Jejak Islam di Dunia: Kirgiztan, Dari Negeri Dongeng sampai Fenomena “Islam KTP” Pasca Uni Soviet

0
350

BincangSyariah.Com – Sebuah topi bertengger di kenop pintu toilet dan saya tidak paham mengapa ada topi berwarna putih di situ. “Ada apa dengan topi itu?” tanya saya ketika keluar dari toilet. “Sebuah hadist mengatakan yang intinya, kita harus menutupi kepala kita jika hendak masuk ke dalam toilet atau nantinya setan akan mengencingi kepala kita.”

Saya tertegun. Mungkin karena kebodohan dan sempitnya pengetahuan saya mengenai hadist ini, saya cuma bisa diam dan menahan geli. Maka, pada waktu selanjutnya, saya meraih topi itu dan memakainya saat duduk di atas jamban. Saya mengenakan topi putih itu serta membayangkan, sudah berapa banyak air kencing setan berada di atas topi ini. Dan bisa jadi secara gaib sudah mengalir sampai ke pipi dan kedua pundak saya yang menggigil.

(Novel Karpinski Street, Mizanstore:2017)

***

KETIKA menyelesaikan novel Karpinski Street pada tahun 2014, saya mulai berpikir untuk memberi perhatian khusus pada sejarah Islam di Kirgizstan. Tidak menyangka bahwa kesempatan menulis di Bincang Syariah (mungkin) merupakan waktu yang tepat untuk mengkaji literatur tentang itu meski tentu saja tulisan ini masih sangat jauh dari kata pantas.

Kyrgyzstan is a living fairytale, begitu jargon negara yang tersempil di antara Kazakhstan, Uzbekistan, Tajikistan dan Tiongkok ini. Begitu banyak legenda juga folklor mewarnai hampir setiap tempat bersejarah di Kirgizstan. Mulai dari nama Ibukotanya, Bishkek, sampai ke Burana Tower dan Sungai Alamedin. Nama-nama masyarakat etnis Kirgiz pun banyak yang memuat konsep ‘dongeng’. Ayperi misalnya, nama perempuan paling populer di negara itu. Nama Ayperi terdiri dari dua kata dalam bahasa Kirgiz; Ay yang berarti Rembulan dan Peri yang berarti malaikat—bisa juga didefinisikan peri layaknya kata peri dalam bahasa Indonesia.

Kultur Kirgizstan yang serba ‘dongeng’ itu tidak lepas dari pengaruh nomadik di abad-abad sebelum Soviet berkuasa. Dan tidak hanya pada kajian folklor, pengaruh nomadik berperan besar dalam sejarah agama dan keyakinan. Kehidupan nomaden bangsa Kirgiz membawa setidaknya beberapa pengaruh dalam ritual keagamaan masyarakatnya. Islam, sebagai salah satu agama baru setelah kepercayaan-kepercayaan nenek moyang yang telah dianut bahkan berakulturasi dengan budaya setempat. Sesuatu yang mungkin akan terdengar aneh, tapi begitulah kenyataan praktik Islam yang sempat terjadi berdasarkan catatan sejarah di bumi Legenda Kirgizstan.

Sejarah Keberislaman Etnis Kirgiz Sebelum Rezim Soviet

Orang-orang keturunan etnis Kirgiz mengenal istilah Koko Tenir yang disandarkan pada definisi Tuhan. Sebuah istilah yang lazim disebut di kalangan Shamandyk atau Kirgiz Shaman, bahkan mereka yang tergolong ke dalam Bakshy. Istilah Koko Tenir juga sering dipanggil ke dalam beberapa sebutan antara lain Tenir Koldosun, Kuday Koldosun, Tenir Jalgasyn dan Kuday Jalgasyn yang juga dapat diartikan ‘Semoga Tuhan Melindungi’. Namun pada umumnya, orang-orang Kirgiz lebih akrab memanggil Tuhan dengan nama Koko Tenir. Tidak hanya keyakinan terhadap Koko Tenir dari kalangan Shamandyk, keyakinan lain seperti Totemizm, Atalar Kultu yang menghubungkan dua dunia juga telah tumbuh di masyarakat Kirgizstan berabad lalu (Abramzon 1958, Amanaliev 1967, Bayalieva 1972).

