Imam An-Nawawi: Ulama yang Karyanya Diterima Semua Kalangan

0
16

BincangSyariah.Com – Nama lengkapnya Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi Ad-Dimasyqi. Nama kunyahnya adalah Abu Zakaria, meskipun demikian bukan berarti ia mempunyai anak bernama Zakaria, karena semasa hidup beliau memang belum pernah menikah sama sekali. Jadi kunyah itu tidak harus selalu dengan nama anaknya, karena terkadang bisa nama anaknya, bisa juga dengan nama lain. Ia dijuluki Abu Zakaria karena namanya adalah Yahya agar ia bisa meniru orang shalih seperti Zakaria dan Yahya.

Imam An-Nawawi lahir pada tahun 651 Hijriyah atau 1233 Masehi di desa Nawa dan juga meninggal di desa kelahirannya pada usia yang tergolong masih muda yakni 45 tahun. Meskipun beliau meninggal pada usia yang relatif masih muda, akan tetapi beliau telah banyak mewariskan khazanah keilmuan Islam dari karya-karyanya. Ini menunjukkan bahwasanya yang menjadi patokan di sisi Allah bukanlah umur, tetapi apakah umur tersebut berkah atau tidak.

Imam an-Nawawi merupakan ulama besar mazhab Syafi’i yang berasal dari Damaskus. Beliau juga merupakan seorang ahli hadis sekaligus ahli fikih.

Imam Nawawi adalah seorang ulama yang sangat produktif. Dikisahkan di masa kecilnya ia sama sekali tidak tertarik bermain bersama teman sebayanya dikarenakan ia sangat sibuk menghabiskan waktu untuk menghafal Al-Qur’an sekaligus menimba ilmu, di masa dewasa pun ia sangat sibuk menghabiskan waktu untuk belajar dalam rangka memperkaya ilmu serta menghasilkan karya tulisan. Bahkan beliau wafat dalam kondisi membujang dikarenakan semasa hidupnya memang beliau lebih mempriotaskan cintanya terhadap ilmu agama ketimbang perempuan.

Kecintaanya terhadap ilmu agama pun membuahkan hasil. Meski beliau hidup hanya 45 tahun, akan tetapi karya-karya beliau tidak pernah habis untuk dikaji. Seakan-akan memang waktu hidup yang beliau habiskan digunakan dalam keberkahan. Begitulah ciri ulama sejati.

Hal ini sesuai dengan sabda Nabi saw,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Dari Ibnu Abbas berkata: bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Ada nikmat yang sering sekali manusia lalai darinya, yaitu nikmat sehat dan nikmat waktu yang lapang” (HR. At-Tirmidzi)

Baca Juga :  Rasulullah dan Ahli Maksiat

Kita mungkin sudah tidak asing lagi dengan istilah barat, yaitu “Time is money”. Di dalam Islam juga dikenal istilah “Al-Waqt atsman min Adz-Dzahab” yang berarti waktu lebih berharga ketimbang emas. Maka orang yang benar-benar paham tentang agama Islam pasti tidak mau menghabiskan waktu dalam kesia-siaan, apalagi menghabiskan waktu untuk bermaksiat.

Imam An-Nawawi menjadi contoh bagi kita semua bahwa waktu ini memang harus kita gunakan sebaik dan seberkah mungkin. Alhasil berkat keberkahan waktu yang beliau habiskan untuk berkarya, akhirnya seluruh masyarakat muslim di seluruh dunia bisa menikmati serta merasakan manfaat dari kitab-kitab karya beliau.

Di Indonesia mungkin kita sudah tidak asing lagi dengan kitab-kitab karya beliau. Hampir semua masjid, pesantren, maupun kampus Islam menyimpan karya-karya beliau untuk menjadi bahan pokok kajian dalam pembelajaran. Selain itu, kitab-kitab karya beliau diterima di semua kalangan kaum muslimin.

Kitab-kitab beliau yang terkenal jumlahnya sekitar empat puluh kitab, yang di antaranya kitab pada bidang hadis, fikih, akidah, akhlak, bahasa, dan lain-lain. Di antara empat puluh kitab karangan beliau, setidaknya terdapat empat yang paling terkenal dan tersebar di berbagai masjid, pesantren, maupun kampus Islam, yakni; kitab Riyadh As-Shalihin, Al-Arba’in An-Nawawiyyah, Al-Adzkar An-Nawawiyyah, dan At-Tibyan fi Adab Hamalah Al-Qur’an.

Berikut penulis akan menjelaskan secara singkat mengenai kitab-kitab tersebut.

Yang pertama, kitab Riyadh As-Shalihin atau tamannya orang-orang shalih. Kitab ini dikaji di seluruh negara Islam, bahkan kitab ini sudah sangat tidak asing lagi di telinga masyarakat muslim di Indonesia. Di Indonesia, kitab Riyadh As-Shalihin ini sudah masyhur menjadi bacaan yang sering dibacakan kepada makmum ketika sebelum atau setelah shalat.

Kitab ini wajar diterima semua kalangan masyarakat muslim karena memang kitab ini memuat poin-poin yang sangat bermanfaat lagi penting untuk dibaca para kaum muslimin, yang di antaranya memuat targhib (motivasi) dan tarhib (ancaman) yang menjadi pedoman kaum muslimin dalam perkara agama, dunia, dan akhiratnya. Selain itu, kitab ini menyertakan ayat-ayat al-Qur’an dan menghimpun hadis-hadis sahih di dalamnya.

