Imam Al-Ghazali Dibegal

0
812

BincangSyariah.Com – Dari Thus, Imam Al-Gazali menuju Jurjan dan belajar kepada sejumlah ulama di kota tersebut. Meskipun masih sangat belia tetapi beliau sudah tekun belajar. Ia rajin mencatat keterangan yang disampaikan para gurunya. Catatan-catatan itu kemudian beliau jilid menjadi sebuah buku. Karena memiliki buku catatan, Imam Ghazali tidak menghafal ilmunya.

Suatu hari dalam sebuah perjalanan menuju kota kelahirannya, rombongan beliau dihadang oleh sekawanan perampok. Mereka merampok segalanya. Segala perlengkapan beliau, termasuk buku catatan tersebut juga diambil. Dengan berani, Imam Ghazali mengejar kawanan perampok itu. Merasa dibuntuti, pimpinan perampok itu berpaling dan berkata, “Celakalah kau, kembalilah atau kubunuh kau.”

Imam Ghazali tak gentar. Beliau berkata kepadanya, “Dengan kebesaran Allah yang kepada-Nya kau memohon keselamatan, tolong kembalikan bukuku. Ia tidak bermanfaat bagi kalian.”

“Buku apa?” tanya pimpinan perampok itu.

“Sebuah buku di dalam tas kecil itu. Aku telah melakukan perjalanan jauh untuk mendengarkan petuah para ulama dan kemudian semua keterangan kucatat dalam buku itu,” jawab Imam Ghazali.
Pimpinan perampok itu tertawa terbahak-bahak kemudian berkata, “Sekarang kau tidak mengetahui apa-apa. Bukumu bersama kami. Kau tidak memiliki ilmu lagi.”

Kemudian ia perintahkan anak buahnya untuk menyerahkan buku itu kepada Imam Ghazali. Imam Ghazali menyadari bahwa Allahlah yang menuntun pimpinan perampok tersebut untuk berbicara seperti itu.

Setibanya di Thus, Imam Ghazali berjuang menghafal semua catatannya. Dalam waktu tiga tahun, beliau berhasil menghafalnya. Setelah itu tidak ada lagi perampok yang dapat merampas ilmunya.
Imam Ghazali gemar merantau ke berbagai kota untuk menuntut ilmu hingga menjadi ulama besar yang berjiwa mulia. Akhirnya pada hari Senin 505 H, dalam usia 55 tahun, Imam Ghazali berpulang ke rahmatullah.

Baca Juga :  Tiga Tips Agar Hati Selalu Ikhlas

Kakak beliau, Ahmad, berkata, “Pada subuh hari Senin, adikku berwudu menunaikan salat. Setelah itu, ia berkata, “Ambilkan aku kain kafan.” Setelah menciumi kain kafan itu dan meletakkannya di atas kedua matanya, ia berkata, “Aku siap meghadap Allah yang Maha Memiliki.” Ia lalu menjulurkan kedua kakinya, berbaring menghadap kiblat, dan meninggalkan dunia yang fana ini menuju keridaan Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga Allah menempatkan beliau di surga yang paling tinggi, bersama para Nabi, syuhada, dan orang-orang saleh.[]

[Tulisan ini disadur dari buku Lawaamii’ al-Hikmah ‘Pendar-pendar Kebijaksanaan’]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here