Ja’far bin Abi Thalib: Diplomat Ulung Pemilik Sayap di Surga

1
1259

BincangSyariah.Com – Sejak peradaban manusia mengenal sistem politik meski sangat sederhana, suatu komunitas biasa saling memberikan hadiah maupun meminta bantuan kepada komunitas lain. Bila hal ini bisa kita sebut sebagai diplomasi, maka di masa awal Islam Rasulullah Saw telah mempraktikkannya. Salah satu diplomat yang diutus Rasulullah Saw untuk mencari suaka dan meminta dukungan bagi komunitas musilm yang baru tumbuh adalah Ja’far bin Abi Thalib. Bagimana kisahnya? Artikel ini akan menceritakan biografi Ja’far bin Abi Thalib, sang diplomat ulung yang merupakan kakak kandung dari Ali bin Abi Thalib. (Baca: Akankah Abu Thalib Mendapat Syafaat dari Nabi?)

Latar Belakang Keluarga

Dalam catatan Ibnu Sa’ad dalam kitab Thabaqat al-Kubra Ja’far adalah anak dari pasangan Abu Thalib (nama asli: Abdu Manaf) bin Abdul Muthallib bin Hasyim bin Abdu Manaf dan Fathimah binti Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf. Dari nasab yang disebutkan ini, kita bisa tahu bahwa kedua orangtua Ja’far masih terikat saudara sepupu satu kakek, sama-sama Bani Hasyim. Pasangan ini memiliki putra-putri sebanyak 10 orang, Ja’far adalah putra ketiga setelah dua kakaknya, Thalib dan ‘Aqil. Setelah Ja’far lahirnya Ali bin Abi Thalib, kedua sahabat kaka beradik ini terpaut usia yang cukup jauh, 10 tahun. Begitulah menurut Abu al-Faraj Isfahani dalam kitabnya Maqatil al-Thalibiyyin.

Ja’far bin Abi Thalib menikah dengan Asma’ binti ‘Umais bin Ma’bad. Menurut Ibnu ‘Unabah dalam ‘Umdat al-Thalib keduanya dikaruniai 8 orang anak, empat di antaranya adalah Abdullah, Aun, Muhammad, dan Ahmad. Tiga anak pertama, menurut Ibnu Sa’ad, lahir ketika mereka sedang berada di Habasyah (Abyssinia).

Diplomat Ulung, Kepala Rombongan Hijrah ke Habasyah       

Baca Juga :  Siapakah Wali Nikah Nabi Adam?

Pada masa awal umat Islam terus-menerus terpojok, mereka disudutkan berbagai aspek (politik, sosial, ekonomi). Ja’far adalah termasuk sahabat yang paling awal masuk Islam dan merasakan beratnya cobaan ketika telah masuk Islam. Karena cobaan dirasakan semakin hari semakin berat, Rasulullah Saw kemudian memerintahkan sebagian sahabat untuk pergi mencari suaka ke Habasyah hingga situasi aman. Sebagai sosok yang pemberani, gagah, dermawan, dan orator ulung, sebagaimana ditulis al-Dzahabi dalam Siyar A’lam al-Nubala, Ja’far diangkat Nabi Muhammad saw sebagai kepala rombongan.

Singkat cerita pada tahun ke-5 masa kenabian rombongan yang berjumlah 82 orang ini berangkat ke Habasyah. Setibanya di Habasyah, Raja Habasyah yang bernama Najasyi (Negus) memerintahkan pasukannya untuk membawa rombongan ini ke Mahkamah untuk diinterogasi. Dalam kitab Bihar al-Anwar dikisahkan bahwa dengan suara yang tegas dan berwibawa Ja’far bin Abi Thalib berkata kepada Raja Najasyi, “Wahai Baginda Raja! Kami dahulu adalah orang-orang yang jahil, penyembah berhala, memutus silaturahimi, buruk kepada tetangga, yang kuat memangsa yang lemah, sehingga Allah Swt mengutus seorang Rasul di tengah-tengah kami, dari bangsa kami sendiri. Dia mengajak kami agar mengesakan Allah dan tidak mempersekutukannya dengan apa pun. Dia memerintahkan kami agar berkata jujur, menunaikan amanah, memelihara silaturahmi, berbuat baik kepada tetangga, dan menahan diri dari perbuatan tercela.”

“Karena ajaran-ajarannya itu, kami pun membenarkannya, memercayainya, dan mengharamkan apa yang diharamkan serta menghalalkan apa yang dihalalkannya. Karena itu pula kami dimusuhi kaum kami sendiri. Kami disiksa, dianiaya, dan difitnah. Hingga kami terpaksa pindah ke negeri Baginda. Kami memilih Baginda bukan yang lain, dan kami berharap agar tidak teraniaya di sisi Baginda,” lanjut Ja’far dengan retoris.

