Ini Kisah Pernikahan Budak dan Anak Perempuan Hakim Negara

0
96

BincangSyariah.Com – Dahulu, di suatu kota bernama Merv, ada Qadhi (Hakim Negara) dan pemimpin wilayah tersebut. Ia sudah kaya dan makmur sekali. Ia memiliki seorang putri perempuan yang cantik, anggun, dan keunggulan-keunggulan lainnya yang membuat para raja dan penguasa di masa silih berganti mencoba melamar anak Qadhi tersebut. Namun, sang Qadhi belum memutuskan lamaran siapa yang akan diterima. Ia bergumam, “kalau saya terima lamaran satu pria, maka pria lain akan marah.”

Sang Qadhi memiliki seorang budak asal dari India. Ia seorang yang shalih. Namanya Mubarak. Qadhi ini juga punya kebun anggur yang sangat besar. Suatu hari, sang Qadhi berkata kepada budak india itu, “saya ingin kamu saat ini bertugas menjaga kebun anggur itu !”

Jadilah Mubarak dari India itu menjaga kebun anggur selama satu bulan. Setelah itu, datanglah tuan dari Mubarak, yaitu Qadhi itu sendiri. Ia meminta anggar diberikan satu batang buah kutma. Mubarak pun memberikan pada tuannya, tapi ternyata asam. Qadhi itu meminta agar diambilkan yang lain. Ternyata, sama, masih asam. Qadhi itu lalu bertanya, “kenapa yang engkau berikan selalu rasanya asam ?”

Mubarak menjawab, “sejatinya saya tidak tahu mana diantara anggur tersebut yang rasanya manis atau asam, tuan”

Sang Qadhi terkejut mendengar jawaban itu, “Subhanallah, engkau disini sebulan penuh tidak pernah tahu mana anggur yang asam atau manis?”

Mubarak kembali menjawab, “Hormat tuanku, sungguh saya tidak pernah mencoba satu buah anggurpun dan saya tidak tahu mana yang manis atau asam?”

“Kenapa kau tidak mencobanya?” sang Qadhi bertanya penasaran.

“Karena engkau cuma memerintahkan aku untuk menjaganya tapi tidak menyuruh untuk memakannya. Maka saya tidak mengkhianati perintah itu.”

Baca Juga :  Allah Menanggung Rezeki Hamba-Nya, Apakah Manusia Tidak Perlu Bekerja?

Sang Qadhi tambah terkejut dengan jawaban itu. Ia terkesan, “Allah senantiasa menjaga amanahmu.”

Dari jawaban-jawaban Mubarak, ia sadar kalau sang budak dari India ini adalah orang yang cerdas. Sang Qadhi lalu mencoba menawarkan hal lain, yang mungkin tidak akan dibayangkan sang budak sebelumnya,

“budakku, saya ada keperluan lain terhadapmu. Dan engkau harus melakukan apa yang aku perintahkan.”

“Saya hanya taat kepada Allah dan kepada engkau tuan.” Jawab Mubarak.

“Ketahuilah, saya mempunyai seorang putri yang jelita. Sudah banyak para pembesar-pembesar yang melamarnya. Saya tidak tahu harus memutuskan dengan siapa putriku disunting. Berilah pertimbangan dengan pendapatmu!”

Mubarak menjawab, “orang-orang kafir di zaman Jahiliyyah, kalau memilih pasangan, sangat mengagungkan suku, keturunan, dan kedudukan. Orang-orang Yahudi dan Nasrani, kalau memilih pasangan, sangat menuntuk kecantikan atau ketampanan. Di zaman Rasulullah, orang-orang memilih pasangan dengan memilih agama dan ketakwaannya. Kalau di zaman kita sekarang, orang-orang melihat hartanya ketika memilih pasangan. Pilihlah dari keempat model tersebut yang tuan mau.

Qadhi berkata, “Saya sudah memilih, yaitu agama, ketakwaan, dan kemampuan menjaga amanah. Saya ingin menikahkan putri saya dengan engkau. Karena saya melihat ada keshalihan, keberagamaan, dan kemampuan menjaga amanah. Dan saya sudah menemukan sikap kehati-hatian dari dirimu.”

Mubarak kaget dengan jawaban tuannya, “Wahai tuanku, saya ini budak hitam India, yang engkau beli dengan hartamu sendiri. Bagaimana bisa aku dinikahkan dengan anakmu? Apa anak perempuanmu mau menerima dan ridha kepada aku?”

Qadhi malah mengajaknya ke rumah, “mari kita ke rumah, kita bicarakan hal ini.”

Sesampainya di rumah, Qadhi langsung mengajak bicara istrinya

“Istriku, budak India ini sangat salih dan bertakwa. Aku sangat senang dengan kesalihannya dan saya ingin menikahkan ia dengan putri kita. Bagaimana pendapatmu?”

Baca Juga :  Sa’ad bin al-Rabi’: Pejuang Uhud Hingga Titik Darah Penghabisan

Istrinya menjawab, “keputusan di tanganmu. Tapi saya beritahu dulu putri kita, dan saya akan kabari apa jawabannya.”

Istri Qadhi itu lalu menemui anaknya dan menyampaikan pesan ayahnya. Sang putri menjawab, “apapun yang kalian berdua perintahkan, saya akan lakukan. Saya tidak menentang apalagi membangkang perintah kalian berdua. Justru saya akan tetap berbakti kepada kalian.”

Sang Qadhi pun menikahkan Mubarak dengan putrinya itu. Qadhi juga memberikan kepada mereka berdua harta yang banyak. Dari pernikahan itu, lahirlah yang kita kenal sebagai Abdullah bin al-Mubarak, ulama besar yang masyhur dengan luasnya riwayat hadisnya dan kezuhudannya.

Diterjemahkan dan diceritakan ulang dari kitab at-Tibr al-Masbuk fi Nashihati al-Muluk (h. 122-123) karya Imam al-Ghazali

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here