Jejak Dunia Islam: Berburu Pahala Ramadan di Negeri Belanda

0
212

BincangSyariah.Com – Amsterdam, tahun ini adalah Ramaḍan kedua saya di negeri kincir angin. Belanda dihuni oleh 17 juta jiwa dimana separuh dari penduduknya adalah atheis –  tidak berafiliasi dengan agama atau kepercayaan apapun. Akan tetapi 4% dari penduduk Belanda adalah muslim. Mayoritas muslim di Belanda berasal dari Turki dan Maroko yang bermigrasi ke Belanda pada tahun 1960 dan 1973 setelah kebangkitan ekonomi Belanda. Saat ini, muslim keturunan Turki dan Maroko telah mencapai generasi ketiga mereka. Bahkan salah satu keturunan Maroko saat ini menjabat sebagai wali kota Rotterdam, Ahmed Aboutaleb. Selain Turki dan Maroko, Indonesia dan Suriname juga menyumbang porsi muslim terbanyak kedua.

Tali sejarah antara Belanda dan Indonesia membawa beberapa keuntungan, salah satunya adalah adanya beberapa masjid Indonesia yang tersebar di Belanda. Masjid-masjid ini dikelola oleh Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa (PPME) yang bertempat di beberapa kota yakni Den Haag, Amsterdam, Rotterdam, Hemskerk, dan Breda. Untuk menentukan awal Ramaḍan, muslim Indonesia di Belanda merujuk pada hasil rukyah yang digawangi oleh ulama di masjid Al Hikmah, Den Haag.

Keputusan masjid Al Hikmah inilah yang kemudian juga dijadikan rujukan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Den Haag sebagai informasi awal Ramaḍan di Belanda. Tinggal di Amsterdam memberikan saya kemudahan untuk mengikuti kegiatan di masjid Al Ikhlash yang dikelola oleh PPME Amsterdam. Salah satunya adalah Tarhib Ramaḍan, kegiatan untuk menyambut Ramaḍan yang diadakan rutin setiap tahunnya.

Belanda adalah negara sub-tropis yang mempunyai empat musim, dan Ramaḍan kali ini berbarengan dengan musim semi yang secara resmi dimulai pada 20 Maret dan berakhir pada 21 Juni. Menjalani puasa di Belanda terasa berbeda dengan di Indonesia, terutama durasi puasa. Jika di Indonesia umat Islam biasa berpuasa kurang lebih 13 jam, di Belanda durasi puasa pada awal bulan Ramaḍan berbeda dengan akhir bulan. Minggu pertama, jarak antara Ṣubuḥ dan Magrib kurang lebih 17 jam, sedangkan minggu terakhir 18 jam. Lamanya durasi puasa juga mau tidak mau membuat kami untuk mengatur pola makan agar ibadah puasa tidak mengganggu rutinitas sehari-hari.

Baca Juga :  Peristiwa Pengafiran di Eropa Abad ke-14 dan 15
Belanda
Suasana Berbuka Puasa di Belanda

Layaknya di tanah air, muslim Indonesia pun juga mengadakan buka bersama. Jika di KBRI ada buka bersama gratis setiap hari Jumat, masjid Al Ikhlas di Amsterdam menyediakan buka bersama untuk para jamaah setiap harinya. Dengan jarak 6-7 jam dari waktu berbuka dan fajar, muslim Indonesia memanfaatkan rentang waktu ini dengan sebaik-baiknya. Begitu pula yang dilakukan muslim Indonesia di masjid Al Ikhlash, ṣalat sunnah tarawih berakhir pada pukul satu dini hari pada hari-hari terakhir Ramaḍan. Namun, hal ini tidak menyurutkan mereka untuk menggelar tadarus bersama selepas tarawih. Tak jarang pula dilanjutkan dengan berdiskusi masalah keagamaan hingga waktu sahur menjelang.

Ada cerita menarik ketika salah satu teman sekelas saya mengirim gambar makanan di akun Instagram-nya. Ketika saya meninggalkan komentar tentang kiriman tersebut, ia lantas meminta maaf karena merasa tidak menghargai saya yang sedang berpuasa. Lantas saya membalas, ‘no no, it’s fine for me. Me fasting doesn’t always mean I have to ask everyone for not eating in front of me or posting any food pictures on their social media. My fasting is my own responsibility.’ Apakah Ramaḍan di sini merupakan keberkahan atau tantangan? You choose. Saya pribadi menjadikannya sebagai sebuah tantangan. Tantangan untuk tetap menjalani puasa dan menyelesaikan studi di saat yang bersamaan. Juga, tantangan untuk berburu pahala dan selalu berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. (Nur Inda Jazilah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here