Imam As-Suyuthi: Ulama Ensiklopedis yang Hampir Tertuduh Plagiat

1
1667

BincangSyariah.Com – Pada abad delapan-sembilan Hijriyah, umat Islam memang sudah tidak semaju dulu dalam ilmu eksak dan sains. Tapi fenomena ilmu sosial masih berkembang cukup baik di masa-masa ini. Bahkan ahli agama masih aktif mengikuti kajian medis.

Sarjana agama dengan pengetahuan ensiklopedik bermunculan di masa-masa ini. Di antara sarjana-sarjana itu adalah An-Nawiri (w. 733) seorang esais terkemuka yang sering membicarakan sastra dan sejarah, ia adalah pengarang buku Nihayatul Arob fi Fununil Adab yang berjumlah 33 jilid.

Tak lama setelahnya, muncul Kholil bin Aybak Ash-Shafadi, Abul Abbas Al-Qalqasyandi, As-Sakhawi, dan Ibn Khaldun. Semuanya adalah sarjana-sarjana tekun dan menulis karya-karya yang sangat berguna.

Di antara para sarjana yang tekun itu tercatat seorang pemuda yatim bernama As-Suyuthi. Pria itu mengarang sekitar 300-an lebih karangan. Mulai dari paper satu lembar hingga buku primer puluhan jilid. Bahkan salah satu buku hadis terbesar, Al-Jami’ al-Kabir berjumlah dua puluh lima jilid, adalah karyanya.

Sangat tidak berlebihan jika saya katakan bahwa As-Suyuthi adalah manusia paling kutu buku di masa itu. Karyanya berharga bukan hanya karena berbobot, namun karena dia sering menukil karya-karya sarjana yang di masa kini karya itu sudah hilang. Maka karya As-Suyuthi seakan-akan menjadi glosarium bagi karya-karya yang hilang itu. Apalagi As-Suyuthi seringkali menukil huruf per huruf dan tak pernah lupa menisbatkannya pada pengarang aslinya. Tentu hal ini menjadi nilai lebih.

Kediamannya yang dekat dengan Perpustakaan Mahmudiyyah tentu memudahkannya dalam mengakses kitab-kitab yang jarang dimiliki orang lain. Di samping itu, As-Suyuthi sendiri adalah pemuda cerdas. Dia hafal Alquran sejak umur delapan tahun, hafal “dua minhaj”, Alfiyah, dan matan-matan penting lainnya sejak sebelum usia lima belas tahun.

Baca Juga :  Mimpi Gigi Copot dan Maknanya Menurut Ulama

Dari Megalomania sampai Tuduhan Plagiat

Dengan bekal yang dimilikinya, As-Suyuthi cukup pantas untuk disebut megalomania (berlebihan dalam memuji diri sendiri). Dalam At-Tahadduts dia mengaku “diberi rejeki nyegoro dalam tujuh ilmu”, memiliki kemampuan ijtihad, dan mampu menganalisa permasalahan fikih dari dalil asli lalu menyangkalnya sendiri. Dia mengarang biografi ahli nahwu, ahli hadis, dan ahli fikih lalu memasukkan namanya sendiri di antara mereka. Dia bahkan memproklamirkan diri sebagai pembaharu agama di abad 10 Hijriyah.

Hal-hal ini tentu menyinggung cendekiawan di masanya. Di antara cendekiawan yang tersinggung itu adalah teman masa kecil As-Suyuthi, yakni Syamsuddin As-Sakhawi. Mereka berdua sama-sama penghafal hadis dan sama-sama tokoh besar di masanya. As-Sakhawi dalam Adh-Dhaw’ al-Lami’ menulis biografi As-Suyuthi dengan gelap. As-Sakhawi bahkan menyebut As-Suyuthi sebagai orang yang tidak berbakti kepada ibunya dan “mencuri kitab di Perpustakaan Al-Mahmudiyyah lalu menisbatkannya pada dirinya”.

As-Suyuthi tentu tidak tinggal diam. Dia menulis balasan kepada As-Sakhawi dalam maqamatnya yang ia beri judul Al-Kawi fi Tarikh as-Sakhawi. Di kumpulan Maqamat-nya jilid 2 halaman 936 itu dia membantah tuduhan As-Sakhawi dan menyebutnya sebagai “penggosip yang suka makan daging” dan “manusia hina yang keturunannya tidak jelas dan tidak laku dijual meskipun ke pasar loak”. “As-Sakhawi adalah orang,” tulis As-Suyuthi, “yang bahkan tidak bisa membedakan riba dengan jual-beli utang.”

Mengenai tuduhan bahwa As-Suyuthi mencuri buku di Al-Mahmudiyah, As-Suyuthi sendiri membuat bantahan dalam buku khusus bergenre maqamat yang ia beri judul Al-Fariq baina al-Mushannif wa as-Sariq (Perbedaan antara Pengarang dan Pencuri), sebuah buku tentang hak cipta yang jauh lebih dulu ketimbang kesepakatan deklarasi hak cipta modern di Bern.

Baca Juga :  Sejarah Kemunculan Dinasti Bani Umayyah dan Kemundurannya

Dr. Adnan Darwish, ketua arsip di Kementerian Budaya di Syria pernah menemukan naskah risalah As-Suyuthi yg berjudul Al-Bayan fi Riyadhat ash-Shibyan di Perpustakaan Aleppo dan ternyata isinya sama persis dengan salah satu bab Rub’ul Muhlikat (seperempat bagian tentang hal-hal yang membuat dosa) di Ihya’ Ulumuddin. As-Suyuthi hanya menambahkan mukadimah dan khatimah. Nasikh (penyalin) naskah itu sendiri seorang ulama besar bernama Ibn Fahd, sehingga tidak mungkin As-Sakhawi membuat iftira’ (fitnah). Pada akhirnya Adnan Darwish berkesimpulan bahwa tuduhan As-Sakhawi soal plagiasi merupakan bukan sesuatu yang tidak mungkin.

Namun menurut hemat saya, As-Suyuthi sama sekali tidak melakukan plagiasi. Dalam Husnul Muhadharah dia berkata bahwa dia seringkali mencatat pelajaran dari gurunya lalu dia beri judul dan mukaddimah. Jadi bisa jadi buku Al-Bayan itu adalah buah catatannya.

Mengenai permusuhan kedua ulama besar ini sendiri, Asy-Syaukani, salah seorang mujtahid mutlaq, menulis catatan akan hal ini dalam Al-Badru ath-Thali’ jilid satu halaman 232:

“Kesimpulannya caci maki antara keduanya tidak bisa membuat salah satunya tidak bisa dipercaya riwayatnya. Karena ucapan ulama semasa tidak berpengaruh kepada wibawa salah satunya.”

Pada akhirnya As-Suyuthi sendiri adalah tokoh yang cukup kontroversial. Namun di balik itu dia adalah ‘alim mausu’i (sarjana ensiklopedis) yang karyanya masih terus dikaji hingga sekarang. Semoga kita mendapat berkah.

1 KOMENTAR

  1. Jika faktanya demikian, saya malah ragu dengan Jalaludin as Suyuthi, karena kealiman seorang ulama mesti ditimbang juga dengan akhlaknya. Seorang ulama yg baik adalah yang menjaga akhlaknya. Ia rendah hati dan tidak suka membanggakan diri apalagi mengaku ngaku. Karena tabiat seperti ini tidak bisa dimasuki ilmu yg bersih. Wallahu’alam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here