Jejak Dunia Islam: White Ramadan, Ramadan di Musim Dingin ala Australia

0
379

BincangSyariah.Com – Australia merupakan negara sub-tropis yang memiliki empat musim dalam setahun. Namun, karena letaknya di Southern Hemisphere, Australia memiliki perputaran cuaca yang berkebalikan dari kebanyakan negara-negara di Eropa (Northern Hemisphere). Misalnya, jika jamaknya di Eropa, Natal disebut White Christmas karena dirayakan ketika salju putih sedang turun lebat-lebatnya di musim dingin bulan Desember, di Australia hari raya umat Kristiani itu justru jatuh pada musim panas yang terik di bulan Desember.

Begitu juga dengan bulan suci Ramadan. Berbeda dengan yang pernah saya jalani selama 17 jam di bawah panas terik matahari ketika mengikuti program Summer Camp di Turki, Ramadan di Australia ini saya hanya perlu berpuasa selama 11 jam saja dan itu pun dengan suhu yang sangat dingin karena sudah memasuki winter. Saya menyebutnya White Ramadan.

Sumber: Al Jazeera

Saya adalah santri beruntung—lulusan Pondok Pesantren Ummul Quro Al-Islami, Bogor—yang sedang melanjutkan sekolah S2 di Monash University, Melbourne. Di tahun kedua studi, saya memutuskan untuk menjalankan puasa sebulan penuh di Negeri Kanguru karena, beruntungnya, saya sudah ditemani oleh istri tercinta. Ini adalah Ramadan pertama kami berdua.

Ramadan ini terasa lebih berat bukan karena cuaca, tapi karena pikiran saya yang masygul memikirkan tesis yang harus segera diselesaikan. Ditambah, saya masih harus masuk kelas yang dimulai pada waktu berbuka puasa. Biasanya, istri saya menyiapkan bekal untuk saya bawa ke kampus dan saya makan sebelum kelas atau di sela istirahat.

Terkait salat tarawih, kebetulan baru dimulai setelah jam kelas selesai. Jadi, selepas belajar saya biasa langsung menuju masjid yang terletak tepat di luar pagar kampus. Namanya Masjid Beddoe (karena berada di Beddoe Avenue) dan di bawah kepengurusan Monash University Islamic Society (MUIS). Salat tarawih di sana dan kebanyakan masjid di Australia dilaksanakan sebanyak 8 rakaat—yang 20 rakaat biasanya hanya di komunitas muslim Turki, Albania, dan negara-negara Asia Tengah lain.

Baca Juga :  Penjelasan Imam al-Ghazali Soal Buka Puasa Secara Berlebihan

Juga, pada saat-saat tertentu MUIS mengadakan iftar atau acara buka puasa bersama semua mahasiswa muslim kampus. Namun, favorit saya adalah berbuka puasa di Masjid Westall, masjid komunitas muslim Indonesia, yang setiap hari mengadakan “bukber” dengan masakan khas Nusantara.

Menjalani Ramadan di luar negeri memiliki tantangan tersendiri, entah masalah cuaca, makanan, atau mungkin warga lokal. Tapi, di Australia saya merasa sangat nyaman untuk berpuasa karena cuacanya yang dingin (tidak membuat haus), durasinya yang lebih pendek dari Indonesia (sahurnya bisa jam 5.30 pagi dan buka puasa jam 5 sore), dan banyaknya komunitas muslim dari berbagai negara yang menyediakan bukber. Dengan support istri tercinta, teman-teman, dan tentunya dosen pembimbing saya bisa khusyuk mengerjakan tesis sambil tetap menunaikan kewajiban puasa white Ramadan.

Selama Bulan Ramadan 2019, BincangSyariah.Com menayangkan tulisan tentang  Jejak Dunia Islam



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here