Inilah Keagungan Rasulullah, Menjadi Nabi Sebelum Dilahirkan

1
1610

BincangSyariah.Com – Al-Qur’an, menurut pemahaman penulis, memberitahukan bahwa pengetahuan tentang sesat dan tidaknya seseorang hanyalah dimiliki oleh Allah semata (an-Naḥl (16): 125 & an-Najm (53): 30). Namun, faktanya banyak pihak mewakili Tuhan dengan menyesatkan pihak lain karena dianggap telah menyimpang dari pemahaman mainstream. Sehingga tidak sedikit orang yang kehilangan hak dan ketentramannya—bahkan nyawanya melayang secara cuma-cuma karena term sesat yang disematkan kepadanya.

Berapa banyak kelompok minoritas yang diperlakukan secara tidak adil dan harus kehilangan kebahagiaan karena dianggap sesat? Tentu banyak sekali. Padahal, sekali lagi, hanya Tuhanlah yang benar-benar mengetahui sesat dan tidaknya seseorang dan Dia pula kelak yang akan memutuskan semua itu (al-Jâśiyah (45): 17).

Bahkan Allah menghendaki setiap Muslim terus-menerus meminta petunjuk kepada-Nya: minimal lima kali dalam sehari-semalam. Menurut Cak Nun, hal ini dapat dipahami dari kalimat ihdinâ aṣ-ṣirâṭ al-mustaqîm yang wajib dibaca ketika melaksanakan salat. Sebab, kita sendiripun tidak tahu apakah kita sudah benar-benar benar atau masih dalam keadaan tersesat.

Kalau kita masih belum bisa memastikan diri terbebas dari kesesatan, lalu mengapa kita dengan mudah dan entengnya memvonis orang lain sesat karena memiliki pandangan dan pilihan berbeda? Berhati-hatilah, karena kibr (sombong) itu terkadang bisa berupa merasa sudah benar dan kemudian menyalahkan orang lain. Begitu kira-kira salah satu dawuh Gus Mus yang penulis pahami.

Berkaitan dengan hal ini, beberapa waktu lalu ustaz Evie meminta maaf kepada masyarakat Muslim karena berceramah dalam keadaan mengantuk dan menafsiri ayat al-Qur’an secara literlek. Sehingga dia menyatakan bahwa Nabi Muhammad saw. pernah sesat sebelum diangkat menjadi nabi dan orang yang merayakan kelahirannya (maulidan) adalah merayakan kesesatan Nabi Muhammad saw. Dia mendasarkan pendapatnya kepada ayat al-Qur’an surat aḍ-Ḍuḥâ (97): 7.

Baca Juga :  Amalan-amalan untuk Merayakan Maulid Nabi

Baiklah, saya sepakat bahwa setiap orang memiliki hak untuk menentukan pilihan hidupnya masing-masing. Termasuk dalam memilih tafsir dari surat aḍ-Ḍuḥâ (97): 7, baik tafsir tersebut diambil dari pemahaman orang lain maupun diambil dari pemahaman sendiri. Namun demikian, saya memahami bahwa pendapat tersebut merupakan pendapat pribadi ustaz Evie. Sebab, dia tidak menyandarkan pendapatnya kepada salah satu tokoh atau mazhab tertentu. Semisal kalangan mazhab dhahiri yang memang menekankan makna lahir ketika memahami nas.

Dalam praktiknya, dia  membidik kata ḍâllan untuk memantapkan argumentasinya bahwa Nabi Muhammad saw. pernah sesat. Namun demikian, apakah benar kata ḍâllan atau ḍalâl hanya bermakna sesat dan tidak memiliki makna lain?

Beberapa tahun yang lalu, Aibdi Rahmat meneliti secara khusus dan akademis kata ḍalâl dalam al-Qur’an dan kemudian diterbitkan oleh Pustaka Pelajar dengan judul Kesesatan dalam Perspektif al-Qur’an: Kajian Tematik terhadap Istilah “ḍalāl” dalam al-Qur’an (2007).

Dalam penelitian itu ditemukan bahwa kata ḍalâl memiliki makna beragam, seperti berpaling dari jalan yang benar, kufur, bodoh, merugi, celaka, bersalah dan lupa. Kata ḍalâl yang terdapat dalam surat Yûsuf (12): 95 bermakna keliru dan dalam surat ar-Ra‘d (13): 14 bermakna sia-sia.

Sementara kata ḍâllan dalam surat aḍ-Ḍuḥâ bermakna bingung (214 & 16). Sunarwoto dalam salah satu status facebooknya (Sunarwoto Saja, 08/08/2018) memperlihatkan beberapa tafsir Nusantara terkait dengan tafsir ḍâllan, seperti Tafsir al-Ibriz karya KH. Bisri Mustafa, Tafsir Iklil karya KH. Misbah Mustafa, dan Tafsir Raudhatul Irfan karya Ajengan Ahmad Sanusi.

