Jalan Cinta Menuju Makrifat Menurut Jalaluddin Rumi

0
488

BincangSyariah.Com – Rumi adalah seorang sufi besar sepanjang sejarah spritual Islam. Ia mengungkapkan gagasan kesufiannya lebih bersifat mistik-filosofis. Rumi bermain dengan logika bahasa dengan berbagai metafora di seputar fungsi, kekuatan, keperkasaan, dan bagaimana cinta dapat mengantarkan manusia mencapai tingkat penyatuan manusia dengan Tuhannya

Rumi memandang cinta sebagai jalan satu-satunya untuk dapat menghilangkan berbagai penyakit jiwa, seperti bangga dan sombong. Cinta juga dapat mengobati segala kekurangan diri. Cinta seperti bara api yang siap menyala dan membakar segalanya, selain yang dicinta. Tauhid adalah pedang yang jika diayunkan oleh pemiliknya akan dapat membabat semuanya, selain dari Allah Swt. Ungkapan indah dalam Q.S. Az Zumar ayat 22 menyebutkan:

أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِنْ رَبِّهِ ۚ

Maka “apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? “

Mencintai Allah bukanlah sekedar pengakuan formal dari seorang hamba. Ia membutuhkan kerja keras, kesungguhan, dan keikhlasan. Pernyataan cinta kepada Allah harus dimaknai sebagai sebuah proses pendakian. Rumi memandang bahwa puncak Tauhid adalah makrifat. Tentang makrifat, Rumi bersenandung dalam karyanya:

Ahli makrifat adalah jiwa agama dalam kehidupan

Makrifat adalah hasil dari berlakunya asketisme

Asketisme adalah pekerjaan menabur benih

Marifat adalah pertumbuhan dan hasil penanam benih 

Ahli makrifat adalah perintah untuk berbuat benar, dan kebenaran itu sendiri.
Dialah sang raja kita hari ini dan esok seakan adalah hamba untuk benihnya yang baik.

Makrifat adalah puncak tauhid. Makrifat berarti ketersingkapan tirai atau dinding pemisah yang mengantarai seorang hamba dengan Khaliknya. Dalam ketersingkapan tersebut segala rahasia dan pengetahuan Tuhan dapat disaksikan. Makrifatlah memungkinkan terjadinya persekutuan dan perpaduan mistik.

Baca Juga :  Menapaki Jalan Ridha Atas Puisi Jalaluddin Rumi

Ketika mengomentari syair-syair cinta Rumi yang berkaitan dengan makrifat, Kertanegara dalam karyanya “Renungan Sufistik Jalaluddin Rumi” mengungkapkan, bahwa ketika terjadi puncak ekstase cinta terjadilah suatu perpaduan jiwa yang menggambarkan persatuan mistik, di mana sintesa pecinta dan yang dicintai teratasi oleh perubahan bentuk mereka ke dalam esensi “cinta universal”. Cinta universal sepertinya sebutan lain dari makrifat itu sendiri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here