Ismail Fajrie Alatas: Harus Ada Kecerdasan Beragama

0
30

BincangSyariah.Com – Dalam video Youtubenya yang diunggah pada 18 Mei 2020, Ismail Fajrie Alatas membagikan konten bertema kecerdasan beragama yang ia bawakan bersama sang istri, Tsamara Amany.

Ia menyatakan bahwa di satu sisi, ada Islam sebagai ajaran yang ideal yang diikuti. Tapi di sisi lain, kita hidup di dalam konteks sosial kemasyarakatan di mana kehidupan sehari-hari terus berubah.

Jadi, selalu ada ketegangan antara ideal di satu sisi dan realitas kehidupan kita di sisi lain. Sehingga, terkadang menerjemahkan menjadi satu realitas sosial agak sulit sebab kita hidup dalam kompleksitas.

Lantas, apa yang mesti kita lakukan dalam mempraktikkan kecerdasan beragama? (Baca: Tiga Tantangan dalam Kehidupan Beragama)

Dalam video tersebut, Ismail Fajrie Alatas menjawab, “karena kehidupan sosial sangat jauh dari ajaran agama, kita harus ubah kehidupan sosial ini sesuai dengan prinsip Islam.”

Ia lalu menjelaskan bahwa maksud dari mengubah kehidupan sosial sesuai dengan prinsip Islam tidak dalam artian membangun sistem yang baru atau sistem Islami.

Menengok catatan sejarah, ada banyak sarjana Muslim abad pertengahan dan lainnya yang menyadari betul bahwa umat Islam hidup dua sisi. Satu sisi Islam dan satu sisi sosial yang menjadi sangat kompleks dan banyak tantangan.

Para sarjana Muslim kemudian menyadari bahwa umat Islam tidak bisa merealisasikan visi tersebut. Lalu, bagaimana?

Mereka Pun mencari cara untuk hidup sebagai seorang Muslim. Kurang lebihnya, seorang Muslim bisa hidup dengan baik dan bisa menjadi orang yang cerdik pandai dalam beragama.

Dari sinilah kemudian muncul tentang pentingnya konsep kecerdasan beragama. Lalu, bagaimana menjadi panduan bagi setiap manusia yang hidup di era yang tidak menentu ini dengan segala tantangannya?

Ismail menjawab bahwa kita bisa tetap mencoba menjadi seorang Muslim yang baik dengan penuh kecerdasan karena mungkin ajaran agama mengatakan A tapi konteks sosialnya B.

“Pada saat Anda tetap memaksa untuk menerjemahkan konsep agama dalam masyarakat salah satu konflik masyarakat, bukannya justru membawa rahmat maka jadi bencana.” Tegasnya.

Para ulama terdahulu memperkenalkan sebuah disiplin ilmu yang disebut ilmu akhlak. Ilmu akhlak yang selama ini dipelajari di Indonesia adalah tentang toto kromo, menurut orang Jawa atau tata krama.

Para ulama Islam terdahulu seperti Imam Al-Ghazali menulis beberapa buku tentang ilmu akhlak. Apa yang disebut sebagai ilmu akhlak adalah tidak lain dari ilmu-ilmu bagaimana hidup menjadi manusia yang baik di tengah masyarakat.

Ilmu akhlak dimaksudkan untuk memberikan kategori yang berbeda dari ilmu hukum yang bisa menjadi komplemen. Apabila saat Shalat di masjid dilarang karena pandemi Covid-19, maka tetap kategori hukumnya.

Tapi secara etika, persoalan tersebut menjadi eksesif karena memang kategori hukum tidak cukup untuk melihat realitas yang ada. Bagaimana cara umat Islam menghadapinya? Harus ada kecerdasan beragama.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here