Jejak Islam di Dunia: Ketika Berbuka Puasa di Sisi Jalan Sudan

0
693

BincangSyariah.Com – Keberagaman wilayah negara di bumi, menyebabkan perbedaan waktu, iklim, corak adat dan budaya pada masing-masing negara. Hal ini menjadikan masyarakat berbeda dalam menjalankan suatu ibadah yang berkaitan dengan waktu, terutama puasa pada bulan Ramadan.

Di Indonesia, biasanya kita berpuasa dengan durasi waktu sekitar tiga belas setengah sampai empat belas jam, yaitu dari Subuh, antara pukul 04.35-04.36 sampai Magrib sekitar 17.46-17.48. Namun bagi Muslim yang berada di Sudan sedikit lebih lama dalam menjalankan ibadah puasa, karena Subuh di Sudan dimulai pada sekitar pukul 04.51-05.02 dan Magrib pada pukul 19.09-19.18.

Di samping durasi waktu yang lebih lama, puasa di Sudan sedikit lebih berat dijalankan dibanding puasa di Indonesia. Ini karena cuaca di Sudan lebih panas dari pada di Indonesia. Puncak musim panas di Sudan terjadi pada bulan Ramadan yang mencapai suhu 46-49 derajat celcius.

Durasi puasa yang lebih lama ditambah musim panas yang begitu menyengat, masih ditambah seringnya terjadi pemadaman aliran listrik di siang hari. Menurut warga sekitar, pemadaman aliran listrik akibat meningkatnya penggunaan pendingin ruangan (baca: AC atau cooler). Hal-hal inilah yang menjadikan puasa di Sudan lebih berat dibandingkan di Indonesia.

Yang terkadang lebih berat dirasakan oleh mahasiswa-mahasiswa Indonesia ketika berpuasa di Sudan –di samping perkara-perkara tersebut- adalah jauh dari keluarga yang biasanya menyiapakan makanan untuk santap sahur. Di Sudan, tidak ada warung makan yang dibuka setelah tengah malam sampai Subuh, berbeda dengan kondisi di Indonesia yang dengan mudah menemukan warung makan pada waktu tersebut. Jadi, mau tidak mau mereka harus menyiapkan makanan sahur untuk diri mereka sendiri.

Namun, tidak berarti menjalankan ibadah puasa di Sudan penuh dengan kesulitan, karena ada hal-hal yang menarik yang memudahkan dan menyenangkan bagi orang-orang yang berpuasa dan tentunya hal-hal tersebut jarang dijumpai atau bahkan tidak ada di Indonesia. Misalnya, beberapa hari menjelang datangnya bulan Ramadan, hampir seluruh masyarakat Sudan saling memberi selamat di antara mereka akan datangnya bulan Ramadan, baik kepada yang mereka kenal maupun tidak, dan mereka juga saling mendoakan agar dimudahkan dalam menjalankan ibadah di bulan tersebut.

Baca Juga :  H.R Hidayat Suryalaga: Penulis Buku 'Nur Hidayat Saritilawah Basa Sunda' yang Fenomenal

Hal yang menyenangkan lainnya, terutama bagi mahasiswa, adalah diliburkannya instansi-instansi pendidikan formal selama bulan Ramadan. Hal ini tentu membantu mahasiswa lebih fokus beribadah pada bulan Ramadan, dan juga hal tersebut dapat meringankan mereka dalam menjalankan ibadah puasa, karena mereka tidak harus panas-panasan ke luar rumah untuk melakukan aktivitas di kampus.

Seperti sabda Nabi Muhammad shollallahu alai wasallam: “Bagi orang yang melaksanakan puasa, ada dua kebahagiaan; kebahagiaan saat berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya”. Maka kami mahasiswa Indonesia yang berada di Sudan pun merasakan kebahagiaan saat tiba waktu berbuka puasa, justru kebahagiaan itu dirasa lebih besar dan terasa lebih nikmat, karena telah berhasil melewati ujian ketika seharian penuh menahan haus, lapar dan panas yang belum pernah ditemukan di Indonesia.

