Jasa Imam Romahurmuzi dalam Kajian Islam

0
1493

BincangSyariah.Com – Imam Romahurmuzi mulai dikenal keluhuran dan kedalaman Ilmunya pada permulaan abad ke 4 setelah hijriyah. Pada masa itu dinasti Abbasiyah mulai melemah, di mana kekuasaan Islam mulai mengecil dan terbatas pada wilayah Baghdad dan sekitarnya. Kekuataan desentralisasi mulai menguat, ditandai dengan bermunculannya kerajaan-kerajaan kecil dan para pangeran memerintah di wilayah mereka tanpa perintah khalifah, sementara beberapa negara Islam yang terkait dengan kekhalifahan hanya sebatas nama saja.

Di sisi lain, meski wilayah kekuasaan dinasti Abbasiyah muali tersentralisasi dan terpecah-pecah namun pada era tersebut justru peradaban Islam telah mencapai puncaknya dan berbagai pusat pengkajian bermunculan. Pada masa itu, peradaban Islam mencapai kematangannya yang sempurna, hal itu tidak lepas dari dukungan pemerintah dalam dunia keilmuan sehingga membuahkan pengaruh yang besar dalam kemajuan peradaban islam. Bahkan pada masa itu gerakan keilmuan tidak hanya terbatas di Baghdad saja, tapi hingga penjuru dunia. Banyak para pengembara ilmu rela menunggu berjam-jam sebelum kelas di mulai agar mendapatkan tempat strategis saat sesi mengaji berlangsung.

Pada masa inilah ahli hadis yang mempunyai nama lengkap Al-Hafiz Abu Muhammad al-Hasan bin Abdur Rahman bin Khalad ar-Ramahurmuzi tumbuh besar. Nama Romahurmuzi dinisbatkan pada nama sebuah kota bernama Ramahurmuz yang dalam Athlas Hadith Al-Nabawi, juga dikenal sebagai kota Isfahan sebuah kota terkenal di tepian Khazastan (Arbastan), Persia.

Para ahli sejarah tidak menyebutkan secara pasti kapan beliau dilahirkan namun pendapat yang rajih mengatakan pada 265 H. Sebab biasanya para ahli hadis mulai mengembara untuk berguru ketika mencapai umur baligh. Sedangkan Imam Ramahurmuzi sudah mulai meriwayatkan dari Ahmad bin Yahya bin al-Halwani pda tahun 276 H dan dari Ahmad bin Abi Khaitsamah serta ulama lainnya dari catatan tersebut para ahli sejarah mengira-ngira kemungkinan kelahiran beliau. Secara garis besar dari catatan periwayatan dapat diketahui, bahwa beliau hidup pada pada awal seperempat terakhir abad ke tiga hingga pertengangan abad keempat dan termasuk ahli hadis senior yang memiliki umur yang cukup panjang.

Sebagaimana diceritakan dalam Mukadimah kitab Al-Muhadits al-Fadhil Baina al-Rawi wa al-Wa’i, Imam Romahurmuzi terus mengembara dalam pencarian ilmu sampai menginjak masa tua dan menjadi ulama besar dalam ilmu hadis. Karena itu beliau dikenal sebagai seseorang yang memiliki banyak sanad hadis.

Sebagai ahli hadis yang bukan orang arab, beliau  termasuk banyak menelorkan karya-karya hadis dan di antaranya adalah

  1. Al-Muhadits al-Fadhil Baina al-Rawi wa al-Wa’i
  2. Adab al-Mawaid
  3. Adab al-Nathiq
  4. Amtsal al-Tanzil Fi al-Quran al-Karim
  5. Amtsal al-Nabi
  6. Rabi’u al-Mutim fi Akhbar al-‘Asyaaq
  7. Risalah al-Safar
  8. Al-Ratsaa wa al-Ta’azy / al-Maratsi wa al-Ta’azi
  9. Kitab al-Raihanataini: al-Hasan wa al-Husain/ Kitab al-Rajhatani baina al-Hasan wa al-Husain
  10. Al-Syaib wa al-Syabab
  11. Al-‘Ilal fi Mukhtar al-Akhbar
  12. Al-Falak fi Mukhtar al-Khabar wa al-Asy’ar
  13. Mubasathah al-Wuzaraa
  14. Al-Nawadir wa al-Syawarid
  15. Al-Manahil wa al-‘Athan wa al-Hanin Ila al-Authan

 

Akan tetapi kitab-kitab tersebut banyak yang tidak sampai kepada kita, sebab sebagian ada yang masih berupa manuskrip, dan sebagian tidak diketahui keberadaannya. Kecuali kitab Al-Muhadits al-Fadhil Baina al-Rawi wa al-Wa’i.

Para ulama hadis menyebutkan kitab karangan Imam Ramahurmuzi itu sebagai kitab yang pertama kali disusun tentang ilmu hadis dalam artian sebagai tulisan terpisah tersendiri dari ilmu lainnya. Karena jika bercampur dengan cabang ilmu yang lain seperti Ilmu Fikih, Ilmu Tafsir dan sebagainya, maka sejatinya ilmu hadis telah ditulis oleh banyak ulama sebelum beliau, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Imam Syafi’i dalam kitab Ar-Risalah. 

Pembahasan ilmu hadis dalam kitab Al-Muhadits al-Fadhil Baina al-Rawi wa al-Wa’i bisa dibilang cukup lengkap membahas seluk-beluk ilmu hadis yang cukup banyak. Banyak ulama mutakhirin yang menukil dari kitab tersebut. Demikianlah pada awal kemunculannya Ilmu hadis sebagai sebuah ilmu itu masih sederhana dan kemudian sedikit demi sedikit mengalami perubahan dan ekspansi pada tema-tema yang dibahas hingga terus disempurnakan oleh para ulama setelahnya.

Wallahu’alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here