Ingin Melamar Pasangan, Perhatikan Dua Hal Ini

0
1102

BincangSyariah.Com – Melamar pasangan atau meminang seseorang merupakan langkah awal untuk mengenal masing-masing pribadi sebelum melangsungkan pernikahan. Istilah melamar dalam al-Quran dikenal dengan khitbah. Menurut jumhur ulama, bahwa hukum melamar ini tidak wajib. Namun, prakteknya bagi masyarakat Indonesia menganggap bahwa melamar suatu hal yang harus dilakukan. Bahkan,  di sebagian di daerah ini sudah menjadi adat yang tidak boleh ditinggalkan. Sesuai dengan yang dikatakan Dawud al-Zahiry bahwa melamar itu hukumnya wajib.

Terlepas dari itu, jika seorang wanita yang telah menyetujui lamaran laki-laki pertama, hadirnya laki-laki setelah itu hukumnya haram. Ini sudah menjadi kesepakatan para ulama fikih. Namun, jika laki-laki pertama yang melamar tersebut mengizinkan laki-laki kedua untuk mengajukan lamaran. Para ulama membolehkan. Pendapat ini didasarkan pada hadis Rasulullah:

لَا يَبِعْ الرَّجُلُ عَلَى بَيْعِ أَخِيهِ وَلَا يَخْطُبْ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ إِلَّا أَنْ يَأْذَنَ لَهُ

“Janganlah seseorang menjual barang yang telah dijual kepada saudaranya dan janganlah melamar perempuan yang telah dilamar saudaranya, kecuali jika mendapatkan izin darinya.” (HR Muslim)

Berkaitan dengan hadis di atas, para ulama fikih menyatakan makna larangan yang terkandung dalam hadis tersebut adalah larangan pengharaman. Imam an-Nawawi memberikan keterangan terkait beberapa hadis yang serupa dalam kasus ini, bahwa hadis-hasis tersebut menunjukkan hukum haramnya melamar wanita yang telah dilamar oleh laki-laki lain. Para ulama juga telah ijma’ tentang keharaman lamaran terhadap perempuan yang telah dilamar laki-laki lain dan perempuan tersebut secara tegas menerima lamaran pertama. Ibnu Qudamah juga telah menegaskan pendapat yang sama.

Tetapi, jika lamaran laki-laki yang pertama ditolak oleh wanita, maka laki-laki berikutnya boleh melamar wanita tersebut. Pendapat ini disepakati oleh para ulama fikih. Dalam kitab al-Mughni, Ibnu Qudamah mengatakan, “siapa yang telah melamar wanita namun ditolak, maka kesempatan bagi laki-laki lain untuk melamar wanita itu.”

Baca Juga :  Sepasang Pemuda-Pemudi Berzina Lalu Menikah, Diampunikah Dosanya ?

Sedangkan jika wanita telah dilamar laki-laki lain, tapi wanita tersebut belum memberikan jawaban pasti terhadap lamaran pertama. Baik masih mempertimbangkan keputusan, ragu, atau sebab lain. Dalam masalah ini ulama fikih berbeda pendapat:

Pertama, wanita yang masih belum memberi jawaban pasti atas lamaran pertama, boleh bagi laki-laki lain untuk mengajukan lamaran kepada wanita tersebut. Ini adalah pendapat jumhur ulama mazhab Maliki, Hanafi, dan pendapat yang rajih dalam Mazhab Syafi’i dan Hambali.

Kedua, jika wanita belum memberi jawaban pasti atas lamaran laki-laki pertama, maka haram hukumnya mengajukan lamaran berikutnya, sampai ada jawaban jelas terhadap lamaran pertama. Ini seperti halnya hukum melamar perempuan yang telah menyetujui lamaran pertama. Ini adalah pendapat mazhab Zahiri.

Argumentasinya, menurut mazhab ini, hadis tentang pengharaman lamaran terhadap perempuan yang telah dilamar laki-laki lain itu sifatnya mutlak dan umum, kecuali dengan dua alasan yaitu; tegas menolak lamaran pertama, atau memberi izin untuk lamaran kedua. Sehingga, jika kasus ini terjadi, maka lamaran tersebut rusak dan batal dengan sendirinya.

Menurut mereka, jika saja kondisi seperti itu dibolehkan, tentu hukumnya bisa berpengaruh pada pelamar pertama. Jika pelamar kedua ternyata lebih baik dari pelamar pertama, maka wanita tersebut akan lebih menerima lamaran yang kedua. Tentu ini akan menyakiti pihak pelamar pertama.

Sedangkan jika lamaran seorang laki-laki terhadap wanita yang telah menerima lamaran laki-laki pertama tanpa ada izin dari pelamar pertama. Hukumnya haram. Para ulama fikih telah ijma’ dalam masalah ini. Dalam masalah tersebut, pelamar kedua dihukum telah berbuat maksiat menurut kesepakatan para ulama.

Sementara ada pendapat lain yang menyatakan bahwa lamaran yang dilakukan setelah ada lamaran pertama namun belum disetujui oleh perempuan yang dilamar, statusnya adalah makruh. Sebab, dalam kondisi seperti ini masih ada kemungkinan perempuan tersebut menerima lamaran yang pertama kali datang.

Baca Juga :  Membaca Alquran Dapat Menghilangkan Rasa Nyeri

Namun, jika seseorang melamar wanita yang merupakan lamaran orang lain. Menurut hukum Islam, tidak ada hukuman khusus bagi laki-laki yang melamar wanita yang telah dilamar oleh laki-laki lain dan/atau setelah itu nekat menikahinya. Tapi, laki-laki tersebut harus menanggung beban dosa di akhirat. Sebab ia telah melakukan sebuah kezaliman terhadap sesama muslim dalam urusan pernikahan.

Jika ternyata laki-laki yang melamar kedua nekat menikahi perempuan yang dilamar dan perempuan tersebut menyetujuinya. Menurut pendapat jumhur ulama fikih dari mazhab Hanafi, Syafi’i dan Hambali, menyatakan bahwa akad nikahnya tetap sah. Imam an-Nawawi mengatakan, nikahnya sah dan tak perlu dipisah.

Az-Zuhaili mengungkapnkan, bahwa larangan yang ada pada kasus ini tidak ditujukan kepada akad nikahnya, tapi kepada sebab lain yang menjadi substansinya, sehingga tidak membatalkan akad.

Oleh sebab itu, hendaknya seorang laki-laki yang ingin melamar wanita atau sebaliknya. Betul-betul memastikan kondisi yang dilamar tersebut telah atau sedang dalam proses lamaran atau tidak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.