Jangan Intimidasi Pelaku Maksiat, Contohlah Sufi Ini yang Bertetangga dengan Para Pemabuk

0
35

BincangSyariah.Com – “Telah tertulis sebagai ketentuan Allah (di Lauhul Mahfuz). Sesungguhnya budak seorang syekh yang berada di suatu daerah akan menjadi tetangga kamu kelak di surga”. Pesan singkat itu terkirim kepada Abu Yazid al-Bustomi, sufi kenamaan berkebangsaan Iran yang terkenal dengan paham ittihad-nya.

Pesan tersebut diterimanya, setelah bermunajat kepada Tuhan, hatinya bersih dan berdoa dalam hati “Ini adalah maqam Muhammad, penghulu para nabi dan rasul. Semoga aku menjadi tetangga beliau di surga.”

Sadar mengenai hal itu, Abu Yazid langsung bergegas pergi mencari tetangga itu untuk menemuianya. Berhari-hari  ditempuhnya, sampai tidak terasa sudah berapa ratus kilo ia berjalan kaki menyusuri panas dan terik matahari.

Dan setibanya di daerah yang dimaksud, Abu Yazid justru menyesal, gundah dan merasa susah. Sebab, di sanalah ia bertanya tentang budak seorang syekh yang diterima dalam isyaratnya. “Mengapa kau menanyakan keadaan hamba sahaya yang fasiq dan pemabuk. Sementara kau sendiri, kau terlihat sangat alim dan shalih,” jawaban itu serempak ia peroleh dari setiap penduduk daerah setempat yang ditanyakannya.

Abu Yazid pun tertunduk lesuh, hatinya campur aduk, tubuhnya terbaring lemah akibat perjalanan yang sangat jauh. Dalam hati ia bergumam “Barangkali pesan singkat yang saya terima itu, berasal dari setan.” Ia pun memutuskan untuk kembali ke kampung halaman.

Namun, Abu Yazid memikirkan kembali tekadnya untuk pulang sembari berkata pada dirinya sendiri “Mengapa aku harus pulang secepat ini, padahal aku telah datang jauh-jauh ke sini? Bahkan aku belum pernah melihat wajahnya sekali saja”. Sekarang tekad untuk pulang dikuburnya dalam-dalam, keputusannya kini bulat menemui budak itu.

Lalu pergilah Abu Yazid dengan penuh semangat menuju tempat tersebut. Di sana, ia melihat sekitar empat puluh orang laki-laki berkumpul sedang minum khamar. Sementara budak yang dicari tersebut duduk di antara mereka. Budak itu sedang asyik berbincang dan melayani para pemabuk itu. Mereka melewati setiap malam hanya dengan menghabiskan khamar sampai pagi hari. Begitu pula budak tersebut setiap hari sibuk menemani dan melayani para pemabuk. Melihat kondisi tidak bersahabat, Abu Yazid kembali dengan putus asa.

Namun, budak itu justru memanggil dan menyapanya “Wahai Abu Yazid, syekh umat Islam apakah kau tidak mau masuk ke rumahku dulu sebentar saja? Padahal, engkau datang dari negeri nun jauh sana dengan capek, susah payah dan kerja ekstra menebas jarak. Hal itu semua kau lakukan demi mencari tetanggamu kelak di surga, bukan? Engkau telah menemukannya. Tapi, saat bertemu kau malah enggan bicara tidak menghampirinya bahkan ingin kembali secepatnya”.

Abu Yazid tercengang keheranan mendengar ucapan budak tersebut, dalam hatinya ia membatin “Ini adalah  rahasia. Bagaimana dia bisa tahu tujuan kedatanganku dan pesan yang aku terima kala itu ”.

“Tidak usah heran begitu karena aku mengetahui maksud kedatanganmu. Masuklah dulu tak usah buru-buru kembali secepat itu”. Maka masuklah Abu Yazid ke rumah budak tersebut, dan saat itu juga percakapan antar keduanya dimulai.

“Wahai fulan, apa yang kau lakukan di tempat ini?” tanya Abu Yazid.

Si budak menjawab “Dahulu tempat ini ramai sekali didatangi pengunjung. Sebelumnya, mereka berjumlah delapan puluh orang laki-laki fasiq. Satu demi satu dari mereka telah bertaubat meninggalkan kebiasaan buruknya yang tidak berguna. Saya sendirian di sini yang mengajak mereka untuk taubat. Sembari melayani saya juga menyuapi sedikit nasihat pada mereka”.

Abu Yazid kembali menimpali pertanyaan “Wahai fulan, kapan kau akan keluar dari jurang kefasikan seperti saat ini?”

“Mereka sekarang tinggal empat puluh orang laki-laki tersisa. Separuh dari mereka bertaubat dan menarik sikap fasiknya. Engkau harus berusaha mengubah dan mencegah keadaan ini. Itulah alasan engkau datang ke tempat ini.” Jawab seorang budak syekh.

Mendengar perbincangan keduanya dan sadar di hadapan mereka adalah seorang sufi kenamaan berasal dari negeri Iran, Abu Yazid al-Bustomi. Maka, mereka semua bertaubat. Sehingga jumlah mereka adalah sebanyak delapan puluh dua orang teman dan tetangga kelak di surga.

Kisah tersebut terekam dalam kitab Mawaidz al-Ushfuriah karya syekh Muhammad bin abu Bakar al-Ushfuriah. Pelajaran penting yang bisa kita tangkap adalah kebaikan bisa kita temui di mana saja, bahkan di tempat yang dianggap hina dan tidak terduga sekalipun. Dan semoga tempat kita berkumpul setiap hari menjadi majelis atau tongkrongan kebaikan.

Artikel ini terbit atas kerjasama dengan Biro Humas, Data, dan Informasi Kementerian Agama RI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here