Imam Abu Hanifah Membela Perempuan

0
1233

BincangSyariah.Com – Imam Abu Hanifah (w. 150 H), adalah pendiri mazhab fikih ahl ra’yi (rasional). Namanya sangat dikenal luas khususnya di Bagdad, Irak, sebagai ahli fikih paling terkemuka. Imam al-Syafi’i mengatakan, “Barangsiapa ingin memperdalam fikih, maka hendaklah menjadi keluarga (pengikut) Abu Hanifah.” Ahmad bin Hanbal bilang, “Aku belum pernah melihat sosok cerdas dan rendah hati seperti dia.” Imam Malik mengatakan, “Demi Allah, jika Abu Hanifah berpendapat bahwa sebuah alat terbuat dari emas, maka pasti dia pasti sanggup mempertengahkan kebenaran atas perkataannya itu.” Di samping sebagai ulama besar, beliau juga seorang pedagang kain yang sukses.

Satu hal yang menarik adalah bahwa Abu Hanifah juga ulama yang kritis terhadap pemerintah. Ia hidup dalam masa Dinasti Abbasiyah awal. Abu Jafar Abdullah bin Muhammad al-Mansur (712-775 M), khalifah ke dua Dinasti Bani Abbasiyah, menaruh hormat kepadanya. Khalifah acap mengundangnya ke istana untuk meminta nasihat atau tausiyah. Manakala dia pulang, khalifah sering memberinya hadiah-hadiah yang berharga. Meski demikian Imam Abu Hanifah selalu menolak dengan sejumlah alasan yang cukup dapat dipahami.

Suatu hari, hubungan khalifah dengan istrinya terganggu. Hampir setiap hari mereka bertengkar, bahkan untuk hal-hal yang sepele. Ini gara-gara khalifah ingin menikahi perempuan lain (poligami). Untuk menghentikan konflik rumah tangga itu, sang istri meminta agar ada orang lain menengahi kasus ini dan menyelesaikannya. Sang suami menyambut baik usulan ini. Tetapi siapakah yang layak atau bisa menjadi mediator dalam urusan ini? Abu Ja’far al-Manshur mencoba menanyakan hal ini kepada istrinya, “Kira-kira siapa yang kamu minta untuk menengahi persoalan di antara kita ini. Apakah kamu mempunyai usul?” “Abu Hanifah,” jawab istrinya tanpa berpikir panjang. Ia sudah lama mengenalnya.

Baca Juga :  Mohamed Salah Serukan Perlakuan Lebih Baik kepada Kaum Perempuan

Khalifah al-Manshur menyetujui saran istrinya. Ia juga sangat mengenal sang imam sebagai seorang ulama besar yang cerdas dan bijak bestari. Ia seorang yang saleh dan rendah hati. Khalifah segera mengundang sangi imam ke istananya, tanpa menyebutkan keperluannya. Imam Abu Hanifah pun memenuhi undangannya. Ia sangat mengerti pemimpin haruslah dihormati dan ditaati. Undangan pemimpin, siapa pun ia, tak pantas ditolak.

Manakala sang imam tiba di istana, ia disambut dengan penuh penghormatan. Khalifah sangat paham, Abu Hanifah adalah ulama besar dengan pengikut setia yang sangat besar yang tersebar di berbagai provinsi dalam kekuasaannya. Setelah sedikit pembicaraan basa-basi, hormat menghormati, minum-minum sekedarnya, mereka kemudian terlibat dalam dialog yang cukup serius. Mereka hanya bertiga: khalifah, istrinya, dan Imam Abu Hanifah. Tak ada yang lain. Ini perbincangan privat yang sangat eksklusif.

Khalifah al-Manshur memulai pembicaraannya, “Wahai imam, aku ingin engkau menjawab pertanyaanku yang penting ini: ada seorang perempuan merdeka sedang mengganggu pikiran dan tugas-tugasku. Aku mohon Anda bisa menjadi juru damai dalam urusan ini.”

Sang imam mendengarkan dengan saksama dan berharap khalifah melanjutkan masalahnya. Ia mengerti apa yang dimaksud “perempuan yang mengganggu pikirannya”. Ya, khalifah sedang jatuh cinta kepada perempuan lain selain istrinya. Ia berharap sang imam bisa memberikan jalan keluar bagi kegelisahan hatinya.

Khalifah melanjutkan, “Berapakah batas seorang laki-laki berhak menikahi perempuan dalam satu waktu?”

“Empat,” jawab Abu Hanifah.

“Berapa banyak dia boleh menikahi budak perempuan?”

“Terserah, berapa saja dia mau.”

“Apakah seorang muslim boleh menentang pandangan Anda ini?”

“Tidak,” tegas Abu Hanifah.

Mendengar jawaban tegas ini, wajah khalifah tampak sumringah. Dia merasa diri memperoleh dukungan dari sang imam untuk mengambil istri baru di samping istrinya. Khalifah segera mengatakan kepada sang istri yang duduk di sampingnya, “Kamu sudah mendengar, bukan, apa yang dikatakan Imam Abu Hanifah tadi?”

Baca Juga :  Perempuan-perempuan di Dalam Al-Qur'an (I)

Belum sempat sang istri menjawab, Abu Hanifah segera melanjutkan, “Ya, benar demikian aturannya, paduka khalifah. Akan tetapi, hal itu hanya dibolehkan bagi orang yang bisa berlaku adil. Jika tidak, maka dia hanya boleh hanya memiliki satu saja. Tuhan sudah mengatakan, ”Jika kamu khawatir tidak bisa berbuat adil, maka satu saja.” Seyogyanya kita mengikuti etika Tuhan dan mengambil pengetahuan dari kata-kata-Nya.”

Khalifah kini diam, membisu seribu basa, lama sekali. Wajahnya tak lagi ceria. Sementara wajah sang istri berbinar-binar.
Sesudah menyampaikan semuanya, dan tak ada lagi pertanyaan dari khalifah, sang imam segera minta pamit, pulang.

Manakala dia telah sampai di rumahnya, istri al-Manshur mengutus seseorang untuk menemui Imam Abu Hanifah sambil membawakan sejumlah hadiah: uang, pakaian bagus, pembantu perempuan, dan kendaraan (khimar). Abu Hanifah menolak semuanya sambil menitipkan salam kepadanya. Kepada utusan tersebut dia mengatakan, “Aku membela agamaku dan aku melakukannya hanya karena Allah. Aku tidak menghendakinya karena ingin dekat dengan dia dan bukan juga karena kepentingan duniawi.”[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here