Baca Juga :  Cuplikan Haji Orang Indonesia Dulu dan Kini [2]: Kisah Bangkrutnya Usaha Kapal Laut Haji

Dalam pertemuan ini, Ja’far pun membacakan surat Maryam yang berisi kedudukan Maryam dan Nabi Isa dalam ajaran Islam. Ketika mendengarkan ayat-ayat al-Quran, Najasyi menagis. Setelah mendengarkan penjelasan Ja’far, Raja Habasyah ini kemudian menjamin keamanan orang-orang muslim untuk tinggal di negerinya. Ketika datang orang-orang Quraisy menebus rombongan dengan membawa hadiah, agar mereka dipulangkan ke Mekah, Raja Najasyi menolak mentah-mentah.

Ibnu Asakir dalam Tarikh Ibnu Asakir mencatat bahwa orang-orang Muslim di Habasyah menetap selama kurang lebih 14 tahun hingga berakhir pada tahun ke-6 H. Tetapi menurut Ibnu Sa’ad, mereka menetap selama 15 tahun hingga tahun ke-7 H. Dari dua pendapat ini, penulis cenderung memilih pendapat Ibnu Sa’ad karena tibanya Ja’far di Madinah hampir bertepatan dengan kepulangan Rasulullah Saw dari Khaibar, pasca perang Khaibar pada tahun ke-7 H. Hal ini berdasarkan catatan ibnu Qani’ al-Baghdadi dalam Mu’jam al-Shahabah yang meriwayatkan sebuah hadis:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: لَمَّا قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ تَلَقَّانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاعْتَنَقَنِي وَقَالَ: مَا أَدْرِي أَنَا بِفَتْحِ خَيْبَرَ أَفْرَحُ أَوْ بِقُدُومِ جَعْفَرٍ

Dari Abdullah bin Ja’far dari Ayahnya, ia berkata, “Tatkala aku sampai di Madinah, Rasulullah saw menemuiku seraya bersabda, “Aku tidak tahu apakah aku lebih bahagia karena kemenangan di Khaibar atau kedatangan Ja’far.”

Komandan Perang Mu’tah yang Mati Syahid

Setahun berselang setelah sampai di Madinah, Ja’far bin Abi Thalib langsung ditugaskan Rasulullah Saw. untuk menjadi komandan perang pengganti Zaid bin Haritsah menuju Mu’tah untuk melawan pasukan Romawi. Tepatnya pada bulan Jumadil Awal pada tahun ke-8 H. al-Thabari dalam Tarikhnya menulis, “Setelah Zaid syahid, komando pasukan diambil alih Ja’far dan kembali melanjutkan peperangan. Dikisahkan bahwa pasukan musuh mengelilinginya hingga ia turun dari kuda untuk menghadapi mereka. Pada pertarungan itu kedua tangan Ja’far putus oleh tebasan musuh sehingga ia gugur sebagai syahid.”

Baca Juga :  Kajian Shahih Bukhari Hadis Nomor 3; Kondisi Nabi Saat Terima Wahyu di Gua Hira

Menurut catatan al-Thabari, Ja’far bin Abi Thalib wafat di usia yang masih terbilang muda yaitu 41 tahun dan menjadi orang yang ke-10 syahid dalam perang tersebut. Ia bersama syuhada Mu’tah lainnya dimakamkan di Mazar, suatu tempat di dekat Mu’tah (Yordania).

Dalam kitab Ma’rifat al-Shahabah karya Abu Na’im al-Asbihani tercatat sebuah riwayat hadis sebagai berikut:

عَن ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: لَمَّا جَاءَ نَعْيُ جَعْفَرٍ دَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَسْمَاءَ بِنْتِ عُمَيْسٍ، وَقَالَ: إِنَّ جِبْرِيلَ أَخْبَرَنِي أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ اسْتَشْهَدَ جَعْفَرًا، وَأَنَّ لَهُ جَنَاحَيْنِ يَطِيرُ بِهِمَا مَعَ الْمَلَائِكَةِ فِي الْجَنَّة

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Tatkala datang berita duka tentang Ja’far, Nabi Saw datang kepada Asma binti ‘Umais (istri Ja’far), dan berkata kepadanya, “Sungguh Jibril mengabarkan kepadaku bahwasanya Ja’far adalah syahid di hadapan Allah Swt. Ja’far diberikan dua sayap untuk terbang bersama malaikat di surga.”  Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here