Imam Bukhari dan Metodologi Kritik dalam Ilmu Hadis

0
211

Judul: Imam Bukhari & Metodologi Kritik dalam Ilmu Hadis
Penulis: H. Ali Musthafa Ya’qub, MA

1890 adalah tahun hiruk pikuk dunia hadis. Betapa tidak, keilmuan hadis yang selama berabad-abad diterima oleh para sarjana keislama tiba-tiba terusik dengan munculnya pretense dari orientalis, seperti Ignaz Goldziher dan Josep Scaht. Ignaz Goldziher (1850-1921) merilis hasil penelitian dengan judul Mohammadanische Studien yang meragukan otentisitas hadis-hadis Nabi saw.

60 tahun setelahnya, tepatnya tahun 1950 Josep Schacht mengikuti langkah Goldziher dengan menerbitkan buku The Origin of Muhammadan Jurisprudence, buku ini tidak hanya sebatas meragukan tapi juga sudah berkesimpulan bahwa hadis-hadis khususnya hadis hukum tidak otentik, argumentasinya adalah hadis adalah hasil karya ulama abad ke2, termasuk di sini adalah hadis-hadis yang terdapat dalam kitab shohih imam Bukhari.

Khusus tentang imam Bukhari, (al-marhum) Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Ya’qub menulis sebuah buku kecil sebagai respon terhadap keraguan orientalis di atas. Ternyata keraguan itu tidak hanya diwakili oleh orientalis tapi juga dari sarjana Muslim.

Selama ini kita mengenal kitab yang paling sohih, kedua setelah al-Qur’an adalah Shohih Bukhari. Apakah demikian? Ternyata keraguan akan kesahihan seluruh hadis dalam shohih bukhari telah disampaikan sejak lama, sebut saja diantaranya al-Daraqutni (w.385H) dan Abu Ali al-Ghassani (w.365H).

Untuk menjawab keraguan di atas, dalam buku ini penulis bercerita biografi imam Bukhari dan bagaimana beliau melakukan analisis terhadap hadis-hadis Nabi saw sampai akhirnya dicantumkan dalam kitabnya.

Tidak hanya sampai di situ, buku ini juga mengulas bagaimana metodologi dan motifasi kritik hadis para sarjana awal dan sarja modern, tentunya dengan ringkas dan padat. Sehingga sangat mudah difahami. Walau singkat, buku ini banyak memberi informasi yang mungkin tidak ditemukan dalam buku-buku bahasa Indonesia lainnya.

Baca Juga :  Gus Dur dan Kemampuannya Mengamalkan Islam Rahmah

Sebagai penutup, Kiai Ali mengatakan bahwa melejitnya pamor kitab Shohih Bukhari satu abad pasca wafatnya beliau, yakni abad ke IV. Faktor utamanya adalah munculnya kritik terhadap beliau. Untuk itu kritik menjadi penting dalam setiap perkembangan ilmu pengetahuan. Sebagai tambahan, abad ketiga sampai lahirnya Ibnu Shalah adalah masa-masa keemasan ilmu hadis.

*Resensi dari el-Bukhari Library [Perpustakaan Instagram Pertama]. “BACALAH DENGAN NAMA TUHAN MU”, Pelayan Rasulullah. www.elbukhariinstitute.org.  instagram; @ebi_lib.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here