Izhar Asatir al-Mudhillin fi Tasyabbuhihim al-Muhtadi : Kitab Kritik Tarikat milik Haji Rasul

0
630

BincangSyariah.Com – Memulai agenda liburan, saya akan membaca satu kitab yang sangat unik, yaitu bantahan terhadap Thariqat Naqsyabandiyah. Judulnya sangat mentereng: Izhar Asatir Mudhillin fi Tasyabbuhihim bi al-Muhtadi, kira-kira artinya: “membuka tirai kesesatan mereka yang seolah-olah seperti orang yang dapat petunjuk.” Judul ini tidak lain menyindir orang tarikat (arab :thariqah), yang dikatakan pengarangnya sebagai pendusta. Zahirnya seperti orang shaleh, padahal isinya sesat, kira-kira begitu pemahaman saya dari judul ini.

Kitab ini terbit lebih dari seabad lalu, yaitu 1327 H. Dicetak di Padang, pada percetakan Voeherding. Saya mendapatkan salinan kitab ini melalui wasilah seorang kawan, yang bermurah hati mengirimkannya dari Perpustakaan Leiden, lebih dari setahun yang lalu.

Setelah agak lama di simpan, baru ia dibaca, sebab membacanya perlu kosentrasi. Kenapa tidak? Untuk merekonstruksi kitab ini secara dalam, kita harus menghubungkannya dengan tiga kitab lainnya, yaitu (1) Izhar Zaghli al-Kazibin karya Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, (2) Tanbih al-‘Awwam karya Syaikh Muhammad Sa’ad al-Khalidi Mungka, dan (3) Miftahu al-Shadiqiyyah karya Syaikh Muhammad Khatib Ali Padang. Tentunya hal ini membutuhkan waktu yang sedemikian luas.

Karya Ayah Buya Hamka

Pengarang kitab ini ialah tokoh ulama yang tidak asing lagi, Haji Rasul. Beliau ialah pionir Kaum Muda di Minangkabau. Dikenal karena keulamaannya, aktivitas dakwahnya, juga polemik-polemiknya yang membuat awal abad 20 penuh dengan dinamika intelektual. Haji Rasul (1875-1945), nama lengkapnya ialah Syaikh Abdul Karim Amarullah al-Danawi, asal dari Maninjau. Beliau tidak lain ialah ayah dari Buya Hamka, ulama dan pujangga yang terkemuka.

Haji Rasul adalah ulama kedua yang secara terang dan keras mengkritik thariqat setelah gurunya Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Sebelumnya, gurunya tersebut telah menulis sebuah kitab yang cukup tebal untuk mengkritisi amalan Thariqat Naqsyabandiyah pada 1906 dengan judul Izhar zaghlil kadzibin. Kitab tersebut mendapat tanggapan dari beberapa ulama Thariqat Naqsyabandiyah di Minangkabau, diantaranya Syaikh Muhammad Sa’ad al-Khalidi Mungka yang menulis kitab dengan judul Irgham unufil muta’annitin dan Syaikh Khatib Ali dengan kitabnya Miftahus shadiqiyyah. Kitab Haji Rasul ini berada pada posisi mempertahankan kitab gurunya, Syaikh Ahmad Khatib, sehingga judul kitabnya hampir mirip.

Baca Juga :  Gus Dur dan Radikalisme

Haji Rasul Mengkritik Tarikat Di Depan Ulama Tarikat Langsung

Bacaan sekilas saya terhadap kitab ini, bantahan yang dikemukakan oleh Haji Rasul terbilang tajam. Argumentasi yang dibangun, selain memakai nash (Alquran dan Hadis), juga berdasarkan pengalamannya yang dekat dengan tradisi tarikat di kampungnya (meskipun kedekatan tidak identik dengan pemahaman). Ayahnya sendiri, Syaikh Amrullah Tuanku Kisa’i, ialah syaikh tarikat yang cukup berpengaruh. Namun, ayahnya tersebut tidak mendapati keadaan anaknya yang membantah pandangannya tersebut karena sudah wafat sebelum masalah thariqat menjadi buah perundingan.

Saya telah membaca membaca beberapa buku bantahan thariqat masa kini, yang ditulis oleh ulama-ulama Saudi, seperti Syaikh Jamil Zainu, atau dari tokoh salafi di Indonesia, seperti Hartono Ahmad Jaiz, namun, menurut pemahaman saya, tidak begitu tajam kalau dibandingkan dengan bantahan yang dikeluarkan oleh Haji Rasul, seratus tahun yang lalu itu.

Kita merasa sangat asyik membaca kisah bantah-membantah tarikat di Minangkabau, seperti yang ditulis Buya Hamka dalam bukunya, “Ayahku.” Dengan bahasa yang menarik Buya Hamka bercerita bahwa ayahnya dengan lantang mengkritisi tarikat di depan ulama-ulama tarikat di Padang, tanpa basa basi. Semuanya ulama-ulama tua itu terdiam, tidak banyak bicara. Demikian cerita Buya Hamka. Sayang, tidak ada pujangga dari Kaum Tua yang menulis kisah tersebut, untuk mengimbangi informasi.

Dalam kitab ini Haji Rasul mengkritisi berbagai hal, bukan hanya tarikat. Beliau juga menjelaskan kesalahan orang Minang belajar tafsir, kritik kenduri kematian, tentang bid’ah, dan lain-lain.

Tanpa basa basi beliau juga menyebutkan kesalahan Imam Rabbani, bid’ahnya Khatam Khawajakan, Zikir Lathaif, dan banyak lagi. Haji Rasul, sebagaimana Syaikh Ahmad Khatib, adalah sosok ulama yang unik. Sebagai pengkritik Thariqat Naqsyabandiyah yang lantang di masanya, namun ia juga pengamal tarikat, sebagaimana disebutkannya dalam catatan hariannya. Meski sering berbeda dengan Ulama Tua, beliau tetap mengidentifikasi diri sebagai pengikut mazhab Syafi’i. Walaupun mendebat ulama-ulama di zamannya, Haji Rasul tetap menulis kitab akidah Asyariyah.

Berhenti Mengkritik di Hari Tua

Baca Juga :  Ibnu Sina dan Problem Kemunduran Nalar

Kitab ini adalah karya yang ditulis pada masa muda Haji Rasul. Di masa tuanya, kritikan-kritikannya terhadap tarikat mulai pelan, dan hilang. Konon, dimasa tuanya ia kembali memakai “sorban”. Seperti anaknya, Buya Hamka, yang ketika muda cukup sering berpolemik. Bayangkan, beliau menyuruh menggantung khalifah-khalifah tarikat di pohon kelapa, di masa mudanya. Ketika usia lanjut, jiwa tasawuf beliau sangat kuat. Afif Hamka bercerita, ketika itu Buya Hamka mengajarkan jama’ah berzikir dengan cara “La Ma’kusah”, zikirnya orang tarikat.

Saya adalah pengamal Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Saya menerima tarikat ini dari dua jalur, dan pernah ditahbis sebagai ahli silsilah dalam dua perhelatan di kampung halaman. Ketika membaca kitab-kitab serupa Izhar ini, tidak malah ragu. Justru, saya semakin menguatkan keyakinan terhadap tarikat. Ulama-ulama tarikat masa lalu telah meninggalkan ketenangan lewat mengamalkan tarikat. Dua dari mereka yang sangat menenangkan itu ialah Syaikh Muhammad Sa’ad al-Khalidi Mungka dan Syaikh Hasan Maksum Imam Paduka Tuan. Sehingga, membaca kitab seperti Izhar, hanya seumpama hiburan, menambah-nambah kaji.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here