Ini 18 Ulama Nusantara yang Dikubur di Pemakaman Ma’la

1
472

BincangSyariah.Com – Bebebrapa hari yang lalu, K.H. Maimoen Zubai meninggal dunia saat sedang mengerjakan ibadah haji. Atas permintaan kelurga, Mbah Maimoen dimakamkan di tanah suci. Dengan dimakamkannya  mbah Maimoen maka sudah ada 18 ulama nusantara yang dimakamkan di pemakaman Ma’la, Makkah

“Setelah 29 tahun, 1 lagi Ulama Nusantara  di makamkan di pemakaman Ma’la atau yang juga dikenal dengan Jannatul Mu’alla, di kota Hajuun, Makkah al-Mukarramah,” tulis KH. Irfan Zidny dalam akun facebooknya.

Setidaknya, inilah ulama-ulama Nusantara yang jasadnya bersemayam di Tanah Suci, di Taman Mu’ala, di pekuburun keluarga besar baginda Rasulullah saw, Makkah al-Mukarramah.

1. Syaikh Hamzah Fansuri (w. 1527 M )
2. Syaikh Ahmad Khatib Sambas / Pendiri Thariqah Qadiriyyah Naqsyabandiyyah {TQN} (w.1875)
3. Syaikh Nawawi al-Bantani (w. 1897)
4. Syaikh Junaid al-Batawi (akhir abad 19 M)
5. Syaikh Abdul Haq al-Bantani (w. 1903)
6. Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (w.1916)
7. Syaikh Abdul Hamid al-Kudsi (w. 1916)
8. Syaikh Muhammad Mahfuzh at-Termasi (w. 1920)
9. Syaikh Achmad Nahrawi Mukhtarom Al Banyumasi (w. 1926)
10. Syaikh Mukhtar Bogor (w.1930)
11. Syaikh Umar Sumbawa (w. 1930)
12.Syaikh Sayyid Muhsin bin Ali al-Musawa (w. 1935 M)
13. Syaikh Abdul Qadir Mandailing (w. 1956)
14. Syaikh Abdul Muhaimin bin Abdul Aziz al-Lasemi (w. 1956 M)
15. Syaikh Abdul Karim bin Syaikh M. Hasyim Asy’ari (w. 1972 M)
16. Syaikh Abdullah Durdum al-Padani (w. 1987 M)
17. Syaikh Muhammad Yasin bin Isa al-Padangi (w. 1990)
18. Syaikh Maimoen Zubair al-Sarangi (w. 2019).

Meninggal dan dimakamkan di tanah suci termasuk hal yang sangat mulia. Rasulullah bersabda dalam sebuah hadis

Baca Juga :  Menelusuri Dalil Halal Bihalal dalam Islam

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ اسْتَطَاعَ أَنْ يَمُوتَ بِالْمَدِينَةِ فَلْيَمُتْ بِهَا ؛ فَإِنِّي أَشْفَعُ لِمَنْ يَمُوتُ بِهَا

Dari Ibnu Umar ra, Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang ingin mati di Madinah, maka matilah disana. Sesungguhnya aku akan memberi syafa’at bagi orang yang mati disana” (HR. Tirmidzi)

Keutamaan tersebut tentu tidak bisa dilihat secara kasat mata, sebab hal tersebut hanya bisa dilihat oleh bashirah (mata hati)

“Tapi sungguh, jangan lihat pemakaman ini dengan mata zhahir (bashar), menyaksikan kemuliaannya dengan wujud fisik (zhahiri), karena tidak ada keindahan, ketenangan, kekhusyu’an apapun saat ini di sana. Berjuanglah dengan melihatnya menggunakan Bashirah, niscaya akan terlihat “Taman” nya, dan niscaya mimpi besar kita akan sama dengan beliau, Mbah Moen,” ujar KH. Irfan Zidni.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here