Kedua tafsir (al-Ibriz dan Iklil) memaknai kata ḍâllan dengan “ora ngerti” (tidak tahu) syariat. Sementara tafsir terakhir memaknainya dengan “heunteu ngabogaan syariat” (tidak memiliki syariat). Menurut al-Burusawi, sebagaimana dikutip oleh Aibdi Rahmat, Muhammad, baik sebelum dan setelah diangkat menjadi nabi dan rasul tetap menyembah dan mengesakan Allah serta terpelihara dari sifat-sifat tercela dan keji. Sehingga tidak tepat apabila kata ḍâllan dimaknai dengan sesat (2007: 17).

Baca Juga :  Siapakah Orang yang Pertama Kali Memperingati Maulid Nabi?

Oleh karena itu, penting mempertanyakan kembali kenabian Muhammad saw. untuk mengetahui posisi beliau secara lebih dalam (spiritual). Pertanyaan itu adalah: sejak kapan Muhammad saw. diangkat menjadi nabi? Apakah beliau diangkat menjadi nabi setelah dilahirkan ke muka bumi atau beliau memang sudah menjadi nabi sebelum semesta ini diciptakan?

Menjawab pertanyaan ini, penulis mangajukan surat aṣ-Ṣaff (61): 6 dan lebih cenderung menggunakan pemahaman sufistik. Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Nabi Isa as. mengabarkan kepada kaumnya tentang seorang rasul yang akan datang setelah beliau. Namanya adalah Ahmad.

Imam Jazuli menyebutkan dalam Dalâ’il al-Khairât, Ahmad adalah nama Nabi Muhammad saw. yang dikenal oleh penduduk langit. Sementara Muhammad adalah nama beliau yang dikenal oleh penduduk bumi. Menurut Sayyid aṭ-Ṭabâṭabâ’î dalam Tafsir al-Mizân, ayat 6 aṣ-Ṣaff (61) itu menginformasikan bahwa kerasulan Muhammad sudah diketahui oleh seluruh orang beriman (1997, XIX: 216).

Dalam hadis disebutkan, “aku (Muhammad) adalah seorang nabi, sedang Adam masih di antara ruh dan jasad”. Menurut Imam as-Subkî, hadis tersebut menegaskan bahwa Nabi Muhammad diutus kepada seluruh nabi. Beliau adalah nabi dan rasulnya para nabi (ad-Dû‘anî, Gâyah al-Munâ, 2008: 43).

Dengan demikian, sejatinya Muhammad saw. diangkat menjadi nabi sebelum segala sesuatu diciptakan. Kesimpulan ini dapat diperkuat dengan beberapa hadis yang disebutkan oleh syaikh Yûsuf bin Ismâ’il an-Nabhânî dalam al-Faḍâ’il al-Muḥammadiyyah, seperti: suatu ketika Nabi Adam as. memohon ampun kepada Allah melalui hak Muhammad.

Lalu, Allah bertanya kepadanya, “dari mana engkau mengetahui tentang Muhammad? Padahal Aku belum mewujudkannya menjadi manusia.” Beliau menjawab, “ketika Engkau menciptakanku dan meniupkan ruh-Mu kepadaku, aku mengangkat kepalaku dan melihat kalimat la ilâha illallâh muḥammadur rasûlullâh tertulis di arasy.

Baca Juga :  Keutamaan Mengadakan Peringatan Maulid Nabi

Dari situ aku mengerti bahwa kesucian Nama-Mu hanya pantas disandingi oleh nama makhluk yang paling Engkau cintai.” Allah menjawab, “betul apa yang kamu katakan. Dia adalah makhluk yang paling Aku cintai. Aku mengampunimu karena kamu memohon kepada-Ku melalui hak(kebenaran)nya.

Dan kalau bukan karenanya, Aku tidak akan menciptakanmu.” Hal ini sejalan dengan hadis yang menjelaskan bahwa Allah menciptakan nur Muhammad dari nur-Nya sebelum segala sesuatu diciptakan. Kemudian, Allah menciptakan segala sesuatu itu dari nur Muhammad (1994: 108-109 & 111-112).

Oleh karena itu, menurut Imam ad-Dîba’î dalam Mawlid ad-Dîba’î, menjelang lahirnya Nabi Muhammad saw. sebagai manusia, takhta Tuhan bergetar karena bahagia, Kursi semakin mulia dan wibawa, langit penuh dengan cahaya dan para malaikat tiada henti-hentinya berzikir.

Ketika beliau lahir ke dunia, para penghuni langit menyambutnya dengan gembira, para malaikat dan binatang berebutan untuk mengasuhnya agar mereka memperoleh keberuntungan dari kemuliaan dan keagungannya. Nabi Muhammad saw. sungguh luar biasa! Wa allah A‘lam wa A‘lâ wa Aḥkam…

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here