Islam mulai berkembang di akhir abad sembilan sampai awal abad kesepuluh (meski pada catatan Rafis Abazov dalam Historical Dictionary of Kyrgyzstan, dikatakan bahwa Turki Khanate telah menyebarkan Islam sejak 552 masehi). Kalender Islam (hijriyah) pertama kali diperkenalkan di Kirgizstan sekitar tahun 622 masehi. Setelahnya, pada tahun 654 masehi, tulisan Arab mulai masuk ke wilayah Asia Tengah termasuk Kirgizstan. Perkembangan Islam bisa dikatakan cukup pesat ketika pemerintahan Qarakhanid berkuasa di tahun 960 masehi setelah mengalahkan Balasagyn dan mendirikan Kirgizstan sebagai negara agama. Penyebaran Islam di wilayah Kirgizstan terus berlanjut sejak tahun tersebut sampai pertengahan abad ketujuh belas (Mokeev 2006:125-136). Selama itu, proses penyebaran agama lain seperti Kristen dan Budha juga ditemukan di Chui dibuktikan dengan bangunan gereja dan kuil-kuil.

Islam dan Praktik Magis

Seperti yang sudah saya kemukakan di awal, Kirgizstan mendapat banyak pengaruh praktik beragama dari kehidupan nomaden. Gaya hidup nomadik sangat mengagungkan keberadaan alam. Hampir semua instrument praktik beragama disertai dengan material alam seperti bebatuan, pegunungan dan pepohonan.

Baca Juga :  Mengenal Sosok Guru Sekumpul, Haul Beliau ke-14 Dilaksanakan Mulai Hari Ini

Di dalam catatan etnografisnya, Ilhan Sahin memaparkan temuan beberapa tempat suci (disebut yiyk dalam bahasa Kirgiz sekarang). Lokasi suci atau yiyk ini rupanya merujuk pada terminologi Mazar yang diserap dari bahasa Arab, Mazaar. Tempat suci ini meliputi pegunungan, bebatuan, gua, bukit, mata air, pepohonan, makam dan batu makam yang memuat makna mazaar (Aitpaeva,2007).

Namun, istilah mazar tidak hanya merujuk pada tempat saja. Mazar dapat diartikan pohon yang tumbuh dengan sendirinya, akan tetapi lebih banyak istilah ini ditafsirkan sebagai tempat yang dihormati. Ritual-ritual yang dilakukan di mazar biasanya disebut dengan yrym-jyrym. Dahulu, masyarakat Kirgiz mengenalnya dengan istilah yrym-darym. Makna dari istilah ini adalah sebuah pencegahan dari hal-hal buruk. Kata darym sendiri bermakna aksi untuk mengusir bentuk negatif yang mengganggu kesehatan manusia.

Ritual yrym-jyrym atau yrym-darym ini tidak dapat lepas dari peran seorang pelaku ritual yang dinamakan Moldo. Yakni seseorang yang telah memiliki tingkat pengetahuan dalam agama Islam. Sang Moldo melakukan praktik ritual tradisional etnis Kirgizstan yang dia kombinasikan dengan salah satu perilaku ibadah Islam yaitu membaca Alquran. Fenomena ini jelas menjadi suatu hal yang unik, sebuah budaya hasil akulturasi (yang percaya atau tidak) masih berlangsung sampai saat ini.

Moldo merupakan terminologi yang merujuk pada sebuah kata dari bahasa Arab (mawlaa) atau mollaa di dalam bahasa Persia. Sebelum Soviet menguasai negeri ini, para Moldo biasanya mendapatkan pendidikan terlebih dahulu di beberapa kota besar seperti Kashgar, Tashkent dan Bukhara. Keluarga nomaden yang kaya akan menyewa seorang moldo yang sudah ‘lulus’ pendidikan ini untuk mengajar ngaji anak-anak mereka selama setahun. Chon moldo, adalah nama yang ditujukan kepada moldo yang dianggap telah memahami agama Islam dan pernah naik haji ke Mekah (di Kirgizstan, haji disebut Ajy).

Sosok Chon moldo biasanya melakukan ritual ibadah, doa dan ritual lain yang kiranya efektif mengatasi permasalahan-permasalahan atau pula menyembuhkan orang sakit. Adapun kategori moldo kedua tidak punya nama istimewa, hanya moldo. Orang yang digelar julukan moldo saja merupakan seseorang yang punya level standar dalam ilmu agama Islam dan juga dalam praktik ritualnya. Uniknya, kategori moldo yang ketiga sekaligus terakhir yaitu chala moldo adalah seseorang yang sama sekali bukan chon moldo atau moldo akan tetapi berusaha mencoba untuk menjadi seorang moldo.

