Inilah Asal-Usul Waktu dan Bilangan Rakaat Shalat Fardu

0
33

BincangSyariah.Com – Sebagai seorang muslim, setiap hari kita menunaikan kewajiban kita yaitu shalat lima waktu. Kita tentu sudah mengetahui waktu-waktu shalat dan bilangan rakaatnya. Namun, sudahkah kita mengetahui sejarah waktu-waktu shalat dan bilangan rakaat shalat fardu?

Syekh Nawawi al-Bantani dalam Syarh Sullam al-Munajah ‘ala Risalah Safinah ash-Shalah menjelaskan bahwa menurut sebagian ahli hikmah ketentuan waktu dan bilangan rakaat shalat fardu didasari oleh shalat yang dikhususkan pada nabi-nabi terdahulu.

Shalat Subuh pertama kali dikerjakan oleh Nabi Adam alaihi salam. Ketika Nabi Adam keluar dari surga, ia melihat keadaan begitu gelap sehingga ia merasa sangat ketakutan. Kemudian, ketika terbit fajar, ia pun menunaikan shalat dua rakaat. Satu rakaat untuk bersyukur atas terbebasnya ia dari kegelapan; Satu rakaat lagi untuk bersyukur atas kembalinya cahaya siang.

Orang yang pertama kali mengerjakan shalat Zuhur adalah Nabi Ibrahim alaihi salam, yaitu ketika Allah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail. Kemudian, dijadikanlah hewan sembelihan sebagai tebusannya. Peristiwa itu terjadi pada saat tergelincirnya matahari.

Nabi Ibrahim pun melaksanakan shalat empat rakaat. Satu rakaat untuk bersyukur atas tebusannya; satu rakaat untuk bersyukur atas hilangnya kekhawatirannya akan Nabi Ismail; satu rakaat untuk mencari keridaan Allah Swt.; dan satu rakaat lagi untuk bersyukur atas nikmat yang ia peroleh, yaitu biri-biri yang diturunkan dari surga. Biri-biri tersebut adalah biri-biri Habil, putra Nabi Adam a.s.

Shalat Asar pertama kali dilakukan oleh Nabi Yunus alaihi salam, yaitu ketika Allah mengeluarkan Nabi Yunus dari perut paus. Nabi Yunus keluar bagaikan anak burung yang baru menetas dan belum berbulu. Ketika di dalam perut paus tersebut, Nabi Yunus berada dalam empat kegelapan: (1) gelapnya jeroan (isi perut) paus, (2) gelapnya air laut, (3) gelapnya malam, dan (4) gelapnya perut paus tersebut. Nabi Yunus keluar dari perut paus pada waktu asar, maka ia pun mengerjakan shalat empat rakaat untuk bersyukur atas keselamatannya dari empat kegelapan tersebut.

Adapun orang yang pertama kali mengerjakan shalat Magrib adalah Nabi Isa alaihi salam, yaitu ketika ia pergi keluar dari tengah-tengah kaumnya pada saat terbenamnya matahari. Ia menunaikan shalat tiga rakaat. Satu rakaat untuk menafikan sifat ketuhanan dari selain Allah Taala; Satu rakaat untuk menafikan tuduhan yang dilemparkan oleh kaumnya kepada ibunya; Satu rakaat lagi untuk menetapkan penghormatan dan penyembahan kepada Allah semata. Oleh sebab itu, dua rakaat pertama yang berkaitan dengan Allah dihimpun dalam satu tahiat, sedangkan satu rakaat lagi yang berkaitan dengan ibunya tersendirikan.

Adapun shalat Isya pertama kali dilakukan oleh Nabi Musa alaihi salam. Ketika Nabi Musa keluar dari Madyan dan tersesat di jalan, Nabi Musa mengalami empat kesedihan: (1) kesedihan atas istrinya, (2) kesedihan atas saudaranya, Nabi Harun, (3) kesedihan atas anak-anaknya, dan (4) kesedihan karena kesewenang-wenangan Firaun. Kemudian, Allah membebaskannya dari rasa sedih pada saat yang bertepatan dengan waktu isya. Oleh sebab itu, Nabi Musa mengerjakan shalat empat rakaat untuk bersyukur kepada Allah atas hilangnya empat kesedihan tersebut.

Dalam riwayat lain, ada pula yang menyebutkan shalat Subuh dikerjakan oleh Nabi Adam, shalat Isya dikerjakan oleh Nabi Yunus, shalat Zuhur dikerjakan oleh Nabi Daud, shalat Asar dikerjakan oleh Nabi Sulaiman, dan shalat Magrib dikerjakan oleh Nabi Ya‘kub. Hal ini dinazamkan oleh para ulama dengan bahar thawil sebagai berikut

لِآدَمَ صُبْحٌ وَالْعِشَاءُ لِيُوْنُسِ * وَظُهْرٌ لِدَاوُدَ وَعَصْرٌ سُلَيْمَانَا

وَمَغْرِبٌ يَعْقُوْبَ وَقَدْ جُمِعَتْ لَهُ * عَلَيْهِ صَلَاةٌ اللهِ سِرًّا وَإِعْلَانَا

Untuk Adam adalah Subuh, Isya adalah untuk Yunus

Zuhur adalah untuk Daud, Asar adalah untuk Sulaiman

Magrib adalah untuk Yakub, dan semua shalat tersebut terkumpulkan untuk Nabi Muhammad saw. baik secara rahasia maupun terang-terangan

 Nah, demikianlah penjelasan asal-usul waktu dan bilangan rakaat shalat fardu menurut Syekh Nawawi al-Bantani. Semoga kita dapat terus memperbaiki kualitas shalat kita.

Wallahu a‘lam.

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here