Isra’ Mi’raj sebagai Bukti Kecintaan Nabi kepada Umatnya

0
41

BincangSyariah.Com – Momen Isra’ merupakan bagian dari sekian keistimewaan yang disandangkan Allah kepada Nabi Muhammad Saw. Selain sebagai pelipur lara, perjalanan heroik itu juga menjadi media diberikannya pengetahuan kepada Rasulullah. Kita tentu pernah mendengar bahwa di antara tujuan perjalanan Nabi Saw. ialah ke Sidratil Muntaha untuk bertemu Tuhannya. Tetapi siapa sangka, di dalam percakapan Nabi bersama Allah di Sidratil Muntaha ternyata terdapat bukti kecintaan Nabi kepada umatnya.

Disebutkan oleh Syekh Abu Bakr Syatha’ ad-Dimyati dalam Hasyiyah I’anah at-Thalibin ‘ala Halli Alfadz Fath al-Mu’in, bahwasanya ketika Rasulullah menghadap Allah ke Sidratil Muntaha, beliau menunjukkan betapa besar cinta dan kasihnya kepada umat beliau. Hal itu bisa dibuktikan dari lafal bacaan tahiyat yang biasa kita ucapkan dalam salat. Kisah serupa juga termuat dalam Al-Manhal al-‘Amim atau yang lebih terkenal dengan Hasyiyah at-Tarmasi karya Syekh Mahfudz at-Tarmasi, Syarh Kasyifah as-Saja karya Syekh Nawawi al-Bantani, dan lain sebagainya.

Bermula tatkala Rasulullah hendak berjumpa dengan Allah pada malam Isra’, bersama dengan Malaikat Jibril, Nabi Muhammad diliputi oleh awan yang terbuat cahaya dengan pancaran sangat indah ketika melewati Sidratil Muntaha. Malaikat Jibril kemudian memutuskan untuk berhenti di sana dan tak membersamai perjalanan Rasulullah.

Melihat hal tersebut, Nabi Muhammad kemudian bertanya kepada Malaikat Jibril, “Apakah engkau meninggalkanku dan membiarkanku berjalan sendirian?” Lantas Jibril menjawab, “Tiada kemampuan dari kami, kecuali telah ditentukan oleh-Nya posisi yang telah Allah ketahui.” Meski telah mendapatkan jawaban demikian, Rasulullah tetap mengajak Jibril untuk menemani perjalanan beliau. “Berjalanlah bersamaku, walau satu langkah!” ajak Rasulullah. Baru selangkah menemani Rasulullah, Malaikat Jibril merasakan bahwa tubuhnya hampir terbakar oleh cahaya kemuliaan dan keagungan Allah Swt. Bahkan tubuhnya sampai mengecil dan melata layaknya seekor pipit.

Malaikat Jibril hanya memberikan isyarat kepada Rasulullah supaya menyampaikan salam penghomatannya untuk Allah jika Nabi telah sampai di maqam khithab (tempat perbincangan Nabi dengan Allah). Begitu sampai di sana, Rasulullah kemudian mengatakan, “At-Tahiyyat al-mubarakat ash-shalawat ath-shayyibat lillah, (seluruh penghormatan, keberkahan, selawat, dan kebaikan hanya bagi Allah).” Allah pun menjawab salam Nabi, “As-salam ‘alaika ayyuha an-nabiyyu wa rahmatullah wa barakatuh, (semoga kesejahteraan, kasih-sayang, dan keberkahan Allah senantiasa untukmu, Wahai Nabi)”.

Karena kecintaan Nabi kepada umatnya, juga karena kebahagiaan Nabi supaya para hamba Allah yang saleh-saleh mendapatkan bagian tersebut, maka beliau melanjutkan jawaban Allah itu, seraya berkata, “As-salam ‘alaina wa ‘ala ‘ibadillah ash-shalihin, (semoga kesejahteraan senantiasa untuk kami dan hamba-hamba Allah yang saleh)”. Tak lama kemudian, para penghuni langit mengucapkan dua kalimat syahadat karena mendengar percakapan agung itu. Menurut sebagian riwayat, dari situ lah asal bacaan tahiyat yang kita lafalkan ketika salat.

Berdasar percakapan agung tersebut, kita menemukan sebuah bukti otentik akan kecintaan Nabi kepada umatnya. Meski telah diberikan keistimewaan khusus berupa salam kesejahteraan dari Allah (As-salam ‘alaika ayyuha an-nabiyyu wa rahmatullah wa barakatuh), tak lupa beliau memohonkan bagian keistimewaan itu dapat menjadi lebih umum untuk hamba-hamba Allah yang saleh (As-salam ‘alaina wa ‘ala ‘ibadillah ash-shalihin).

Karena ciri khas Nabi Muhammad itu senantiasa menebar kasih dan sayang kepada seluruh umatnya, maka tak sedikit pun beliau melupakan harapan kebaikan untuk seluruh umatnya. Jika Rasulullah mengajarkan untuk mencintai umat beliau, bagaimana bisa kita saling membenci antarsesama umat Muhammad Saw. Padahal betapa pun kita belajar, tidak akan kita temukan ajaran untuk saling membenci umat Rasulullah, karena yang ada hanyalah riwayat untuk saling mencintai sesama.

Pola di atas hampir serupa dengan yang terjadi ketika Nabi Muhammad menerima wahyu dari Allah Swt. berupa surah Ad-Dhuha. Rasulullah ternyata tidak begitu saja menerima keseluruhan isi wahyu itu. Beliau justru melayangkan protes terkait isi firman Allah dalam surah Ad-Dhuha ayat 5, yang berbunyi: “Wa lasaufa yu’thika rabbuka fa tardha, (dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti akan memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas).” [Q.S. Adh-Dhuha (93): 5]

Mendapati ayat yang menyatakan bahwa Rasulullah kelak akan diberi kenikmatan dan kebaikan sangat banyak di akhirat, yang akan membuat beliau rida atau puas. Tetapi beliau menyampaikan satu hal yang tidak akan membuatnya puas. Ketidakpuasan itu ialah apabila ada satu saja umat beliau yang berada di dalam neraka. Sebagaimana sabda beliau yang berbunyi, “Idzan la ardha wa wahidun min ummati fi an-nar, (aku tidak puas apabila ada umatku yang ahli tauhid berada di neraka).”

Itulah kisah pada malam Isra’ yang dapat menjadi pengetahuan bagi kita semua, bahwa Nabi yang mulia tidak mengabaikan umatnya yang kadang melakukan hal hina, Nabi yang pada saat itu sedang berada di atas tidak membiarkan umatnya tenggelam di bawahnya Nabi yang berkedudukan di atas kita semua dan senantiasa menebar kasih dan sayangnya kepada seluruh manusia. Sehingga kita perlu mengoreksi diri, apabila di antara kita–umat Muhammad Saw.–, masih ada benih kebencian. Apalagi apabila kebencian itu muncul sebab hal-hal yang masih bisa ditolerir oleh syariat. Wallahu a’lam bish shawab.

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here