Imam Al-Ghazali: Hidayah dan Taqwa adalah Buah Ilmu

0
49

BincangSyariah.Com — Imam al-Ghazali menulis kitab berjudul Bidâyah al-Hidâyah yang jika dalam bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai awal tumbuhnya hidayah.

Secara umum, kitab tersebut berisi etika atau adab sehari-hari dalam kehidupan seorang Muslim, dimulai sejak bangun tidur sampai tidur kembali.

Dalam muqaddimah kitab tersebut, Imam al-Ghazali menyatakan bahwa hidâyah adalah tsamrah al-‘ilm yakni buah dari ilmu.

Dalam kata lain, hidayah tidak akan tercapai tanpa landasan ilmu. Hal lain yang disampaikan dalam kitab ini adalah bahwa niat mencari ilmu mesti berlandaskan niat, demi meraih hidayah Allah Swt.

Dalam pembukaan Bidâyah al-Hidâyah, Imam al-Ghazali menulis sebagai berikut:

“Sesungguhnya hidayah—yang merupakan buah dari ilmu—mempunyai pangkal (bidâyah) dan ujung (nihâyah), yang tampak (zhâhir) dan yang tersembunyi (bâthin). Tidak mungkin sampai ke ujungnya sebelum memantapkan pangkalnya. Tidak akan mengerti bâthin-nya sebelum menyaksikan (musyâhadah) terhadap zhâhir-nya.”

(Baca: Biografi Imam al-Ghazali (450-505 H/1057-1111 M): Ulama Multidisipliner Kelahiran Iran)

Ilmu Menuntun Manusia Menjemput Hidayah

Imam al-Ghazali menyatakan:

“Ketahuilah, manusia dalam mencari ilmu berada dalam tiga keadaan.

Pertama, orang yang mencari ilmu sebagai bekal kembali kepada Allah Swt., tidak menghendaki selain ridhaNya dan (kebahagiaan) negeri akhirat, maka inilah orang yang beruntung.

Kedua, orang yang mencari ilmu untuk membantu kehidupannya yang sesaat (pragmatis), demi memperoleh kemuliaan, pangkat, dan harta;

Padahal dia mengerti dan menyadari dalam hatinya akan kerapuhan posisinya dan kerendahan tujuannya yang seperti itu; maka ia termasuk orang yang berada dalam bahaya besar.

Jika ajalnya menjemput sebelum sempat bertaubat, dikhawatirkan ia terjerumus dalam sû’ al- khâtimah.

Urusan dirinya pun berada di tepi jurang, tergantung kehendak Allah Swt. (apabila dia mau akan diampuni, jika tidak maka akan disiksa).

Jika seorang manusia mendapat taufiq untuk bertaubat sebelum tibanya ajal, kemudian menyandarkan kepada ilmunya itu amal, sekaligus berusaha mendapatkan apa yang pernah dilewatkannya, maka ia akan menyusul kelompok orang-orang yang beruntung diatas.

Sesungguhnya orang yang bertaubat dari dosa sama halnya dengan orang yang tidak berdosa.

Ketiga, orang yang dikendalikan oleh setan sehingga menjadikan ilmunya sebagai sarana untuk menumpuk harta, mengejar pangkat, berbangga diri dengan banyaknya pengikut;

(Di mana) ia memanfaatkan ilmunya untuk memasuki segala celah demi meraih dunia dan semua keinginannya;

Padahal dia merasa dirinya di sisi Allah Swr. mempunyai kedudukan mulia, karena ia mengenakan simbol-simbol para ulama’, memakai “uniform” kebesaran mereka, baik dalam berpakaian maupun berbicara; disertai kegesitan untuk meraup keuntungan duniawi, maka ia adalah orang yang akan binasa.

Ia orang dungu yang tertipu, terputus harapan darinya untuk bertaubat sebab ia menyangka dirinya termasuk orang-orang yang berbuat baik (muhsin).”

Golongan ketiga yang disebutkan Imam al-Ghazali adalah para ulamâ’ al-su’, yakni orang-orang yang keberadaannya lebih dikhawatirkan oleh Rasulullah saw. dibanding Dajjal sekalipun.

Mereka adalah orang-orang pintar yang hanya berkepentingan untuk menyesatkan manusia.

Kepentingan memalingkan mereka kepada harta dan kenikmatan duniawi, baik dengan perkataan atau perbuatan.

Dengan perbuatan dan sepak-terjangnya, mereka menyeru kepada dunia, padahal “lisân al-hâl afshah min lisân al-maqâl”. Perbuatan berbicara lebih fasih dibanding perkataan.

Menurut Imam al-Ghazali, merekalah penyebab semakin beraninya orang-orang awam untuk berpaling kepada dunia.

Sebab, orang awam tidak akan berani mengharapkan dunia kecuali para ulamanya telah berbuat demikian terlebih dahulu.

Mestinya ilmu membuat seorang manusia menjadi taqwa dan mejemput hidayah, bukan malah membuatnya menjadi sombong.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here