Untuk itu sebabnya, masyarakat Kirgiz harus tahu benar mana seorang moldo dan mana yang bukan. Pada dasarnya, seorang moldo memiliki kemampuan membaca, menerjemahkan dan memahami bacaan surat di dalam Alquran. Jika seorang sakit datang kepada Chon moldo, maka dia akan membaca doa serta menuliskannya ke muska (tulisan ayat Quran atau hadis di atas kertas). Muska ini dikenal masyarakat Kirgiz dengan istilah tumar chiyip berchu dan mereka mematuhi apa yang ditulis sang Moldo di atas kertas itu.

Chon moldo yang ‘sakti’ dikenal masyarakat Kirgiz sebagai sosok yang mampu menyembuhkan penyakit hanya dengan menekan tangannya pada bagian yang sakit sambil membaca doa. Tidak hanya menolong orang sakit, Chon moldo dan para moldo lain akan pergi ke Mazar (tempat suci yang diminta pasien) dan membaca ayat suci Alquran di sana untuk kemudian melakukan ritual. Jika para moldo melakukan ritual berdasarkan referensi ayat Quran dan hadis, maka Bakshy (berasal dari istilah po-shih—bahasa Tiongkok—artinya seorang guru yang mengajarkan agama Budha) cenderung melakukan ritual berdasarkan praktik sihir dan rukiat (Clauson 1972:321, Nadelyaev et al 1969:82). Sama seperti Moldo, para Bakshy juga melakukan ritual di tempat suci (Mazar) namun bedanya, Bakhsy memenuhi ritual dengan sihir, praktik supranatural dan pemanggilan arwah.

Muslim yang Menjalankan Ritual Lokal

Materi wawancara dalam studi etnografis yang terangkum dalam the Living History of Central Asian Peoples Project  menceritakan bagaimana masyarakat Kirgiz muslim ini menjalankan ritual mereka di Mazar. Diceritakan bahwa terdapat sebuah ritual bernama Mazar Taiuu (berdoa di tempat-tempat suci) yang lazim di kalangan masyarakat Kirgiz sampai sekarang dan merupakan warisan terbaik yang selamat dari kelaliman rezim Soviet. Ada dua buah tempat suci yang berjarak hanya 10 kilometer dari Ibukota Bishkek; Baytik Baatyr Kümbözü (makam Baytik Baatyr) dan Özbek Bay Ata Mürzösü (Kuburan Özbek Bay Ata Mürzösü). Dua tempat suci tersebut merupakan yang paling umum dikunjungi di dekat wilayah Bishkek.

Baca Juga :  Hadis-hadis Keutamaan Ibadah Shalat Fardhu

Di sana, para pengunjung (termasuk Moldo) berdoa, memadukan ajaran Islam dan non-Islam dalam ritualnya. Ketika mengunjungi kedua tempat itu, orang-orang lebih dulu mengelilinginya sebanyak tujuh kali atau bisa juga hanya tiga kali seraya merapalkan surat-surat di dalam Alquran. Surat yang dibaca biasanya Surat Al-ikhlas sebanyak tiga kali dan Al-fatiha satu kali. Setelahnya, orang-orang menyandarkan kening mereka ke pintu atau dinding makam, membisikkan lirih harapan-harapan mereka (ada juga yang berteriak). Orang-orang bahkan ada yang mengajak anak-anak mereka turut serta. Mereka percaya dengan melakukan ritual, kehidupan yang lebih baik akan melimpah kepada mereka.

Dengan situasi kehidupan nomaden, perangkat ibadah seperti masjid tentu bukan suatu hal yang diminati. Terminologi ‘imam’ hanya dikenal bagi mereka yang hidup di lingkup perkotaan, tidak pada wilayah di luar Bishkek yang masih menganut nomaden. Akan tetapi, sejarah mencatat bahwa meski hidup mereka masih berpindah-pindah, aktivitas ibadah seperti puasa, salat (dalam bahasa Kirgiz diistilahkan dengan Namaz), haji, dan bahkan kidung Ramadan (Jaramazan) diterapkan di kalangan masyarakat Kirgiz.

