‘Imran bin Hitthan As-Sadusi: Sosok yang Memuji Pembunuh Ali bin Abi Thalib

0
38

BincangSyariah.Com – Sebagaimana umumnya para santri pecinta Ilmu Islam, sosok bertubuh kecil dan mungil itu pun begitu rajin dan antusias untuk mendengarkan dan mencatat ilmu-ilmu yang keluar dari para guru yang mulia. Ia bernama ‘Imran ibn Khithaan As-Sadusi. Ia adalah seorang tabi’in murid ternama dari sejumlah sahabat bahkan keluarga terdekat Nabi. Mulai dari Sayyidatuna ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhaa, Abdullah bin Abbas Sepupu Nabi, Abu Musa Al-Asy’ari sahabat karib Nabi, dan semisalnya. Allah menganugerahinya aneka talenta, banyak meriwayatkan hadis, ahli berdebat, orasinya memukai, hingga kepandaian bersastranya yang mengungguli banyak sastrawan di masanya. Praktis, Imran merupakan ulama yang teguh pada ajaran Al-Qur’an dan Sunnah. Dan, paham keagamaan yang dipilih adalah Ahlussunnah wal Jamaah.

Satu waktu, ia jatuh cinta kepada seorang perempuan belia yang cantik jelita. Dikisahkan, perempuan itu masih ada hubungan famili dengannya. Padahal, banyak yang menasihati kalau wanita yang ia sukai itu berpaham radikal akut, paham khawarij garis keras, yang mudah menghalalkan darah Hamba Allah. Kemudian, dengan percaya diri ia membantah, “saya akan menariknya kembali pada paham moderat, ahlussunnah wal jamaah.”

Kemudian, dilangsungkanlah ijab-qabul pernikahan bagi keduanya. Mereka saling menerima, kekurangan masing-masing. Dalam nuansa kasmaran, sang istri dengan penuh percaya diri dan bangga akan kecantikannya, berkata kepada Imran, suaminya,

فَقَالَتْ: أَنَا وَأَنْتَ فِي الْجَنَّةِ.

Aku dan Kamu pasti akan di Surga.

قَالَ: مِنْ أَيْنَ عَلِمْتِ؟

“Darimana kamu tahu?” Tanya Imran.

قَالَتْ: لِأَنَّكَ أُعْطِيتَ مِثْلِي، فَشَكَرْتَ، وَابْتُلِيتَ بِمِثْلِكَ، فَصَبَرْتُ، وَالشَّاكِرُ وَالصَّابِرُ فِي الْجَنَّةِ.

“Karena, kamu yang cebol dan buruk rupa dianugerahi gadis cantik jelita sepertiku, lalu kamu bersyukur. Sedangkan aku diuji dengan menikahi orang sepertimu, lalu aku bersabar. Maka, orang yg bersyukur dan orang yg bersabar pasti berada di syurga”, jawab sang istri

Baca Juga :  Kisah Antusiasme Imam Sufyan Al-Tsauri Mendapatkan Hadis Nabi

Dalam nuansa kasmaran Imran sangat mencintai sang istri. Sehingga, apapun pernyataan istrinya, ia pun mengamininya. Tanpa sadar, ia tak lagi mengecek, mengevaluasi dan membandingkan pernyataan sang istri  dengan ilmu-ilmu yang dipelajarinya selama ini. Sedikit demi sedikit ideologi radikal merasuk kuat di akal dan pemikiran Imran. Hingga, Imran pun malah lebih dahsyat keradikalannya, bahkan berbangga, lalu memamerkan dan mempromosikannya.

Misalnya, diantaranya, ia memuji dan membangga-banggakan seorang Abdurrahman bin Muljam Sang Pembunuh menantu sekaligus sepupu Rasulullah Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib. Sebab, baginya Abdurrahman adalah sosok penghafal al-Qur’an dan ahli ibadah. Sehingga, ia meyakini bahwa tindakannya menikam pemimpinnya, Khalifah Ali, adalah hal yang benar menurut Allah ta’ala. Dengan syairnya, ia mengekspresikan keberpihakannya kepada Abdurrahman Ibnu Muljam;

يَا ضَرْبَة منْ تَقِيٍّ مَا أَرَادَ بِهَا # إِلاَّ لِيَبْلُغَ مِنْ ذِي العَرْشِ رِضْوَانَا

إِنِّي لأَذْكُرُهُ حِيْناً فَأَحْسِبُهُ # أَوْفَى البَرِيَّةِ عِنْدَ اللهِ مِيْزَانَا

أَكْرم بِقَوْمٍ بُطُوْن الطِّيْرِ قَبْرُهُمُ # لَمْ يَخْلِطُوا دِيْنَهُم بَغْياً وَعُدْوَانَا

“Wahai orang yang menebaskan pedangnya kepada orang yang bertakwa *** Tidaklah ia melakukannya melainkan untuk meraih ridha Sang Penguasa Arsy,

Sungguh aku mengenangnya sebagai orang yang paling berat timbangan kebaikannya di sisi Allah

Betapa mulia sebuah kaum yang perut burung-burung menjadi kuburannya *** Mereka tidak mencampur Agamanya dengan kedengkian dan permusuhan.

