Ini Sahabat Nabi yang Pernah Bermimpi Kalimat Adzan

0
9

BincangSyariah.Com – Di awal Islam, kaum muslimin kebingungan untuk memberitahukan tentang masuknya waktu shalat serta bagaimana cara mengajak orang agar berkumpul di masjid untuk melakukan shalat berjamaah. Akhirnya Nabi Saw mengumpulkan para sahabat untuk bermusyarah dalam masalah ini.

Sebagian sahabat mengusulkan agar membunyikan lonceng seperti orang Nashrani, sebagian lagi mengusulkan agar meniup terompet sebagaimana orang Yahudi. Juga sebagian mengusulkan agar menyalakan api seperi orang Majusi. Dari sekian usulan, akhirnya Nabi Saw memutuskan untuk membunyikan lonceng sebagai penanda masuknya waktu Shalat.

Namun sebelum hal itu dilaksanakan, ada dua sahabat yang kemudian bermimpi kalimat adzan untuk dijadikan penanda masuknya waktu Shalat, yaitu sahabat Abdullah bin Zaid dan sahabat Umar bin Al-Khaththab. Namun yang pertama mengabarkan mimpinya kepada Rasulullah Saw adalah Abdullah bin Zaid, dan kemudian Umar bin Al-Khaththab mengabarkan kepada Rasulullah Saw bahwa dia bermimpi kalimat yang sama.

Ini sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Imam Abu Dawud dari Abdullah bin Zaid, dia berkata;

لمَّا أمَرَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ بالنَّاقوسِ يعملُ ليضربَ بهِ النَّاسُ لجمعِ الصَّلاةِ طافَ بي وأنا نائمٌ رجُلٌ يحمِلُ ناقوسًا في يدِهِ فقلتُ يا عبدَ اللَّهِ أتبيعُ النَّاقوسَ قالَ وما تصنَعُ بهِ فقلتُ ندعو بهِ إلى الصَّلاةِ قالَ أفلا أدلُّكَ على ما هوَ خيرٌ من ذلكَ فقلتُ بلى فقالَ تقولُ اللَّهُ أكبرُ اللَّهُ أكبرُ اللَّهُ أكبرُ اللَّهُ أكبرُ أشهدُ أن لا إلهَ إلَّا اللَّهُ أشهدُ أن لا إلهَ إلَّا اللَّهُ أشهدُ أنَّ محمَّدًا رسولُ اللَّهِ أشهدُ أنَّ محمَّدًا رسولُ اللَّهِ حيَّ على الصَّلاةِ حيَّ على الصَّلاةِ حيَّ على الفلاحِ حيَّ على الفلاحِ اللَّهُ أكبرُ اللَّهُ أكبرُ لا إلهَ إلَّا اللَّهُ ..فلمَّا أصبحتُ أتَيتُ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ فأخبرتُهُ بما رأيتُ فقالَ إنَّها لرُؤيا حقٍّ إن شاءَ اللَّهُ تعالى فقُم معَ بلالٍ فألقِ عليهِ ما رأيتَ فليؤذِّن بهِ فإنَّهُ أندى صوتًا مِنكَ فقمتُ معَ بلالٍ فجعلتُ ألقيهِ عليهِ ويؤذِّنُ بهِ قالَ فسمِعَ بذلِكَ عُمَرُ بنُ الخطَّابِ وهوَ في بيتهِ فخرجَ يجرُّ رداءَهُ فقالَ يا رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ والَّذي بعثَكَ بالحقِّ لقد رأيتُ مثلَ ما أرِيَ فقالَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ فللَّهِ الحمدُ

Artinya:

Ketika Rasulullah Saw memerintah memukul lonceng untuk mengumpulkan manusia untuk shalat, suatu malam dalam tidurku aku bermimpi. Aku melihat ada seseorang sedang menenteng sebuah lonceng. Aku dekati orang itu dan bertanya kepadanya; Hai hamba Allah, apakah kamu hendak menjual lonceng itu.

Orang tersebut malah bertanya; Untuk apa? Aku menjawabnya; Agar kami bisa memanggil untuk shalat. Orang itu berkata lagi; Maukah kau kuajari cara yang lebih baik? Dan aku menjawab; Iya.

Lalu dia berkata; Kamu ucapkan; Allaahu akbar allaahu akbar, asyhadu allaa ilaaha illallaah, asyhadu allaa ilaaha illallaah, asyhadu anna muhammadar rosulullah, asyhadu anna muhammadar rosulullah, hayya ‘alash sholaah, hayya ‘alash sholaah, hayya ‘alal falaah, hayya ‘alal falaah, allaahu akbar, allaahu akbar laa ilaaha illallaah.

Ketika esoknya, aku mendatangi Rasulullah Saw dan aku mengabarkan kepada beliau mengenai mimpi (mimpi kalimat adzan). Kemudian Rasulullah Saw berkata; Ini adalah mimpi yang benar, maka bangunlah kamu bersama Bilal karena ia lebih merdu dan lebih panjang suaranya dibanding kamu, lalu kamu diktekan padanya apa yang dikatakan padamu (dalam mimpi).

Abdullah bin Zaid berkata; Setelah Umar bin Al-Khaththab mendengar panggilan Bilal untuk shalat, dia keluar menemui Rasulullah Saw sambil menarik sarungnya, dan dia berkata ‘Wahai Rasulullah Saw, demi Dzat yang mengutusmu dengan benar, sungguh aku telah bermimpi seperti apa yang dikumandangkan Bilal. Kemudian Rasulullah Saw berkata; Bagi Allah segala puji.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here