Islam di Kirgizstan pada Masa Rezim Soviet

Rezim Soviet memiliki tujuan negara yang kukuh; mereka menciptakan lingkungan Soviet, kultur Soviet, ideologi serta struktur Soviet. Meski rezim Soviet telah mencengkeram Kirgizstan sejak tahun 1917, pemberlakuan non-aktif pada kegiatan keberagamaan baru dimulai pada tahun 1930. Rezim Soviet mengeluarkan perintah, perlawanan dan rangkaian aturan terkait budaya lokal, tradisi juga keyakinan dan agama. Islam dan agama lain (juga keyakinan seperti ritual lokal) di Kirgizstan kala itu otomatis ditiadakan, masjid dan gereja ditutup, propaganda atheisme diberlakukan di seluruh aspek kehidupan masyarakat.

Untuk menghapus keyakinan tradisi lokal dan agama di Kirgizstan, rezim Soviet menyusun strategi melalui sekolah. Tidak hanya untuk membuat generasi muda (dan juga tua) Kirgizstan untuk lupa pada agama mereka tapi juga pada warisan budaya dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Soviet menginginkan anak-anak muda ini menjadi sosok yang ideal sesuai konsep mereka “Soviet Man”.

Muslim Kirgiz turunan Uyghur berjilbab rapat
Muslim Kirgiz turunan suku Uyghur yang berjilbab rapat

Persiapan untuk menjadi Soviet Man ini bahkan harus melewati tiga tahap; pertama Oktyabriat—sekolah kelas satu sampai kelas tiga, kedua Pioner—dari kelas tiga sampai kelas tujuh dan terakhir KomSoMol (singkatan dari Kommunisticheskii Soyuz Molodezhi artinya Persatuan Komunis Muda). Di tahap sekolah KomSoMol ini, jika ada anak muda yang tetap bersikukuh menjalankan Namaz (salat), membaca Alquran atau singkatnya masih beragama dan menjalani praktik ibadah maka mereka akan dikenakan hukuman. Pertama-tama, mereka akan diberi sebuah peringatan (Eskertuu), kedua, penghukuman (Sogush) dan ketiga pemecatan status pendidikan (Jumushtan Ketiret).

Cerita Kenangan Tentang Orang-orang Islam di Ibukota Bishkek, Kirgizstan.

Pada musim dingin awal tahun 2014, tepat di momen umat Kristen ortodoks merayakan natal mereka, saya berkunjung ke Kirgizstan. Beberapa teman etnis Kirgiz yang memfasilitasi saya di sana mengaku kalau mereka muslim. Tapi, selama saya bergaul dengan mereka di sana, saya tidak menemukan satu pun dari mereka melaksanakan salat. Mereka mempersilakan saya untuk salat di ruangan yang bersih dan memberitahu saya beberapa toko makanan yang sebaiknya saya hindari karena tidak dijamin kehalalan makanannya. Namun mereka tidak melakukan hal serupa. Pada suatu kesempatan berkumpul, teman-teman saya yang mengaku muslim itu menggelar pesta kecil-kecilan. Mereka menghidangkan makanan halal di meja saya, sementara wine dan vodka di meja mereka di dapur.

Berfoto bersama Gadis Kirgiz dan Rusia.

Salah satu dari mereka, sebut saja Becka—menuturkan kalau agama bagi mereka hanya seperti identitas. “Saya orang Kirgizstan dan beragama Islam. Itu saja.” Pada tataran pelaksanaan, mereka tidak salat, tidak berpuasa. Gaya hidup mereka pun berlawanan dengan “aturan” sebagaimana layaknya muslim menjalani keyakinannya. Kultur Amerika Serikat dan Eropa adalah panutan mereka, terutama bagi mereka generasi muda yang masih sekolah dan kuliah. Saya mengetahuinya saat mengajar di sekolah tingkat SMP dan SMA juga ketika berkunjung untuk sebuah tur lapangan ke American University of Central Asia di Kawasan Filarmoniya. Meski, tidak semua keluarga Kirgiz demikian. Beberapa muslim etnis Kirgiz juga ada yang relijius dan juga menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah Islam seperti milik pemerintah Kuwait di Bishkek, untuk bekal agama mereka.

Baca Juga :  Thahir Haddad: Pejuang Feminis Tunisia yang Meninggal Dalam Pengasingan

Lain halnya dengan keluarga angkat yang menerima saya tinggal di Kirgizstan. Sebuah keluarga sederhana yang terdiri dari ibu (cerai mati dari suami pertama yang wafat namun menikah lagi dengan seorang pengacara sebagai istri kedua), seorang anak sulung perempuan (yang menjadi ‘pengawal’ saya ke manapun saya pergi) dan seorang anak bungsu laki-laki. Mereka bukan orang-orang Kirgiz. Sang ibu memiliki darah Uyghur yang kuat. Mereka mengatakan bahwa etnis Uyghur mungkin paling didiskriminasi tetapi merekalah yang selama ini memegang teguh ajaran Islam dalam sembunyi-sembunyi saat muslim Kirgiz dipaksa menjadi atheis oleh propaganda Soviet.

