Ini 3 Wasiat Fatimah Putri Rasulullah Menjelang Ajal pada Suami Tercinta

3
82

BincangSyariah.Com – Siapa yang tidak mengenal Sayyidah Fatimah al-Zahra? Beliau itu putri Rasululullah dari pernikahannya dengan Siti Khadijah binti Khuwailid. Beliau termasuk salah satu dari empat perempuan yang mempunyai kedudukan khusus dan menyandang gelar perempuan terbaik dalam Islam. Hal itu dilukiskan oleh Rasululullah yang disebutkan di dalam kitab Al-Mustadrak karya Abi Abdillah Al-Hakim yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :حَسْبُكَ مِنْ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ مَرْيَمُ بنتُ عِمْرَانَ، وَخَدِيجَةُ بنتُ خُوَيْلِدٍ، وَآسِيَةُ بنتُ مُزَاحِمٍ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ، وَفَاطِمَةُ بنتُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Rasulullah SAW bersabda: ”Sebaik-baik wanita di alam semesta ada empat orang. Mereka adalah Maryam binti Imran, Asiyah binti Muzahim istri Firaun, Khadijah binti Khuwailid, dan Fatimah binti Muhammad SAW. (HR. Hakim).

Syekh Muhammad Al-Fatal An-Naysaburi dalam kitab Raudlatul Wa’idzin menyebutkan bahwa setelah Sayyidah Fatimah merasakan ajalnya sudah dekat, ia memanggil Umamah binti al-‘Ash, Asma’ binti Umais dan suaminya Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Kepada Sayyidina Ali, beliau berkata agar mendengarkan wasiat terakhir yang sudah ia simpan dalam hati. Mendengar hal itu, Sayyidina Ali meminta kepada orang yang tidak berkepentingan untuk keluar. Sayyidina Ali mengangkat kepala Sayyidah Fatimah, kemudian diletakkan pada dadanya seraya berkata dengan nada penuh kasih sayang.

“Sampaikanlah wasiatmu kepadaku apa saja yang kau inginkan. Apa yang telah engkau wasiatkan pasti akan ku lakukan dengan baik dan aku akan mendahulukan urusanmu dari pada urusanku sendiri.”

Dengan mengerahkan sisa kekuatannya yang terakhir, Sayyidah Fatimah menyahut dengan suara yang lembut. (Baca: Baca Doa Sayyidah Fatimah Ketika Mengalami Masalah Keluarga)

“Semoga Allah melimpahkan kebajikan yang sebesar-besarnya kepadamu. Putra pamanku, ku wasiatkan kepadamu pertama, supaya sepeninggalku engkau segera menikah dengan putri kakak perempuanku (Siti Zainab), Umamah binti Al-‘Ash. Ia akan berlaku seperti aku terhadap anak-anakku.”

Mendengar ucapan Sayyidah Fatimah dalam perasaan duka, Sayyidina Ali merasa terkesima dan terharu mendengar wasiat istrinya tersebut.

Baca Juga :  Tujuh Wasiat Nabi Muhammad kepada Abu Dzar

Pilihan ini dikarenakan Umamah sudah sering membantunya dalam mengasuh putra dan putrinya, sehingga bagi anak-anaknya Umamah bukan orang yang asing, karena selalu berkumpul bersama mereka.

Mengenai Umamah sendiri Imam Bukhori meriwayatkan, bahwa suatu ketika Rasulullah shalat dengan  menggendong cucunya yang masih kecil, yaitu Umamah putri Siti Zainab dari Rasulullah saw. Apabila beliau sujud Umamah diletakkan dan saat berdiri beliau menggendong lagi.

Itulah Umamah yang dipilih Sayyidah Fatimah untuk menjadi istri bagi suaminya.

Kedua, Sayyidah Fatimah meminta agar beliau dibuatkan keranda sebagaimana yang pernah dicontohkan Asma’ binti Umais (istri Khalifah Abu Bakar), dan diatasnya ditutup dengan kain. Sehingga saat diangkat bentuk tubuhnya tidak kelihatan.

Menurut sebagian ulama, keranda tersebut dalam sejarah dikenal sebagai keranda pertama kali dalam Islam.

Ketiga, beliau meminta agar dimakamkan pada waktu malam dan tidak seorangpun yang tidak disenanginya boleh melihat jenazahnya.

Selanjutnya setelah Sayyidah Fatimah wafat, satu persatu wasiat Fatimah itu beliau laksanakan. Mulai dari dimintanya Asma’ binti Umais untuk membuat keranda, sebagaimana yang dikehendaki Sayyidah Fatimah. Kemudian yang memandikan juga Asma’ sesuai dengan wasiat Fatimah kepada Asma’.

Selanjutnya beliau dishalatkan dan dimakamkan di Baqi’. Sesuai dengan yang di kehendaki oleh Sayyidah Fatimah. Menurut hikayah sebagian ulama, ketika Sayyidah Fatimah selesai dimakamkan, Sayyidina Ali berdiri di samping kuburnya seraya berkata:

“Dua kekasih yang berkumpul, pasti akan berpisah. Dan semua selain kematian, adalah sedikit. Kehilangan terhadap seorang demi seorang, suatu bukti bahwa kekasih itu tiada abadi.”

Wafatnya Sayyidah Fatimah benar-benar menjadi pukulan yang sangat telak bagi Sayyidina Ali, sebab hanya berselang enam bulan beliau ditinggal oleh Rasulullah SAW, seorang panutan yang sejak kecil telah membimbing dan menjadi ayah baginya.

Baca Juga :  Siradj al-Adzkiya fi Tarjamati al-Azkiya: Kitab Tasawuf Ajengan Sanusi

Berselang beberapa hari kemudian, Sayyidina Ali menikah dengan Umamah sesuai dengan wasiat Fatimah. Wallahu ‘alam

3 KOMENTAR

  1. Says sangat terharu dengan wasiat Fatimah Az~Zahra binti Muhammad Sallallahu ‘Alaihi WA Sallamu,
    Sayyidah Fatima,perempuan just,tangguh, mulia,dan Gigi dalam membantu semis kebutuhan suaminya,Ali bin Abi Thalib.

  2. Says sangat terharu dengan wasiat Fatimah Az~Zahra binti Muhammad Sallallahu ‘Alaihi WA Sallamu,
    Sayyidah Fatima,perempuan just,tangguh, mulia,dan gigih dalam membantu semis kebutuhan suaminya,Ali bin Abi Thalib.

  3. Says sangat terharu dengan wasiat Fatimah Az~Zahra binti Muhammad Sallallahu ‘Alaihi WA Sallamu,
    Sayyidah Fatima,perempuan just,tangguh, mulia,dan gigih dalam membantu semua kebutuhan suaminya,Ali bin Abi Thalib.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here