Ini Teks Khutbah Nabi Menyambut Bulan Suci Ramadan

0
462

BincangSyariah.Com – Ramadhan tinggal menunggu jam. Masih diberi kesempatan untuk berjumpa bulan mulia ini tentu nikmat besar yang harus kita syukuri. Dulu, menjelang Ramadan, Nabi pernah menyampaikan khutbah yang isinya adalah pesan untuk umatnya guna menghadapi bulan suci ini. Pesan tersebut didokumentasikan Ibn Khuzaimah dalam Shahih-nya dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman. Berikut isi Khutbah Nabi:

Wahai umat manusia, bulan yang agung telah datang pada kalian, dalam bulan itu ada satu malam yang lebih utama dari seribu bulan. Allah wajibkan puasa di siang harinya, Allah sunahkan menghidupi malam-malamnya. Barangsiapa melakukan ibadah sunah di bulan tersebut, pahalanya sama seperti melakukan ibadah fardlu di bulan lain. Barangsiapa melakukan satu ibadah fardlu di bulan tersebut, pahalanya sama seperti melaksanakan 70 ibadah fardlu di bulan lain. Ialah bulan kesabaran. Sabar, sifat berbalas surga. Juga bulan asih sayang. Bulan bertambahnya rejeki orang mukmin. Barangsiapa menyediakan buka bagi orang yang berpuasa, maka diampuni dosa-dosanya dan diselamatkan dari neraka. Ia pun mendapat pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut. Kami (para sahabat) berkata: Wahai Rasul, tidak semua dari kami mampu memberikan hidangan berbuka untuk orang yang berpuasa. Rasul menjawab: Pahala ini Allah berikan (bahkan) pada orang yang menghidangkan sebiji kurma, atau segelas air, atau segelas susu. Ialah bulan yang di awalnya bertabur rahmat, di tengah-tengahnya penuh ampunan, dan diakhiri dengan pembebasan dari neraka. Barangsiapa yang memperingan pekerjaan budak yang dimilikinya, Allah akan mengampuni dosanya dan membebaskannya dari neraka.”

Khutbah Nabi di atas sangat sarat akan anjuran melakukan amal saleh. Hal itu tidak lain karena Nabi menginginkan agar umatnya tidak menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut. Nabi juga menyebutnya bulan kesabaran (Syahr al-Shabr).

Baca Juga :  Hukum Mengusir Anak Kecil yang Berisik di Dalam Masjid dan Tradisi Bahsul Masail

Jika kita merujuk pada literatur ulama terdahulu, salah satunya dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din disebutkan bahwa sabar ada tiga jenis. Pertama, sabar dalam menjalankan ibadah. Kedua, sabar dalam menjauhi larangan Allah. Ketiga, sabar ketika menerima musibah.

Dua poin awal ini agaknya yang akan sering kita hadapi sepanjang bulan Ramadhan. Maka puasa, salat tarawih, dan ibadah-ibadah lain harus kita manfaatkan sebagai sarana melatih kesabaran kita. Nabi juga menyebutnya bulan kasih sayang, maka sangat sayang jika bulan sesuci itu kita kotori dengan kebencian, kedengkian, bahkan permusuhan. Bulan Ramadan seharusnya menjadi momen untuk memperbaiki hubungan yang telah retak dan mempererat ikatan yang telah terjalin. Dilaksanakannya salat tarawih berjamaah selama satu bulan hendaknya dapat menjadi sarana untuk mewujudkan itu semua.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here