Jejak Dunia Islam: Kisah Muslim di Durham

0
281

BincangSyariah.Com – “Gimana rasanya jadi muslimah di Inggris? Apakah kamu menjadi korban islamophobia di sana?”

Sebagai seorang muslimah yang menempuh studi di Eropa, ada satu-dua pertanyaan seperti itu yang datang kepadaku. Mengingat aku seorang muslimah yang mengenakan jilbab, identitas sebagai seorang muslim selalu kubawa di manapun aku berada, sehingga aku lebih rawan menjadi sasaran islamophobia.

Sebelum aku menjejakkan kaki di Durham, salah satu desa kecil di bagian utara Inggris Raya (United Kingdom), aku tidak terlalu memusingkan masalah menjadi seorang muslim yang minoritas. Kupikir, Durham sama seperti kota-kota besar di Inggris yang muslim-friendly seperti London atau Birmingham, di mana imigran muslim sangat banyak dan banyak masjid besar sehingga tidak perlu mengkhawatirkan ketersediaan makanan halal. Setidaknya, menurutku menjadi muslim di UK lebih nyaman daripada di negara Eropa lainnya atau bahkan di negara-negara Asia.

Namun Durham memang bukan London; Durham adalah sebuah desa kecil dimana Islam sangat menjadi minoritas. Karena itu, sebagai minoritas wajar jika aku harus mengalami penyesuaian. Sebenarnya, secara penerimaan terhadap muslim, Durham adalah kota yang ramah dan baik. Walau mungkin satu-dua kali kami mengalami rasisme secara verbal, namun overall penduduk Durham tidak seperti itu; penduduk yang sebagian besar merupakan kakek dan nenek pensiunan sangat ramah, kami saling bertukar sapa dan senyum serta bercakap-cakap di jalan.

Prayer Room untuk Semua Agama

Untuk tempat beribadah, sebenarnya kampus menyediakan Prayer Room yang biasa digunakan oleh semua agama, termasuk Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, Buddha dan sebagainya. Sehingga kami bisa sholat di ruangan yang memiliki salib besar menggantung. Prayer Room juga biasa digunakan oleh Islamic Society, yaitu komunitas muslim di Durham University untuk melakukan kegiatan mingguan mengkaji ayat Al-Qur’an. Namun Prayer Room terdekat ada di College yang letaknya agak jauh.

Untungnya, sebagai mahasiswa magister Islamic Finance kami mendapat keistimewaan bisa mengakses Doctoral Training Center for Islamic Finance, yang dihuni oleh sebagian besar muslim. Selain penuh dengan kubikel dan komputer, ada ruangan khusus yang biasa digunakan sholat berjamaah. Namun bila jarak antar kuliah sangat mepet dan tidak sempat ke DTC, kami biasa menggunakan tangga darurat di kampus Business School untuk sholat. Ada beberapa mukena dan sajadah yang disediakan di sudut tangga darurat; sepertinya memang tempat tersebut sudah biasa digunakan shalat.

Durham University menyediakan mushola yang terletak di City Center, yang biasa digunakan oleh komunitas muslim di Durham untuk sekedar sholat atau melaksanakan sholat jumat, dan pada bulan Ramadhan digunakan untuk ifthar (buka puasa) dan shalat tarawih. Namun karena letaknya sangat jauh di City Center (sekitar 45 menit berjalan kaki dari rumah), maka kami tidak terlalu sering ke mushola, kecuali jika kebetulan sedang berbelanja atau berjalan-jalan ke City Center.

Baca Juga :  Masjid Huangcheng: Masjid Tertua di Barat Daya Tiongkok

Mushola ini pun bentuknya merupakan semacam ruko dua lantai yang diberi kunci elektronik dengan password, sehingga tidak terbuka untuk umum. Letaknya persis di belakang Pub Dun Cow yang juga terletak di sebelah Synagogue, sehingga untuk menuju mushola kami harus melewati gang Pub yang remang dan banyak orang berkumpul menikmati alkohol. Karena itu, kami diwanti-wanti oleh kakak-kakak senior agar tidak pulang terlalu malam dari mushola, mengingat kemungkinan berpapasan dengan orang-orang mabuk. Terkadang kami harus menginap di mushola menunggu sampai pagi datang agar lebih aman.

Islam di Durham
Salah satu masjid besar di Durham, terletak di wilayah Stockton

Satu-satunya masjid (yang benar-benar merupakan bangunan masjid) di County (Provinsi) Durham terletak di Stockton, yang dapat ditempuh selama satu jam dengan menggunakan bis dari Durham. Masjid ini hanya dibuka saat waktu sholat saja; selain itu masjid ini terkunci rapat.