“Itu sebabnya mereka (etnis Kirgiz) tidak pernah ada yang salat. Pun jika salat, hanya hari jumat. Tapi selebihnya mereka hidup seperti orang Eropa, tinggal serumah walau belum menikah,” tutur seorang wanita Uyghur yang berusia paruh baya pada saya kala itu. Ketika saya mengajar bahasa Inggris dan budaya Indonesia di sebuah sekolah lokal, salah satu guru yang beretnis Kirgiz meminta foto bersama dengan saya dan menanyakan di mana saya tinggal. Saya menjawab seadanya, bahwa saya tinggal di sebuah apartemen kecil di Jalan Karpinski. Guru itu kemudian bertanya lagi,

“Tinggal dengan siapa?”

“Dengan keluarga angkat yang difasilitasi dari organisasi, Bu.” Jawab saya sopan.

“Bukan itu maksud saya,” ujarnya sambil sedikit berbisik. Si ibu guru ini mendekat ke kuping saya dan berkata lirih, “apa mereka orang Kirgiz?”

Saya menelan ludah, “Bukan.”

“Hati-hati kalau tinggal bersama orang Uyghur. Mereka berbeda. Mereka aneh, tidak seperti kami orang Kirgiz.”

Saya hanya mengangguk. “Ibu asli etnis Kirgiz?”

Wanita itu mengangguk, “Ya, tentu. Saya asli Kirgiz.” Ujarnya penuh kemantapan. Pertanyaan saya itu hanya basa-basi karena sebenarnya etnis Kirgiz dan Uyghur secara fisik cukup mudah untuk dibedakan dan saya cukup mengerti.

Dari percakapan itu saya kemudian mempelajari bahwa Islam yang dibawa pada identitas etnis Kirgiz (setidaknya pada orang-orang yang saya temui) tidak lebih dari ‘warisan’ sejarah. Dulu moyang kami muslim, ya kami muslim, ya kami percaya ada Tuhan, ya kami berbuat baik. Kata-kata itu yang sering keluar dari mereka. Dan ternyata, renggangnya etnis Kirgiz dengan Uyghur sebab dulu Kirgizstan juga pernah mengalami perang saudara. Seperti Indonesia, Kirgizstan adalah negara multikultur dan multietnis. Tidak bisa dikatakan bahwa etnis Kirgiz lah yang merupakan penduduk asli dari negara Kirgizstan, mengingat sejarah kehidupan nomadik mereka. Di kalangan teman-teman etnis Uyghur pun saya menemukan semangat nasionalisme mereka yang tinggi terhadap Kirgizstan dan sejarah bangsanya. Tentang pahlawan Manas dan Balasagyn yang melawan penjajah (invasi Islam ke Kirgizstan). Teman-teman Uyghur masih sangat menghormati pahlawan-pahlawan lokal tersebut dan sama sekali tidak merendahkan mereka hanya karena mereka bukan muslim yang taat.

Yang jelas, ketika saya berada di Kirgizstan, saya cukup merasakan atmosfer kekeluargaan di kalangan umat Islam. Rasa senang ketika ada perempuan yang tidak saya kenal, berpapasan di jalan dan mengucap salam kepada saya karena saya berhijab (di Kirgizstan, perempuan berhijab rapat sudah dapat dipastikan muslim, tidak seperti di Rusia atau negara lain). Atau ketika saya masuk ke sebuah toko makanan dan memilih makanan, penjualnya mengatakan “Maaf, ini tidak boleh untuk muslim.” Dan juga karena saya tinggal bersama keluarga angkat yang begitu hangat, baik dan sabar menghadapi saya yang banyak bertanya. Mereka mungkin muslim yang sangat tekstualis dalam memahami ayat Alquran dan hadis, tapi perilaku mereka tidak pernah memaksa orang lain (meski seiman) untuk percaya atau berpikir seperti yang mereka yakini. Suatu perilaku yang saya kira mestinya dapat kita tiru di dalam kehidupan sehari-hari.

Selama Bulan Ramadan 2019, BincangSyariah.Com menayangkan tulisan tentang  Jejak Islam di Dunia



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here