Jamaah Anshorus Syariah dan Hubungannya dengan Gerakan Ekstremisme

0
14

BincangSyariah.Com – Gerakan sosial bercorak agama tumbuh pesat pasca reformasi. Termasuk di antaranya gerakan sosial-keagamaan yang tidak segan menggunakan strategi kekerasan (baca: teror). Karena menggunakan bahasa agama seperti “jihad”, kelompok ini diidentifikasi sebagai kelompok Jihadis. Terkadang disebut Salafi-Jihadi.

Berakar pada ideologi Darul Islam/Negara Islam Indonesia (DI/NII), muncul kelompok Jamaah Islamiyah (JI) pada 1991, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) pada tahun 2000, Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) pada tahun 2008, dan belakangan Jamaah Anshorus Syariah (JAS) pada 2014.

Sekalipun disangkal, tidak sedikit anggota organisasi-organisasi di atas terlibat dalam aksi terorisme. Secara beruntun, pada mulanya muncul JI pada tahun 90-an. Pasca reformasi, MMI berdiri sebagai wadah yang terbuka dalam mendukung agenda penegakan negara Islam (sering diperhalus dengan ‘syariat Islam’). Ketidak-puasan terhadap MMI, memicu perpecahan dengan berdirinya Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) pada tahun 2008. JI, MMI, dan JAT memiliki tokoh yang sama; Abu Bakar Ba’asyir. Kelompok jihad memiliki relasi dengan organisais jihad global Al-Qaeda.

Antara 2011-2015, kemunculan kelompok jihad yang lebih ekstrem dan brutal, ISIS, telah mendorong timbulnya konflik internal. Konflik ini dipuncaki, dengan takhluknya Abu Bakar Ba’asyir ditandai dengan pemberian sumpah setia ABB kepada pemimpin ISIS, Abu Bakar Al-Baghdadi. Pada umumnya, pengikut setia Abu Bakar Ba’asyir di JAT mengikuti bergabung mendukung ISIS. Tetapi, keputusan itu ditolak oleh orang-orang terdekat Abu Bakar Ba’asyir. Abdul Rahim “Iim” dan Rasyid Ridha, dua anak Abu Bakar Ba’asyir, serta Muhammad Akhwan, pengurus inti JAT, menolak bergabung dengan ISIS. Pada akhirnya, mereka mendirikan organisasi baru yang bernama Jamaah Anshorus Syariah (JAS) pada tahun 2014. Dalam afiliasi globalnya, JAS memilih Al-Qaeda dan Jabhah Nusrah sebagai patron ideologis internasionalnya.

Para pendukung ISIS di Indonesia kemudian mendirikan organisasi baru bernama Jamaah Anshorud Daulah (JAD) dan Jamaah Anshorul Khilafah Daulah Nusantara (JAKDN). Sekalipun sama-sama mendukung ISIS, 30-an serangan teror sejak 2016-2019 di Indonesia, lebih banyak dilakukan oleh pendukung JAD dibanding JAKDN. Dan sekalipun belum pernah secara terbuka menyuarakan serangan teror kepada pemerintah dan publik, JAKDN bukan berarti telah berubah.

Jamaah Anshorus Syariah (JAS) termasuk dalam kategori ini. Tidak melakukan serangan teror bukan berarti mereka berhenti melakukan kaderasisasi dan pergerakan, atau berubah pro dengan ideologi negara bangsa. Perbedaannya dengan JAKDN, JAS berusaha mencitrakan diri sebagai organisasi non-radikal yang peduli terhadap kemaslahatan umat. Upaya ini tentu saja harus berhadapan dengan perspektif para pengamat. Hal ini karena, para pemerhati memasukkan JAS dalam jaringan organisasi ekstremis. Sekalipun tidak tegas, situs trackingterrorisme.org memasukkan JAS sebagai organisasi teror.

Pada 2018, Ali Fauzi pernah menyatakan bahwa dalam kasus pemboman di Surabaya terdapat empat kelompok ekstremis yang sedang bersaing. Mereka adalah JI, JAT, JAD, dan JAS.

Apakah hal ini menunjukkan bahwa JAS merupakan kelompok yang perlu diwaspadai? Febriyanto dalam artikel berjudul  Framing Structure In Radical Islamic Group Social Movements: Case Study Of Jama`Ah Ansharu Khilafah Daulah Nusantara (JADKN) And Jamaah Ansharusy Syariah (JAS), 2020, mencoba menelisik lebih jauh bagaimana JAS mempromosikan diri sebagai organisasi non-kekerasan, tetapi secara ideologi tidak ada bedanya dengan JAKDN.

Menurut Febriyanto, ada tiga dimensi kesamaan JAS dan JAKDN. Pertama, keduanya percaya bahwa umat Islam dalam kondisi dizalimi. Baik di Indonesia maupun di dunia. Kedua, pelaku kezaliman itu adalah Amerika Serikat untuk level internasional dan pemerintah Indonesia pada level nasional. Ketiga, keduanya sepakat bahwa Indonesia adalah negara yang tidak menggunakan Islam sebagai dasar hukumnya. Karenanya, bagi keduanya, tidak ada kewajiban mematuhi hukum yang ada di Indonesia.

Di sini, dapat dipahami bahwa Jamaah Anshorus Syariah (JAS) lebih mirip dengan Jamaah Anshoru Khilafah Daulah Nusantara (JAKDN) dalam beberapa levelnya. Perbedaanya adalah soal afiliasi internasionalnya, dimana JAS mendukung Al-Qaeda/Jabhat Nusrah, sedangkan JAKDN mendukung ISIS. Keduanya, sama-sama belum memiliki anggota yang terlibat serangan teror. Tetapi, ideologi salafi-jihadismenya membuat kita perlu berfikir bahwa apakah mereka kelompok berbahaya? Atau tidak berbahaya?

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here