Terkadang, aku berada dalam kondisi sangat darurat di mana sedang jauh dari mushola, atau sedang berada di kota lain yang musholanya terkunci dan aku tidak tahu passwordnya. Di saat seperti itu, biasanya aku mencari tempat manapun yang sepi untuk melaksanakan sholat. Kalau sedang di pusat pertokoan, aku mencari kamar pas di toko baju, dan melaksanakan sholat di ruang berukuran 1×1 meter dengan menggunakan jaket sebagai sajadah. Pernah juga suatu saat sedang winter, dimana matahari tenggelam jam 4 sehingga ashar dan maghrib jaraknya sangat mepet. Akhirnya aku sholat di tengah padang rumput dengan beralaskan coat atau sajadah waterproof.

Masih Sulitnya Makanan Halal

Satu hal yang menjadi tantangan besar bagiku di Durham adalah soal makanan halal. Sebagai seseorang yang concern pada isu produk halal-haram (bahkan mengambil skripsi dan penelitian tentang ini), mungkin rasanya hipokrit jika aku tidak mengkonsumsi produk halal. Tapi percayalah, kondisi menjadi minoritas memang tidak semudah itu.

Aku nyaris tidak bisa menemukan makanan dengan label halal di sini, kalaupun ada itu hanya daging-daging di toko halal khusus muslim yang letaknya di luar kota dan tentu saja harganya lebih mahal. Untuk beberapa barang makanan kebutuhan sehari-hari hampir tidak ada yang berlabel halal.

Sehingga, aku berusaha menyiasatinya dengan memperhatikan ingredients, melihat kode makanan, menggunakan scan halal (yang belum tentu info kehalalan semua produk tersedia), atau sekedar mencari label: suitable for vegetarian. Sebelum aku sempat berbelanja ke toko halal, aku hanya memakan seafood dan telur sebagai sumber protein. Sebisa mungkin aku berusaha menjaga agar yang masuk ke tubuh kami hanya makanan halal saja. 

Di City Center Durham, sedikit sekali restoran atau tempat makan yang menjual makanan halal, mungkin hanya ada dua atau tiga restoran saja. Jangan bayangkan restorannya bersertifikasi halal seperti Indonesia; dasarnya adalah kepercayaan. Karena pegawai-pegawai dan pemilik restorannya adalah orang-orang IPB (India, Pakistan, Bangladesh, tiga negara asal imigran muslim yang paling banyak di Durham), maka kami percaya berdasarkan pernyataan mereka bahwa mereka hanya menjual makanan halal dengan daging yang disembelih sesuai dengan syariat Islam.

Baca Juga :  Jejak Islam di Dunia: Kirgiztan, Dari Negeri Dongeng sampai Fenomena "Islam KTP" Pasca Uni Soviet

Biasanya juga aku tidak makan di luar tapi membawa bekal yang dipersiapkan sebelumnya dari rumah. Selain menjaga kehalalan makanan yang kita konsumsi, pastinya membawa makanan dari rumah lebih hemat karena sekali makan di luar bisa menghabiskan 5 pounds (sekitar 100 ribu).

Salah satu penjuang makanan halal di Durham

Namun ketika aku ke Newcastle, kota besar yang berjarak 15 menit naik kereta dari Durham, tentunya pilihan makanan halal dan restoran halal lebih banyak tersedia. Di kawasan Fenham yang banyak tinggal warga keturunan arab, toko-toko besar yang menjual makanan halal banyak tersebar.

Di Stockton yang juga banyak warga komunitas muslim keturunan arab, banyak toko yang menjual daging segar dan frozen food halal. Sekali lagi, harga makanan halal tidaklah murah. Namun alhamdulillah, kami masih bisa mengakses daging atau ayam potong halal walaupun harus menempuh jarak jauh dan merogoh kocek lebih dalam. Barulah di Newcastle kami menemukan Chicken Cottage, restoran fastfood yang sudah memiliki sertifikat halal.

Tantangan lain yang datang tentunya ketika aku bergaul dengan kawan-kawan dari berbagai suku bangsa dan agama. Saat itu aku mengikuti acara formal dinner, kegiatan kumpul-kumpul dan makan malam bersama yang rutin diadakan di college (semacam asrama)-ku. Temanku yang beragama Katolik mengetahui bahwa aku tidak bisa makan halal, dan memberitahuku untuk menghindari menu-menu yang tidak halal.

Aku hanya bisa meringis ketika mengetahui bahwa diantara makanan-makanan sedap yang disediakan tidak ada yang halal atau setidaknya makanan kosher. Akhirnya aku mengambil tahu dan sayur, satu-satunya makanan vegetarian yang tersedia sambil mencatat dalam hati: lain kali kalau mau ikut formal dinner, jangan lupa makan dulu di rumah! Aku pun harus berhati-hati memilih gelas berisi jus apel diantara deretan gelas-gelas berisi wine atau bir.