Nah, untuk masalah berbuka ini, masyarakat Sudan yang memang sudah dikenal dermawan. Namun saat bulan Ramadan tiba, kedermawanan mereka meningkat. Di Sudan, orang-orang yang menyediakan takjil dan makanan berbuka puasa justru saling berebut mengajak siapapun orang yang lewat depan rumah mereka untuk berbuka puasa dengan mereka. Seakan-akan menjadi sebuah kehormatan jika mereka dapat melayani orang lain untuk berbuka puasa dengan mereka.

Saking besarnya keinginan mereka mengajak orang lain berbuka puasa, tidak sedikit masyarakat Sudan yang berdiri di jalan raya (mirip di jalan Pantura di Indonesia) untuk menghentikan bus antarprovinsi untuk berbuka puasa dengan mereka, bahkan ada yang sampai memasang batu besar di jalan raya (tentunya mereka menjaga batu itu agar tidak membahayakan bus) agar supir bus benar-benar menghentikan busnya dan menurunkan seluruh penumpang untuk sekadar berbuka puasa dengan masyarakat setempat dan salat Magrib berjamaah di pinggir jalan raya. Ini pemandangan yang biasa di Sudan, berjamaah di samping jalan raya, di tanah yang mirip padang pasir.

Baca Juga :  Ilmu Kalam, Semangka India dan Lalat Berakal

Itu kondisi di jalan raya, kalau di kampung-kampung, hampir semua laki-laki Sudan, ketika berbuka puasa, mereka berbuka puasa di luar rumah, mereka menggelar tikar dan alas-alas tempat duduk dan berkumpul di titik-titik tertentu, ada yang di masjid, ada yang di depan rumah yang pelataran rumahnya luas, ada yang di depan toko, ada yang di pinggir jalan dan lain sebagainya. Waktu Ramadan tahun lalu, ketika saya melewati satu lorong kecil yang berjarak 200 meter, saya menghitung ada delapan tempat orang menyediakan menu berbuka puasa.

Adapun menu berbuka puasa di Sudan, tentu berbeda dengan menu masakan atau jajanan yang ada di Indonesia. Menu khas di Sudan yang paling sering dijumpai ketika berbuka puasa adalah Asidah, rasanya gurih, bentuknya seperti agar-agar di loyang dan disiram kuah tumis sayuran dicampur daging. Ada Balilah, yaitu kacang-kacangan mirip kacang ijo, yang hanya direbus. Ada kurma. Ada roti dengan lauk kentang ditumis dan telor dadar, dan kalau minumannya biasanya ada 6 sampai 10 macam minuman. Dan biasanya kami mahsiswa Indonesia di Madani (kota besar di Sudan), sering mendapat undangan untuk berbuka puasa di salah satu rumah tetangga, biasanya kami dijemput dan diantarkan pulang menggunakan mobil orang yang mengundang, dan biasanya khusus mahasiswa Indonesia di samping mendapatkan makanan-makanan tersebut, kami juga disediakan menu khusus, yaitu nasi kebuli atau nasi putih dengan lauk daging atau ayam.

Bersiap untuk berbuka puasa bersama teman
Bersiap untuk berbuka puasa bersama teman

Setelah berbuka, biasanya kami salat berjamaah di tempat di mana kita makan, bisa di jalan, depan rumah, depan toko, di lorong desa atau yang lainnya, kecuali berbuka di masjid atau tempat yang dekat dengan masjid, maka salat Magribnya di masjid. Nah biasanya, setelah Magrib adat mereka kembali lagi ke tempat berbuka tadi, untuk minum teh dan kopi sambil menunggu salat Isya’.

Baca Juga :  Jejak Dunia Islam: Kisah Muslim di Durham

Setelah azan Isya’ berkumandang, mereka pulang ke rumah lalu ke masjid untuk menunaikan salat Isya’ dan Tarawih, sebagian ada yang menjalankan delapan rakaat, sebagian lain ada yang dua puluh rakaat. Masih ingat beberapa waktu lalu ada video seorang Imam ras afrika yang melantunkan Alquran dengan menggunakan langgam yang mirip langgam jawa? Nah, hal itu biasa dilakukan para Imam di Sudan disini, karena nadanya mirip dengan langgam jawa.

Dan saat hari Lebaran tiba, kebanyakan mahasiswa Indonesia di Sudan, melaksanakan salat Idul Fitri di KBRI di Khartoum dan merayakan Lebaran di sana.

Selama Bulan Ramadan 2019, BincangSyariah.Com menayangkan tulisan tentang  Jejak Islam di Dunia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here