Inilah Perhiasan Indah Ketika Kaya

0
1616

BincangSyariah.Com – Dalam realitas masyarakat, kadang kepemilikan atas harta kekayaan merupakan standarisasi dalam menentukan kebahagiaan hidup seseorang. Harta yang melimpah menunjukkan bahwa ia adalah orang yang berbahagia. Dengan asumsi tersebut, manusia cenderung berlomba-lomba untuk memperbanyak harta kekayaan yang dimiliki, karena kebutuhan manusia atau kesenangan manusia terhadap harta sama posisinya dengan kebutuhan hidup manusia terhadap anak dan atau keturunan. Sehingga dengan demikian kebutuhan manusia terhadap harta merupakan kebutuhan yang mendasar.

Hakikat kaya menurut Rasulullah adalah ia yang memiliki kekayaan hati. Maksudnya adalah merasa cukup atas apa yang ada. Sebab yang ada sejatinya adalah itu ynag terbaik menurut Allah, bukan menurut mata manusia. Yang demikian berlandaskan hadis dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Meski sejatinya ukuran kaya bukan dari seberapa banyak harta kekayaannya, namun jika dianugerahkan harta kekayaan yang melimpah tidaklah mengapa. Lagi-lagi kita kita kembalikan ke rencana Allah, bisa jadi memang kondisi kaya adalah kondisi yang terbaik menurut-Nya.

Kekayaan tersebut bisa digunakan dan diinvestasikan untuk apa saja yang dikehendaki, bahkan bisa untuk dipergunakan membeli perhiasan emas, interior rumah, atau perhiasan-perhiasan indah lainnya. Namun yang perlu diketahui adalah perhiasan yang baik dan indah ketika dalam kondisi kaya menurut Ali bin Abi Thalib adalah rasa syukur. Yang demikian tersirat dalam kitabnya al Hikan Ali ibn Thalib sebagai berikut:

والشكر زينة الغنى

Syukur adalah hiasan kekayaan

Syukur adalah akhlak mulia, yang muncul karena adanya rasa kecintaan dan keridhaan terhadap Allah, Sang Pemberi Nikmat. Ibnu Qayyim dalam kitabnya, Thariq al Hijratain, mnjelaskan bahwa hakikat syukur adalah mengakui nikmat Sang Pemberi Kenikmatan dengan penuh ketundukan dan kecintaan kepada-Nya. Ketika keadaan yang ada adalah penuh nikmat atau kaya, maka banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengekspresikan rasa syukur, tentunya tetap dalam jalan ketundukan dan kecintaan kepada-Nya.

Baca Juga :  Abdullah bin Bayah: Pelopor Moderasi dan Perdamaian

Orang kaya yang bersyukur menyadari bahwa apa yang ia punya adalah anugerahkan dari-Nya, sehingga ia akan menggunakannya dengan cara baik menurut-Nya pula. Sehingga orang kaya yang bersyukur tidak mudah terjerumus pada jalan yang tidak dibenarkan oleh-Nya, sebab ia menyadari dan mengenal siapa pemberi harta kekayaan tersebut. Alhasil harta kekayaannya dipergunakan sebaik mungkin. Berbeda dengan orang kaya yang tidak bersyukur, ia akan terus memandang luasnay langit dan tidak ada hasrat untuk menghentikan nafsunya.

Dengan demikian, perlu kiranya bagi orang kaya untuk menanam rasa syukur pada dirinya, selain sebagai hiasan pada dirinya, bersyukur ketika kaya juga bisa menyelamatkan diri dalam menggunakan harta kekayaannya dan mampu menghentikan nafsu dirinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here