Sifat dan sikap radikalnya ini pun dengan bangga diekspresikan di mana-mana. Sehingga, ia harus berkonflik keras dengan banyak orang. Misalnya, ia berkonflik dengan keluarga Sayyidina Ali ibn Abi Thalib dan para pecintanya. Ia juga berkonflik dengan pemerintah Islam yang digawangi oleh Abdul Malik ibn Marwan dan juga Al Hajjaj ibn Yusuf Ast-Tsaqafi. Bahkan, ia pun pernah dipenjara karena kampanyenya itu, lalu dilepaskan. Namun, itu terjadi sampai beberapa kali.

Baca Juga :  Delapan Tips Agar Hafalan Menjadi Kuat

Karena sikapnya yang demikian, Imran pun terlunta-lunta dalam pelarian, berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lainnya. Hingga akhirnya, ia pun meninggal dalam pelarian pada tahun 84 H di daerah yang bernama Raudzsyisyan, sekitar Kufah.

Tidak hanya semasa hidupnya saja yang kontroversial, bahkan sepeninggalnya pun terjadi perdebatan antar Ulama tentang sosok/persona Imran. Misalnya saja, al-Qadhi Husain bin Muhammad as-Syafi’i, ulama di daerah Mazarah, menolak tegas kritikan orang semacam Abu Thayyib At-Thabari dan lainnya terhadap Imran. Karena menurut al-Qadhi Husain bahwa Imran ini sahabat Nabi yang “haram” untuk dilaknat dan dicela-cela.

Imam Tajuddin As-Subuki As-Syafi’i mengkritik pandangan Imran. Menurutnya, pendapat al-Qadhi Husain tersebut itu terlalu berlebihan (ghuluw). Bagaimana mungkin ada orang yang tidak tercela setelah melakukan hal yang sedemikian buruk. Lagian, Imran itu bukan Sahabat. Ia adalah seorang tabi’iy dan menjalani hidupnya dengan berakidah dan berpolapikir khawarij radikal. Banyak juga ulama yang membantahnya, seperti; Imam Bakr ibn Hammad At Tahirti ulama Qairawan Tunisia, Imam Abul Mudzaffar As-Syahristani dalam kitabnya At-Tabshir, As-Sayyid Al-Imyari dalam Diwan Syi’ir-nya, dan lainnya.

Walaupun demikian, uniknya periwayatannya Imran tetap dikutip Imam Al-Bukhari dalam kitabnya Sahih Al-Bukhari dalam Bab Al Libas (Bab tentang Pakaian). Tercatat kalau Yahya ibn Katsir dari Imran ibn Hithan dari Aisyah. Demikian juga, Imam Abu Dawud juga mengambil riwayat Imran ini.

Sedangkan Imam Ad-Daruqutni menentang Al-Bukhari perihal riwayat Imran. Ad-Daruqutni menyatakan;

عمران متروك، لسوء اعتقاده وخبث مذهبه

Imran itu matruk (ditinggalkan jauh-jauh riwayatnya), karenakan Aqidahnya yang sesat dan jeleknya pola fikirnya.

Melihat fakta bahwa riwayat Imran bertengger jelas di Shahih al-Bukhari, kitab yang disimpulkan para ulama sebagai Kitab Tersahih setelah Al-Qur’an (Ashohhu al-Kutub ba’da al-Qur’an), maka ulama generasi berikutnya ramai-ramai “konferensi pers” untuk memberikan penjelasan.

Baca Juga :  Tafsir Mimpi Melihat Api Menurut Islam

Imam Al-Bukhari dan Imam Abu Dawud menerima hadis periwayatan Imran, dari Yahya ibn Katsir dari Imran ibn Khithan dari Aisyah, karena Yahya menerima hadis dari Imran di saat ia sudah bertaubat. Syeikh Al-Mu’aafa dalam kitabnya Tarikh Al-Mausul (Sejarah kota Mosul) mengatakan bhwa Imran itu bertaubat sebelum meninggal. Ini dikuatkan oleh pandangan Syekh Ya’qub ibn Syaibah.

Ada juga yang berpendapat bahwa penerimaan riwayat ‘Imran semacam ini layak untuk dikritisi. Sebab Yahya ibn Katsir mendapatkan hadis dari ‘Imran, di saat ia berada dalam pelarian karena Al Hajjaj memburunya untuk dibunuh.

Lain halnya dengan Al Bukhari, Imam Abu Dawud menerima periwayatan Imran, sebab semua orang tahu bhwa Abu Dawud berprinsip,

بأنّ الخوارج أصحّ أهل الأهواء حديثا

Orang-orang Khawarij lebih bisa dipegang hadisnya, daripada Para pemuja hawa nafsu (Ahlul Ahwa).

Begitu juga, Imam Al-‘Ijlii tegas menyatakan, Imran itu orang Bashrah, generasi Tabi’in dan punya kredibilitas dan kapabilitas dalam periwayatan hadist (tsiqah).

Lalu, Imam Al-‘Uqailiy membantah, dengan menyatakan; “Jangan pedulikan periwayatannya ‘Imran, sebab dia orang khawarij. Lagian, tidak jelas terbukti juga apa benar ia mendengar periwayatan dari Ibunda Aisyah istri Nabi.”

Demikianlah kisah Ulama yang kontroversial saat hidupnya, juga kontroversial sosoknya saat sudah meninggal. Entahlah, Ini sesuatu yang membanggakan ataukah sebaliknya. Tetapi, di sebuah website online Imran ibn Khithan ini digelari Syahid Hurriyati At Ta’bir wa ar-Ra’yi (Sang Pahlawan Kebebasan berekspresi dan berpendapat).

Apakah potret Imran ibn Khithan ada di sekitar atau bahkan di pengalaman hidup anda semua??

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here