Jamaluddin Al-Afghani: Tokoh Pembaharu Islam dari Afghanistan

0
24

BincangSyariah.Com – Jamaluddin Al-Afghani adalah salah satu tokoh pembaharu Islam yang menggunakan metode berpikir rasional. Ia memiliki gelar al-Sayyid sejak lahir sebab keluarganya adalah keturuna Nabi Muhammad Saw.

Abad ke-19 sampai abad ke-20 adalah masa-masa di mana umat Islam memasuki sebuah gerbang baru yakni gerbang pembaharuan. Fase pembaharuan kerap disebut sebagai abad modernisme di mana umat Islam dihadapkan dengan kenyataan bahwa barat Barat jauh lebih unggul.

Dalam keadaan tak biasa tersebut, muncul beberapa respons yang beragam, termasuk respons dari berbagai kalangan Islam cara yang memiliki corak keislaman berbeda-beda. Ada kelompok Islam yang merespons dengan sikap akomodatif, ada pula yang menolak sebab Barat adalah hal yang berada di luar Islam.

Pada masa-masa tersebut, hadir Al-Afghani yang merupakan salah seorang rokoh reformis Islam. Ia mempunyai ide-ide kreatif untuk mengembalikan semangat juang umat Islam. Pemikiran utamanya adalah menentang penjajahan negara Barat modern dan melenyapkan sikap taklid di kalangan umat sebab menurutnya sikap tersebut adalah belenggu pola pikir rasional umat Islam.

Jamaluddin Al-Afghani dilahirkan di Asadabad pada 1254H/1838M dan meninggal dunia di Istanbul 1897M. Ia adalah anak dari Sayyid Safdar al-Husainiyyah yang memiliki hubungan darah dengan seorang perawi hadist terkenal yang telah bermigrasi ke Kabul Afganistan, Sayyid Ali At-Turmudzi yang terhubung dengan Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib.

Dalam buku Pembaharuan dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan (1975), Harun Nasution mencatat bahwa masa kecil Jamaluddin Al-Afghani tinggal di Kabul. Ia tekun mempelajari ilmu aqli dan naqli. Ia juga mahir dalam bidang matematika.

Al-Afghani diajarkan mengkaji Al-Qur’an oleh sang ayah, lalu ketika ia beranjak dewasa, ia pun diajarkan Bahasa Arab dan Sejarah. Sang ayah sengaja mendatangkan seorang guru Tafsir, Ilmu Hadist dan Ilmu Fiqih yang dilengkapi juga dengan Ilmu Tasawuf dan Ilmu Ketuhanan.

Baca Juga :  Biografi Singkat Imam Ahmad bin Hanbal

Pada usia 18 tahun, Al-Afghani telah mahir di berbagai bidang keilmuan. Tidak hanya menguasai cabang Ilmu Keagamaan saja, ia pun mendalami Ilmu Falsafah, Hukum, Sejarah, Fisika, Kedokteran, Sains, Astronomi, dan Astrologi. Beberapa guru Al-Afghani antara lain Aqashid Sadiq dan Murtadha Al Anshori.

Sejak kecil, Al-Afghani tumbuh dalam lingkungan keluarga bermazhab Hanafi. Ia lalu bersekolah di Kabul dan menjalani pembelajaran dalam sistem konservatif. Ia mengambil program ekstra kurikuler dalam bidang filsafat dan ilmu pasti. (Baca: Metode Rasional dalam Mazhab Hanafi)

Ia lalu melanjutkan belajar ke India untuk mengikuti program pendidikan dengan sistem kontemporer selama kurang lebih satu tahun. Pada saat di India inilah Al-Afghani mulai mengenal sains dan teknologi modern untuk yang pertama kalinya.

Usai menamatkan pendidikan formal, Al-Afghani mulai melakukan aktivitas pertualangan politik yang bermula dengan mengunjungi Hijaz dan menunaikan ibadah haji ke Mekah pada 1857 M.

Saat kembali dari ibadah haji, ia langsung melakukan aktivitas politik di Afganistan. Sayangnya, perjuangan politik tersebut kurang menguntungkan. Ia pun terpaksa meninggalkan Afghanistan, lalu memutuskan untuk berkelana menuju berbagai negara Islam dan Eropa, berusaha mewujudkan ide-ide pembaharuannya.

Untuk itu ia mengunjungi India, Mesir, Inggris, Perancis, Rusia, dan Turki Usmani. Pada usia 59 tahun di Istanbul Turki, tepatnya pada 9 Maret 1897 M, Al-Afghani mengembuskan napasnya yang terakhir.

Jamaluddin Al-Afghani meninggalkan karya besar yang digemari dan dikagumi baik di Timur atau di Barat. Selama hidup, ia menulis buku “Al-Raddu ‘ala al-Dahriyin” dan menerbitkan majalah “Al-Urwat al-Wusqa” serta mendirikan partai Hizbul Wathan di Mesir pada 1879 M.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here