Ketika Ramadhan datang, tantangan semakin berlipat-lipat bagiku. Selain jauh dari keluarga dan tidak bisa jajan takjil di pasar depan rumah, berpuasa selama 18 jam bukanlah sebuah hal yang mudah. Saat itu (tahun 2018), bulan Ramadhan jatuh pada saat musim panas dimana subuh jam 3 pagi dan Maghrib jam 9 malam. Ditambah lagi, Ramadhan kali ini bertepatan dengan minggu-minggu ujian yang menentukan nilai akhir kuliah dan juga penulisan dissertation.

Awalnya, aku menyangsikan diriku sendiri, apakah bisa tetap berpuasa dengan prima di Ramadhan ini? Apalagi, setiap musim ujian aku memerlukan tenaga ekstra dari suplai air minum dan makanan, karena berpikir memang memerlukan tenaga yang besar. Namun kalau orang-orang lain yang tinggal di UK saja bisa menjalani puasa setiap tahun, kenapa aku tidak? Bismillah saja.

Gimana rasanya ujian di bulan puasa? Berat. Aku biasanya harus selalu minum air putih bergelas-gelas saat belajar agar menajamkan konsentrasi. Namun kali ini aku sulit berkonsentrasi karena kurang minum air. Akhirnya, berdasarkan saran dari senior dan teman-teman, aku membalik pola tidurku. Untuk menyiasati waktu puasa yang sangat panjang, jadwal tidur harus berubah.

Baca Juga :  Di tengah Merebaknya Paham Radikal, Mbah Maimoen Zubair Tekankan Pesan-Pesan Kebangsaan Ini

Merubah Pola Tidur selama Ramadan

Aku tidur di siang hari sehabis ashar, dan terjaga dari maghrib sampai subuh menjelang. Habis subuh sampai zuhur tidur lagi untuk mengganti jadwal tidur malam. Yang sunnah memang tidak tidur setelah subuh. Tapi, ulama setempat menyarankan begitu agar bisa menjalani Ramadhan dengan aman. Sehingga waktu subuh dari jam setengah 3 pagi sampai berbuka jam setengah 10 malam tidak terasa.

Ramadhan tahun ini juga aku merindukan itikaf di Masjid Universitas Indonesia bersama kawan-kawanku. Aku memilih itikaf di rumah karena  tarawih di masjid City Center berakhir jam setengah sebelas sampai jam dua belas malam, yang artinya sudah tidak ada kendaraan umum untuk pulang ke rumah. Suatu waktu aku mengikuti tarawih dan memutuskan untuk pulang dari city center berjalan kaki, aku dan kawan-kawan berpapasan dengan orang-orang mabuk di jalan-jalan. Demi alasan keamanan, aku memilih itikaf di rumah saja.

Namun, Ramadhan di Durham memang menawarkan sesuatu yang berbeda. Setiap hari di Masjid City Center, selalu ada makanan berbuka yang enak-enak, hasil sumbangan dari berbagai komunitas muslim yang tinggal di Durham. Hari ini makanan dari masyarakat muslim Malaysia, hari lain dari muslim Pakistan, Bangladesh, Turki, Lebanon, dan lain-lain. Dan tentunya kami warga Indonesia tak mau ketinggalan. Kami menyumbangkan sate, nasi uduk, dan gado-gado khas Indonesia untuk brother dan sister yang berbuka puasa. 

Selain itu, imam yang memimpin sholat adalah imam dari berbagai negara, salah satunya teman sekelasku yang merupakan Qori ternama dari Nigeria, yang suaranya merdu sekali. Masya Allah, menambah kesyahduan tarawih. Terharu rasanya melihat saudara-saudara muslimin dari seluruh dunia dipersatukan dalam satu ibadah yang sama. Aku melihat bahwa bahkan banyak keberagaman dalam tata cara beribadah; ada yang mengenakan mukena, ada yang mengenakan abaya, ada yang hanya mengenakan jaket dan kerudung. Baru kemudian aku tahu, ternyata hanya muslimah Melayu seperti Indonesia dan Malaysia saja loh yang biasa sholat mengenakan mukena. 

Simpulnya, menjadi minoritas dimanapun memang tidak mudah. Namun aku bersyukur, sebagai muslim aku masih bisa tetap menjalankan kewajiban dan kepercayaanku di Inggris, negara minoritas muslim. Tentunya menjalankan ibadah yang tidak semudah di Indonesia seharusnya bukan menjadi excuse bagiku untuk tidak melaksanakannya; tetapi malah menjadi pemacu untuk tetap berpegang teguh pada agama dimanapun aku berada.

Bagiku, inilah ujian keimanan sesungguhnya: apakah aku masih bisa mengaku dan menjalankan kewajiban sebagai muslim di luar zona nyamanku?

Bersama Periset Ekonomi Syariah di Durham Islamic Finance Summer School

Selama Bulan Ramadan 2019, BincangSyariah.Com menayangkan tulisan tentang  Jejak Dunia Islam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here