Kisah Imam Malik 49 Tahun Shalat Subuh dengan Wudhu Isya’

0
470

BincangSyariah.Com – Kisah ini terdapat dalam kitab Tartib al-Madarik karya al-Qadhi ‘Iyadh, ulama mazhab Maliki dari wilayah Timur Andalusia dan dikutip oleh mendiang ulama kenamaan Suriah, Syaikh ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah dalam karyanya Shafahat min Shabr al-‘Ulama. Syaikh Abu Ghuddah memasukkan cerita tersebut dalam rangkaian bab perilaku ulama yang menyedikitkan istirahat dan tidur.

Kisah ini adalah tentang Abdurrahman bin Qasim al-‘Utaqi al-Mishri (l. 132 H; w. 191 H), salah seorang murid Imam Malik selain al-Laits. Suatu malam, ia pernah mendatangi Imam Malik. Mereka lalu berdiskusi masalah-masalah agama. Awalnya, dua, tiga, lalu empat dan seterusnya. Ibn Qasim berpandangan kalau Imam Malik enjoy saja diajak berdiskusi sampai tengah malam, dan saya memang biasa mendatangi beliau di jam-jam seperti itu.

Setelah itu, suatu kali saya bersandar di ‘atbah (sejenis lantai di bawah pintu yang menjorok ke bawah seperti tangga). Lalu saya merasa terkantuk dan tidur. Imam Malik rupaya keluar ke Masjid tanpa saya sadari. Kemudian, budaknya yang membangunkan saya. Ia berkata, “Gurumu sudah keluar !, ia tidak lalai seperti kamu ! Hari adalah tepat ia telah empat puluh sembilan tahun yang hampir tidak ditinggalkan shalat subuh dengan wudhu isya’ !” Budak itu mengira Ibn al-Qasim adalah murid Imam Malik, karena ia sering saling beda pendapat.

Tidak hanya Ibn al-Qasim dan Imam Malik, salah satu ciri khas Abu Ghuddah dalam buku ini adalah beliau berhasil mengupayakan mencari contoh sejak masa sahabat sampai ulama belakangan. Contoh lain misalnya pengakuan ‘Ali bin al-Hasan al-Syaqiq tentang kebiasaan Abdullah bin Mubarak (l. 118 H; w. 181 H) yang pernah keluar di malam yang dingin ke masjid. Kemudian, di depan pintu masjid itu mereka saling mengulang-ngulang hafalan hadis mereka. Itu terus dilakukan mereka berdua sampai muazin mengumandangkan azan subuh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here