Imam al-Ghazali: Ideolog Negara Suni sekaligus Ulama Pemerintah

0
922

BincangSyariah.Com – Telah disebut dalam artikel sebelumnya bahwa al-Ghazali dalam menulis karya-karyanya banyak sekali ditemukan elemen-elemen pemikiran yang kontradiktif yang saling mengeliminir satu dengan yang lainnya.

Filosof besar dari Andalusia, Ibnu Rusyd, bahkan pernah menyebut elemen-elemen pembentuk pemikiran al-Ghazali yang kontradiktif dan ambivalen ini sebagai Tahafut at-Tahafut. Kita akan membahas lebih lanjut kenapa pemikiran-pemikiran al-Ghazali lebih cenderung inkonsisten daripada konsistensinya?

al-Ghazali merupakan filosof negara dengan segenap makna ideologis yang terkandung dalam kata filosof. al-Ghazali bergabung dengan jajaran pemerintahan yang dipimpin oleh seorang wazir Seljuk bernama Nidzam al-Mulk dari sejak umur dua puluh delapan tahun. Selain dua karya yang masing-masingnya berjudul at-Ta’liq dan al-Manhul, semua karya-karya al-Ghazali ditulis setelah terjun di dunia pemerintahan negara Bani Seljuk.

Musuh terbesar bagi negara Seljuk yang sunni ini ialah Syiah Isma’iliyyah, yaitu, syiah Isma’iliyyah dari Almaut di bawah pimpinan Hasan bin as-Sabbah. Aktifitas politik gerakan Syiah Ismailiyyah ini terfokus kepada penyebaran ajaran mengenai perlunya sosok al-Mu’allim atau al-Imam. Dari sini kemudian terkenallah ideologi yang bernama Ta’limiyyah.

al-Ghazali memiliki banyak karya yang membantah pandangan-pandangan kebatinan Syiah Isma’iliyyah, terutama ajaran ta’limiyyah ini, ajaran yang mengatakan bahwa ilmu pengetahuan tidak akan dapat diperoleh kecuali melalui ajaran dari sang Imam. Karya yang secara spesifik membantah Syiah Isma’iliyyah ialah Fada’ih al-Bathiniyyah.

al-Ghazali sendiri menulis kitab ini karena diminta oleh  khalifah Bani Abbasiyah yang bernama al-Mustadhir billah sehingga nama kitab ini bisa juga disebut sebagai al-Mustadzhiriyyah. Aliran Syiah Ismailiyyah merupakan gerakan agama, filsafat dan politik.

Meruntuhkan pandangan-pandangan politik dan keagamaan Syiah Ismailiyyah berarti menuntut al-Ghazali untuk meruntuhkan basis filsafatnya. Sementara itu, filsafat Syiah Ismailiyyah tidak lain hanyalah neo-platonisme dalam wajah ketimurannya yang banyak juga bercampur dengan ajaran Hermes.

Baca Juga :  Pengajian Ihya Gus Ulil: Ulama Pihak yang Paling Banyak Dikritik

Sampai di sini kita dapat melihat bahwa tujuan al-Ghazali meruntuhkan basis-basis filsafat dengan sendirinya dapat ditafsirkan sebagai usahanya untuk meruntuhkan bangunan politik dan agama Syiah Isma’iliyyah.

Dengan kata-kata lain, Tahafut al-Falasifah juga bisa dinilai sebagai bentuk usaha yang sistematis untuk menjelaskan Fada’ih al-Bathiniyyah. Kitab Tahafut ditulis sekedar untuk meruntuhkan filsafat Syiah Isma’iliyyah.

Sementara itu, di sisi lain, ajaran ta’limiyyah yang disebarkan oleh Syiah Isma’iliyyah sebagai ajaran yang mengatakan bahwa pengetahuan hanya dapat diperoleh melalui ajaran sang Imam tidak akan mungkin dapat diruntuhkan visi ideologisnya kecuali dengan menawarkan penggantinya, logika.

Logika merupakan proses pencarian pengetahuan  yang hanya dapat dicapai melalui nalar dan pikiran sedangkan ta’limiyyah merupakan proses pencarian pengetahuan yang hanya dapat diperoleh dari ajaran sang Imam.

Usaha al-Ghazali untuk mengadopsi logika Aristoteles sebagai satu-satunya metode untuk mencapai pengetahuan bukan sekedar untuk logika itu sendiri melainkan untuk melawan dan menangkis ajaran ta’limiyyah yang irasional yang saat itu gerakannya makin meluas.

Selain itu logika juga digunakan oleh al-Ghazali untuk menyelamatkan ilmu kalam Asy’ariyyah dari ambang kehancuran yang disebabkan oleh kontradiksi fondasi-fondasi nalar pasca ditelurkannya konsep ahwal.

Menyelamatkan ilmu kalam Asy’ariyyah artinya membangun kembali akidah negara Seljuk-Abbasiyah untuk melawan satu musuh: Syiah Ismailiyyah.

Lalu bagaimana dengan tasawwuf? Tasawwuf merupakan asas ideologi dan asas organisasi bagi eksistensi negara Seljuk. Karena itu berangkat dari sini, sikap al-Ghazali mengenai tasawwuf sangat dimaklumi. Tidak berhenti sampai di situ, al-Ghazali memahami secara jelas bahwa aspek spiritual yang ada dalam praktik tasawwuf Syiah tidak mungkin dapat digantikan dengan logika.

Sebagai gantinya, al-Ghazali menguliti dan melepaskan baju tasawwuf kebatinan ini dari warna politik Syiah Ismailiyyah dan Syiah Imamiyyah. Setelah dilepas dari baju politiknya, tasawwuf kemudian diperkenalkan di dunia islam melalui jalurnya yang resmi, jalur fikih sehingga disebutlah sebagai tasawwuf sunni.

Baca Juga :  Mi'yar al-'Ilm Karya Imam al-Ghazali

Sampai di sini, membangun ilmu tasawwuf, menyerang dan menghantam filsafat dan mengadopsi logika merupakan elemen-elemen yang kontradiktif dalam pemikiran al-Ghazali. Tentu jika yang dilihat ialah pemikiran abstrak, ketiga elemen ini mencerminkan ambivalensi dan kontradiksi al-Ghazali. Sedangkan jika dilihat dari aspek politik dan ideologi politiknya, ketiga elemen di atas merupakan senjata untuk melawan satu musuh: Syiah Isma’iliyyah.

Pertanyaanya, bagaimana kita bisa membedakan dan memisah antara pemikiran al-Ghazali yang bersifat abstrak dan pemikirannya yang bernuansa politik-ideologis.

Simpulnya, masa lalu kebudayaan Islam berikut dengan pertarungan politik dan ideologis di masanya masih menguasai dan mendominasi pemikiran Arab-Islam saat ini, paling tidak dengan kehadiran al-Ghazali pada pemikiran ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here