Baca Juga :  Sa’ad bin Abi Waqqash: Pemanah Handal yang Menjauhi Pertarungan Politik

Yang kedua, kitab Al-Arba’in An-Nawawiyyah atau kitab empat puluh hadis pilihan yang di susun oleh Imam An-Nawawi. Meskipun kitab ini bernama empat puluh hadis, akan tetapi sebenarnya kitab ini menghimpun empat puluh dua hadis. kitab Al-Arba’in An-Nawawiyyah ini juga sangat tidak asing lagi di telinga para masyarakat muslim di Indonesia, jika di Arab Saudi, kitab ini menjadi bahan pokok hafalan untuk anak usia sekolah dasar, begitu pula di Indonesia, kitab ini menjadi syarat untuk naik kelas bagi para santri yang di ada di pesantren-pesantren di Indonesia. (Baca: Kajian Syarah Hadits Arbain an-Nawawi Bersama Ustadz Ahong)

Ada alasan mengapa kitab ini menjadi bahan belajar sekaligus hafalan pokok bagi para santri di Indonesia, yakni karena kitab ini berisikan hadis-hadis yang menjadi landasan pokok atau pondasi Islam. Selain itu, hadis-hadis dalam kitab ini bersifat Jawami’ Al-Kalim (kalimatnya pendek namun sarat akan makna). Jadi, meskipun kitab ini hanya menyediakan empat puluh dua hadis, akan tetapi kitab ini telah sukses memberikan sekilas gambaran dari inti ajaran Islam.

Yang ketiga, kitab Al-Adzkar An-Nawawiyyah atau kitab zikir-zikir yang di susun oleh Imam An-Nawawi. Sebagaimana nama judul kitabnya, kitab ini memuat hadis-hadis yang berkaitan dengan doa dan zikir. Kitab ini juga menjadi bahan bacaan masyarakat muslim di dunia, juga termasuk Indonesia salah satunya.

Di Indonesia, semua kalangan muslim menggunakan kitab ini sebagai bahan bacaan untuk berdoa dan berzikir. Meskipun demikian, berbeda dengan kitab sebelumnya yakni Riyadh As-Shalihin dan Al-Arbain yang memuat hadis-hadis sahih, maka kitab ini menyertakan beberapa hadis da’if bahkan maudhu’, akan tetapi kitab ini menyertakan keterangan mengenai derajat hadis. Jadi, terserah pembaca untuk mengamalkan atau tidak.

Yang keempat, kitab At-Tibyan fi Adab Hamalah Al-Qur’an atau penjelasan tentang adab mengemban Al-Qur’an. Kitab ini juga sudah tidak asing lagi bagi para santri yang mengkhususkan diri di bidang hafalan Al-Qur’an. Kitab ini membicarakan berbagai hal tentang adab kita ketika menjalin interaksi dengan Al-Qur’an.

Baca Juga :  Mencukur Kumis Model Kumis ala Adolf Hitler atau Charlie Chaplin Dijawab di Buku Ini

Kitab ini juga berisikan mengenai keutamaan-keutamaan membaca, menghafal, mengkaji, dan menghormati Al-Qur’an. Selain itu, kitab ini juga membahas mengenai cara atau panduan belajar dan mengajarkan Al-Qur’an, dan lain sebagainya. Dari kitab ini juga kita dapat memahami bahwa orang yang telah selesai menghafalkan Al-Qur’an disebut Al-Hamil bukan Al-Hafidz, karena Al-Hafidz adalah sebutan bagi seseorang yang telah menghafalkan 10.000 hadis lengkap beserta sanad dan matannya.

Mungkin setidaknya empat kitab itulah yang paling terkenal dan paling sering dibaca masyarakat muslim di seluruh dunia dibanding empat puluh lebih yang lain dari karya Imam An-Nawawi. Hal tersebut wajar, karena memang kitab tersebut cenderung tipis dan tidak berjilid-jilid, langsung to the point. Berbeda dengan kitab-kitab lain karya Imam An-Nawawi yang sangat tebal dan berjilid-jilid, serta memang harus dibaca secara detail penjelasan-penjelasannya.

Setelah kita mengetahui biografi singkat beserta empat kitab yang penulis sebutkan di atas, ada pelajaran penting yang dapat kita ambil bersama. Yakni memang dalam hidup ini kita harus menggunakan waktu sebaik dan seberkah mungkin. Bisa dilihat meskipun Imam An-Nawawi hanya hidup selama 45 tahun, akan tetapi dikarenakan berkahnya waktunya untuk dihabiskan berkarya, akhirnya nama Imam An-Nawawi selalu hidup beserta dengan karya-karya bahkan sampai sekarang ini. Artinya, meskipun jasad Imam An-Nawawi telah mati, akan tetapi nama, karya, beserta amal jariyahnya selalu hidup bahkan sudah lebih dari ratusan tahun hingga sekarang ini.

Kemudian, bagaimana cara supaya karya tulisan bisa diterima di semua kalangan? Jawabnya mungkin simpel namun ini perlu ekstra kerja keras, yakni dengan terus memperkaya, memperluas, serta memperdalam ilmu agama. Karena dengan semakin kaya, luas, serta dalamnya ilmu seseorang, maka hasil karya tulisannya pun menunjukkan kualitas tulisan yang rahmatan lil ‘alamin. Semoga Allah selalu memberikan kebaikan kepada Imam An-Nawawi dan semoga kita semua dapat meneladani beliau. Aamiin ya Rabb Al-Alamiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here