terlahir sebagai penganut Kristen Katholik, namun ia mengaku sudah tak sering lagi beribadah. Sebelumnya, mungkin mereka telah banyak membaca dan mendengar tentang Islam dalam konotasinya yang negatif. Namun, setelah berinteraksi lama dengan saya, mereka berpendapat bahwa ternyata Islam tidaklah seseram yang dibayangkan. Mereka menyatakan jika memang suatu saat terdapat berita yang negatif tentang Islam, mereka akan mengingat saya sebagai referensi dan representasi Islam.

Senang sekali rasanya mendengar pernyataan ini. Saya pribadi meyakini bahwa baik buruknya perspektif orang lain terhadap Islam akan ditentukan oleh penganut Islam sendiri. Apakah mereka akan menampilkan Islam yang marah atau ramah, Islam yang bengis atau yang humanis, Islam yang memartabatkan atau Islam yang menistakan, semua adalah pilihan.

Pilihan saya jelas, Islam yang penuh rahmah. Pernyataan merekapun saya timpali dengan menjelaskan kepada mereka bahwa di Indonesia masih banyak orang Islam yang lebih baik dari saya serta berfikiran moderat dan terbuka. Dengan bangga saya ceritakan bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang ramah dan menghormati pilihan keyakinan yang berbeda. Namun, melihat perkembangan Indonesia saat ini, saya merasa tak percaya diri untuk mengatakannya.

Selama Bulan Ramadan 2019, BincangSyariah.Com menayangkan tulisan tentang  Jejak Islam di Dunia

 



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here